Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Di Semenanjung Do’a

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 30, 2012

Setetes kelembutan hangatnya sentuhan Ilahi.
Menaungi perjalanan perjuangan ini.
Tak ayal nafsu memandang rendah arti goresan karya Sang Pencipta.
Di kerendahan hati jiwa menyadari bahwa alam serasi atas kuasa kehendak aturan-Nya.

o0OoOhh jiwa kerdil pemuja nafsu.
Ingat langkahmu tak akan menjadi sejarah pembaharu bumi.
Dimana kesombongan diri menjadi tirani keingkaran akan goresan pena kehidupan.
Namun jiwa-jiwa yang tenang selalu membawa kesejukan.
Menatap indahnya alunan melodi kehidupan.

Ya Allah…
Inilah detik-detik terakhir kini tiba saatnya.
Untuk kembali berjuang diatas hamparan gurun nan gersang.
Tatkala cobaan dan ujian menjadi batu lompatan menapaki tangga kemuliaan.
Hanya tumpukan kertas sejarah yang selalu menjadi andaian fikiran.
Terpatri menjadi muhasabah diri membangun keyakinan.

Ya Ro0b…
Disela nafas ku ini…
Kuatkanlah azam ini dalam rangka mencari keridlaan-Mu.Aamiin.
Hanya harap dan keyakinan yang tersisa dilubuk hati.
Yang selalu menjadi penguat hati.

Ya Allah…
Hamba-Mu lemah tak berdaya.
Memohon inayah dan maghfiroh dari sisi-Mu.
Kuatkan dan bimbinglah langkah ini agar selalu ada dalam keridlaan-Mu.Amiin.

-Muhasabatunnafs-

Bojongsari,15 Mei 2012

Iklan

Posted in Munajat | 1 Comment »

Fenomena Akhwat Facebook-ers

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Januari 15, 2011

 

Suatu hari saat chatting YM, saat aku belum memiliki akun FB..

”Ada FB ga?”

”Ga ada. Adanya blog multiply. perempuanlangitbiru.multiply.com..”

Tak berapa lama kemudian.

”Kok foto di MPmu (multiply, red), anak kecil semuanya siih? Fotomu mana?”, tanya seorang akhwat yang baru dikenal dari forum radiopengajian.com.

”Itu semua foto keponakanku yang lucu..”, jawabku.

Suatu hari di pertemuan bulanan arisan keluarga..

“De’ kok di FBmu ga ada fotomu siih?” tanya kakak sepupu yang baru aja ngeadd FB-ku.

“Hehe.. Ntar banyak fansnya..” jawabku singkat sambil nyengir.

Suatu siang di pertemuan pekanan..

“Kak, foto yang aku tag di FB diremove ya? Kenapa kak?” tanya seorang adik yang hanya berbeda setahun dibawahku..

“He..” jawabku sambil senyum nyengir yang agak maksa.

Suatu malam di rumah seorang murid.

”FBmu apa? Saya add ya..” tanya bapak dari muridku.

Setelah add FBku sang bapak bertanya, ”Kok ga ada fotonya siih?”

Aku hanya bisa ber-hehe-ria.

Dari beberapa kejadian itu, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa yang pertama kali dilihat orang ketika meng-add FB seseorang adalah fotonya. Entahlah apa alasannya, mungkin memang ingin tahu bagaimana wajah sang pemilik akun FB, padahal kan yang di add biasanya yang sudah dikenal. Lantas jika memang sang empunya akun tidak memajang foto dirinya di FB, langsung deh jadi bahan pertanyaan, bahkan untuk seorang akhwat sekalipun.

Jika ditilik-tilik, fenomena foto akhwat yang bertebaran di dunia maya nampaknya sudah bukan barang asing lagi. Kita dengan mudah menemuinya termasuk di FB. FB yang merupakan suatu situs jejaring sosial begitu berdampak besar bagi pergaulan masyarakat dunia, pun termasuk pergaulan di dunia ikhwan akhwat.

Maraknya foto akhwat yang bertebaran di FB, membuat LDK (Lembaga Da’wah Kampus) suatu kampus ternama harus membuat peraturan yaitu tidak memperbolehkan akhwat aktivis da’wah kampus memajang foto dirinya di FB. Tentu saja banyak reaksi yang muncul dari peraturan dan kebijakan itu, mulai dari yang taat menerima dengan lapang dada sampai ada juga yang mem’bandel’. Namun apalah arti sebuah peraturan jika memang kita tidak mengetahui fungsi dan tujuannya dengan benar, dapat dipastikan peraturan hanya untuk dilanggar jika ditegakkan tanpa kepahaman.

***

Di suatu pertemuan para akhwat aktivis da’wah kampus..

”Ayolaaah, foto bareng..” rayuku sebagai fotografer ketika terheran-heran melihat seorang akhwat yang tidak mau ikut foto, menjauhi kumpulan akhwat yang siap-siap berpose.

Selidik punya selidik ternyata akhwat tersebut kapok untuk difoto karena fotonya beredar di FB padahal dia ga punya FB. Fotonya bisa beredar di FB karena teman-teman satu jurusan mengunduh foto momen bersama di FB yang tentu saja ada dirinya di dalam foto itu. Padahal saat itu, aku belum punya FB (hanya memiliki blog di multiply) dan tidak terbersit sedikit pun berniat untuk mempublish foto itu di dunia maya, yaaa hanya untuk disimpan di folder pribadiku. Foto kebersamaan dengan para saudari seperjuangan yang bisa membangkitkan semangat di saat-saat tak bersemangat, hanya dengan melihatnya.

Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata benar bahwa orang-orang termasuk akhwat sudah terbiasa berkata, ”Nanti jangan lupa di upload n di tag in di FB ya..” setelah melakukan foto bersama.

Benar saja! Di suatu kesempatan berselancar di dunia maya, di saat aku akhirnya memutuskan membuat akun FB, melihat-lihat, berkunjung ke FB para akhwat, dan ternyata benar saja foto-foto akhwat dengan mudah dilihat para pengguna FB yang telah menjadi temannya. Aku yang memiliki kepribadian idealis-pemimpi agak terkejut juga melihat hal itu, secara baru terjun di dunia perFBan.

Terkejut karena kecantikan para akhwat dengan mudah dinikmati oleh orang lain. Aku agak bingung juga harus bagaimana melihat fenomena akhwat facebook-ers. Ada kekhawatiran apakah terlalu idealisnya pikiranku yang mungkin sebenarnya mengunduh foto sudah menjadi hal yang biasa saja di kalangan para akhwat. Itulah realita yang ada. Entah apa yang melatarbelakangi para akhwat akhirnya mengunduh foto pribadinya atau bersama rekan-rekannya di FB.

Hingga akhirnya pada suatu hari, terjadilah sebuah percakapan:

”Kenapa siih yang dilarang majang foto itu cuma akhwat? Kenapa ikhwan juga ga dilarang?? Bukannya sama aja ya? Sama-sama bakalan dinikmati kecantikan atau kegantengannya kan?” tanyaku bertubi-tubi kepada seorang saudari yang sepemikiran denganku tentang fenomena foto akhwat di FB.

”Ya beda-lah.. Coba kita liat para cewek yang ngefans sama artis-artis cowok Korea, mereka cuma ngeliat cowok Korea itu sekadar suka-suka yang berlebihan.. Udaaaah, hanya sebatas suka ngeliat. Tapi kalo cowok yang ngeliat foto cewek, itu beda. Kamu tau kan kalo daya lihat para cowok itu berbeda? Ada pemikiran-pemikiran tertentu dari para cowok ketika melihat seorang cewek bahkan hanya sekadar foto.”

Hmm.. yayaya.. Memang aku pernah mendengar bahwa daya lihat seorang laki-laki itu 3 dimensi. Laki-laki bisa membayangkan dan memikirkan hal-hal yang abstrak diluar dari yang dia lihat. Bahkan katanya lagi, seorang laki-laki bisa saja memikirkan seorang perempuan tanpa berbusana hanya karena melihat seorang perempuan yang berbusana mini berlalu di hadapannya. Namun kebenaran itu belum bisa kubuktikan karena aku hanyalah seorang perempuan biasa bukan seorang laki-laki.

Pantas saja Allah memerintahkan kita untuk menahan pandangan, seperti dalam firman-NYA:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. . . . .” (QS. An-Nuur [24] : 30-31)

Ayat ini turun saat Nabi Shalallahu a’laihi wassalam pernah memalingkan muka anak pamannya, al-Fadhl bin Abbas, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita Khats’amiyah pada waktu haji. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau Shalallahu a’laihi wassalam menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”

Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa yang diperintahkan untuk menahan pandangan bukan saja laki-laki namun juga perempuan. Untuk itu, sudah seharusnya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak seharusnya kita pandang.

Lalu apa hubungannya dengan pemajangan foto di dunia maya?

Jika dulu kasus menjaga pandangan hanya karena bertemu dan bertatap langsung, namun saat ini sudah lebih canggih lagi, tanpa bertemu dan bertatap pun, godaan menahan pandangan itu tetap ada. Ya! Bisa jadi dengan banyaknya bertebaran foto akhwat di dunia maya, itulah godaan terbesar. Buat para ikhwan, harus mampu menahan pandangan di saat berselancar di dunia maya, di saat-saat kesendirian berada di depan layar komputer ataupun laptop. Kondisikan hati terpaut dengan Allah saat-saat kesendirian, jangan sampai kita menikmati foto akhwat yang bertebaran di dunia maya. Buat para akhwat, yang memang merupakan godaan terbesar bagi para ikhwan, akankah kita terus menciptakan peluang untuk membuat para ikhwan ter’paksa’ memandangi foto-foto pribadi kita?

***

Kejadian demi kejadian yang kutemukan di dunia maya begitu banyak menyadarkanku akan pentingnya seorang akhwat menjaga dirinya untuk tidak mudah mengupload foto dirinya di dunia maya.

Beberapa hari belakangan ini, ketika sedang mencari desain kebaya wisuda untuk muslimah berjilbab di mesin pencari google, diri ini dipertemukan dengan sebuah blog yang bernama ‘jilbab lovers’. Pecinta jilbab. Ya! Sesuai namanya, di blog itu berisi hampir semuanya adalah foto-foto muslimah berjilbab dengan berbagai pose. Di antara beberapa foto muslimah berjilbab itu, aku temukan 3 komentar yang mengomentari foto seorang gadis, aku akui gadis dalam foto itu sungguh cantik, memenuhi kriteria wanita cantik yang biasanya dikatakan sebagian besar orang. Beginilah kurang lebih komentar 3 orang laki-laki pada foto gadis itu dengan sedikit perubahan:

”Itu baru namanya gadis .. cantik nan islami.. sempuuuuurnaaaa… salam kenal..”

”Subhanallah ada juga makhluk Allah seperti ini ya..”

”Subhanallah..”

Jika kita lihat ke-3 komentar diatas, bisa dilihat bahwa komentarnya begitu islami dengan kata-kata Subhanallah namun juga menyiratkan bahwa sang komentator begitu menikmati kecantikan sang gadis di dalam foto. Hal ini menandakan bahwa siapapun yang melihat foto itu memang pada akhirnya akan menikmati kecantikan sang gadis berjilbab. Allahurobbi, akankah kita -para akhwat- rela jika kecantikan diri kita dapat dengan bebas dinikmati oleh orang lain yang belum halal bagi kita bahkan belum kita kenal?

Mungkin akan ada sebagian dari kita -para akhwat- yang akan menepisnya, ”Aaahh,, itu kan foto close up. Kalo foto bareng-bareng ya gpp donk?”

Hmm.. ada satu lagi yang kutemukan di dunia maya mengenai foto muslimah berjilbab. Pernah suatu hari, ketika diri ini mencari gambar kartun akhwat untuk sebuah publikasi acara LDF (Lembaga Da’wah Fakultas) di mbah google, kutemukan foto muslimah berjilbab yang sudah diedit sedemikian rupa hingga menjadi sebuah gambar porno. Memang gambar itu tidak kutemukan langsung diawal-awal halaman pencarian google, tapi berada di halaman kesekian puluh dari hasil pencarian keyword yang aku masukkan. Terlihat foto wajah sang muslimah begitu kecil (kuduga dicrop dari sebuah foto) dan dibagian bawah wajah sang muslimah berjilbab diedit dengan dipasangkan foto/gambar sesuatu yang seharusnya tidak diperlihatkan. Naudzubillahimindzalik..

Bagaimana perasaan kita jika seandainya melihat foto diri kita sendiri yang sudah diedit menjadi gambar porno dan dinikmati oleh orang banyak di dunia maya? Atau bagaimana perasaan kita jika ada kerabat dekat yang melihat foto kita yang sudah diedit sedemikian rupa menjadi gambar porno?

Semoga saja hal ini tidak menimpa diri kita. Ya Rabb,, bantu kami –para akhwat- untuk menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil teladan dari kejadian di bawah ini…

Suatu ketika, diri ini menemukan blog (multiply, red) seorang ustadz. Dalam blog itu, terlihat foto sang ustadz bersama ketiga anaknya yang masih kecil, tanpa terlihat ada istrinya. Di bawah foto itu diberi keterangan, ”mohon maaf tidak menampilkan foto istri saya..”

Dari situ aku ambil kesimpulan bahwa sang ustadz sepertinya memang tidak ingin menampilkan foto sang istri. Bisa jadi karena begitu besar cintanya terhadap sang istri, maka tak boleh ada yang menikmati kecantikan sang istri selain dirinya, begitu dijaga sekali kemuliaan istrinya. Ya Rabb, semoga kami -para akhwat- bisa menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kejadian di bawah ini…

Baru saja kemarin, di perkampungan multiply, MP, ada berita bahwa ada seorang ikhwan yang tiba-tiba minta ta’aruf dengan seorang akhwat padahal belum kenal sang akhwat dan hanya melihat foto sang akhwat di FB. Huufffhh.. ada-ada aja..

Jika diliat dari akar masalahnya mungkin berasal dari foto sang akhwat di FB, bukan begitu?

Jadi, apa yang akan kita –para akhwat- lakukan setelah ini?

***

Tulisan ini dipublish terutama ditujukan pada diri sendiri sebagai seorang akhwat serta untuk saling mengingatkan para facebookers yang lain. Semoga kita bisa menjaga kemuliaan diri kita sebagai seorang akhwat ketika berada di dunia maya.

”Kejahatan itu bukan hanya sekadar berasal dari niat seseorang untuk berbuat jahat tapi karena ada kesempatan. Waspadalah.. Waspadalah..”

Semangat bermanfaat!

Jadikan dunia maya sebagai ladang amal kita

###

Penulis bernama LhinBlue, seorang staf di biro PPSDM (Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Muslim) SALAM UI, yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Kimia FMIPA UI

Mahasiswi Kimia FMIPA UI 2006

[www.eramuslim.com}

Ke link aslinya silahkan klik disini

Posted in Telaah | 1 Comment »

Cinta Rasa Al-Azhar

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 12, 2010

Oleh: Muhammad Zakaria Darlin
Mahasiswa Bahasa Arab Jurusan Umum tingkat 2
Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Malam ini sebagian temanku sudah merebahkan badan mereka dengan lelapnya di pembaringan yang empuk dan nyaman, selimut tebal meliputi badan mereka memberikan kehangatan jasmani semalam. Malam yang dingin, udara yang tenang hampa membuat mereka tertidur pulas, nyaman sekali. Namun mataku susah terpejam saat ini, tiba-tiba pikiranku melayang, mataku melirik keyboard. Aku ambil keyboard itu, dan jari-jariku pun mulai menari-nari di atas lembaran Microsoft Word 2003 di notebook ku yang sangat mini ini.

Saat ini aku ingin menuliskan sebuah cerita cinta. Cinta yang membuat seluruh pemuda dan pemudi mabuk kepayang. Cinta yang katanya mampu merubah dunia menjadi surga. Cinta yang membuat orang jelek menjadi cantik atau ganteng. Cinta yang membawa pada kebahagiaan. Atau malah cinta yang malah bisa membutakan hati. Apa itu defenisi cinta? Kenapa harus ada cinta? Dan seperti apakah gambaran cinta-cinta yang tumbuh di Al-Azhar ? Walaupun tidak begitu formal, tulisan ini kucoba buat semenarik mungkin untuk menghilangkan rasa penasaran terhadap cintanya seorang azhariy di Mesir.

Bicara masalah cinta, konon katanya hal ini “tabu” jika dibicarakan secara eksplisit oleh seorang azhariy. Maklumlah seorang ahli syari’ah, tahu tentang seluk beluk agama, mengerti Alqur’an, maupun hapal ratusan hadist, sangat aneh jika ada diantara mereka yang “berpacaran”, walaupun itu jarak jauh. Bukan apa-apa, kondisi seorang ahli agama itu memang rentan untuk dijadikan takaran maju atau mundurnya sebuah kaum. Apabila pemuka agamanya berjalan sesuai aturan dan norma agama, niscaya jama’ah pun akan setia kepada perintah sang imam yang memang patut untuk dicontoh. Tapi ini hanya berlaku untuk sebagian azhariy saja, sedangkan untuk sebagian yang lain biarkan sajalah mereka berkembang “seperti yang mereka mau”.

Cinta yang tumbuh di Al-azhar barangkali sudah sangat sering diekspos, bahkan dijadikan akomoditi perfilman di tanah air. Tapi itu semua palsu, bohong-bohongan alias fiktif belaka. Tujuannya pun bisa berbagai macam. Tapi cinta yang ada di Mesir ini memang tidak jauh dari gambaran yang ada di film-film tersebut. Cuma saja tidak terlalu dibeberkan hingga menjadi penarik minat masyarakat Indonesia untuk berdatangan secara bergerombol ke Mesir.

Kembali ke cinta, barangkali cinta itu semacam aib yang bisa meruntuhkan image di sini. Namun pada dasarnya cinta tidak bisa dihalangi oleh apapun. Karena mencintai itu fitrah manusia, dan bukan bagian dari dosa. Mencintai seseorang dengan tulus ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, bukanlah sebuah kesalahan. Ketika di mahattoh sedang menanti bus 80 coret barangkali anda akan menemukan seorang muslimah berdiri di seberang jalan. Mata anda sebagai seorang lelaki tentunya menarik-narik agar sekali dua kali berkesempatan melihat seperti apa paras hawa yang sedang di hadapan anda itu. Siapa tahu dia jadi istri anda? Tidak ada yang tahu. Atau barangkali, di saat anda sedang asyik bercengkerama dengan Alqur’an di dalam bus, tiba-tiba seorang muslimah duduk di samping anda terlebih lagi dia adalah orang Indonesia, mungkin saja seketika itu hafalan anda akan jadi buyar. Atau saja di saat anda sedang membeli buku di maktabah, dan seringkali berpapasan dengan muslimah-muslimah yang “siapa tahu” lagi jadi istri anda kelak. Boleh jadi juga ketika anda sedang talaqqi, ada seseorang yang menarik di belakang dan mata anda menarik seperti magnet untuk melengok ke belakang walau sekejap. Atau bahkan mungkin saja, ada muslimah mengetuk flat anda, meminta tolong ini dan itu. Satu dari seribu satu kemungkinan itu “mungkin saja” akan jadi awal cerita cinta seorang azhariy di Mesir ini.

Dalam Islam, cinta itu tidak dilarang. Bahkan Khadijah pun dulu jatuh cita dengan Rasulullah, sampai-sampai beliaulah yang mengajak Rasulullah untuk menikah lebih dahulu.  Cinta yang benar, harus dibawa pada jalan yang benar. Tidaklah sebuah aib bagi wanita untuk mengungkapkan perasaannya pada lelaki terlebih dahulu, namun norma adat dan kebiasaan lah yang mengeksekusinya sebagai sebuah dosa. Memang benar, malu adalah sebagian dari iman, namun malu untuk mengungkapkan perasaan adalah malu yang tidak beralasan yang malah justru bisa menjerumuskan seorang muslimah pada kebinasaan hati di akhirnya. Maka berikanlah setiap sesuatu itu porsi dan takarannya yang pas, perhatikan situasi dan keadaan, apakah ada tanggapan dan respon positif atau sebaliknya. Hingga akhirnya tidak menyisakan penyesalan, dan dapat menarik sebuah kesimpulan.

Sementara kaum adam, kebanyakan malu untuk melamar karena merasa tidak sanggup untuk menafkahi atau takut dan gengsi jika ditolak. Namun hal ini justru hasil khayalan pra nikah yang diumbar sedemikian rupa hingga berkesan di pikiran para ikhwan. Justru dengan menikah, akan terbuka kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih banyak, karena Allah tidak akan sia-sia dengan ikatan dua insan yang sudah didoakan ribuan malaikat. Toh, tidak pernah kita dengar ada orang mati setelah menikah dua bulan karena tidak makan. Kecuali memang hal ini dijadikan kebutuhan sekunder bagi pribadi masing-masing, Sementara itu, alasan takut ditolak dalam keadaan butuh, dan gengsi dalam keadaan butuh, sama sekali tidak dapat diterima, apapun alasannya.

Sementara itu mata saya sudah mulai mengantuk, jam sudah menunjukkan pukul 01.16 dini hari. Besok harus bangun subuh penuh dengan cinta dan pengharapan. Inti dari coretan di atas, cinta itu adalah hal yang sacral dan suci. Membicarakan cinta pun harus dengan harapan yang suci dan diikat dengan ibadah yang sacral.  Orang yang berhak untuk dicintai adalah orang yang benar-benar mau dijadikan pendamping anda kelak. Harus ada sebuah kepastian diantara dua insan yang sedang dimabuk cinta untuk membuat sebuah ikatan yang sah di mata Tuhan. Maka jauhilah gaya bercinta manusia awam yang seringkali mencontohkan cinta yang dangkal dan salah kaprah. Mereka mencintai seseorang tanpa tujuan. Mereka mencintai seseorang hanya sebagai hiburan sesaat. Pernikahan adalah babak yang terlalu berat bagi mereka. Hingga mereka takut untuk memulai dengan yang namanya “lamaran”. Alasannya bisa bermacam rupa sesuai rupa si pencinta. Atau kalau anda berani, mintalah dijodohkan dengan orang tua anda kemudian mulailah “mencintai orang yang ada nikahi”.

Posted in Catatan Harian | Leave a Comment »

Ilmu yang Membumi; Sebuah Observasi Keilmuan Masisir

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 11, 2010

Oleh: Muhammad Rakhmat Alam
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Sudah setahun kedatangan ku di negara yang merupakan kiblat ilmu keislaman. Berbagai corak dan spectrum keilmuan telah kulihat dan ada yang ku selami. Beberapa kajian masisir telah ku singgahi, sekian dars talaqqi pun telah ku geluti, muhadharah local juga sering ku masuki dan semua itu menimbulkan sebuah pemikiran dalam kepalaku bahwa ada sesuatu dengan corak keilmuan masisir???

Sebelumnya ini hanya sebuah pemikiran ku bukan pemikiran anda atau siapa-siapa. Di awal-awal penelitian, aku sedikit terkejut dengan jumlah masisir yang mencapai 3.000 lebih tapi bisa dikatakan hanya berkisar seratus orang lebih bahkan kurang dari seratus orang yang mendatangi kuliah di kampus tiap harinya. Pada kemana ribuan umat masisir ketika jadwal kuliah di universitas islam tertua dan tekemuka di dunia ini??? Batin dan kepala ku seiya bertanya. Apakah sibuk organisasi, kerja, main, tidur aku tak tahu. Dan yang paling membuat ku terkejut adalah banyak masisir yang mendapat nilai tinggi ketika ujian walau yang rosib pun tak kalah banyaknya. Subhanallah, tak pernah kuliah tapi ujian najah.

Itu baru mendatangi kampus al-azhar, belum lagi mendatangi talaqqi-talaqqi di mesjid al-azhar dan di tempat lainnya. Kurang dari 50 orang masisir yang aktif ikut talaqqi. Padahal dosen di kampus adalah tokoh intelektual al-azhar yang telah melewati jenjang akademis sampai doctoral tidak ada satu pun dosen universitas al-azhar yang baru master, semua adalah doctor bahkan banyak yang professor dan penulis aktif. Begitu juga pengajar talaqqi adalah ulama-ulama terkemuka al-azhar yang tak dikeragui lagi kapasitas keilmuan mereka. Aku kembali bertanya, apa yang terjadi dalam dinamika keilmuan masisir??? Apakah pakar-pakar fikih, ushul, tafsir, aqidah dan hadits di Indonesia yang tamatan universitas al-azhar termasuk 100 orang yang aktif kuliah dan 50 orang yang aktif talaqqi??? Atau mereka dahulunya termasuk orang yang hanya belajar sendiri berkumpul dan membuat sebuah kelompok kajian sesama teman atau seniornya??? Kalau begitu betapa cerdasnya masisir ini dan betapa hebatnya masisir yang mampu belajar lewat buku literature arab sendirian atau sesama teman tanpa guru walau dengan alat yaitu bahasa arab yang pas-pasan.

Kajian masisir vs muhadharah kampus dan talaqqi al-azhar

Seakan-akan ada kiblat keilmuan lain yang ada di cairo, mesir selain universitas al-azhar dan talaqqi oleh para ulama al-azhar. Masisir ingin menandingi keorisinalan dan keagungan keilmuan di al-azhar. Seolah menghadiri kuliah dan talaqqi hanyalah mempersempit dan membuang waktu karena dapat belajar sendiri di rumah atau membuat kelompok kajian antar mereka dan dapat membuat akal lebih kritis dan cemerlang dari sekedar hadir muhadharah dan talaqqi yang hanya mendengarkan dan sedikit bertanya bahkan mematikan akal.

Apa alasan mereka yang jarang atau tidak kuliah dan talaqqi bersama ulama azhar???

Ada yang mengatakan karena jarak rumah dengan kampus dan tempat talaqqi begitu jauh sehingga menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang. Bahkan ada yang berkata dengan gamblang bahwa keilmuan di talaqqi dan di al-azhar tidak membuat orang cerdas, kuno dan hanya membuang-buang waktu. Na’udzubillah, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu. Sudahkah mereka menggeluti kuliah dan talaqqi azhar dengan serius dan berkesinambungan??? Dan kenapa mereka tidak kuliah di universitas selain al-azhar???

Banyak kealfaan masisir dalam memahami literature arab

Tak dapat di pungkiri, banyak masisir yang lemah kemampuannya dalam mehamami literature arab bahkan orang arab sekalipun. Masisir tidak bias melulu belajar sendiri, membaca literature arab sendiri tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Bahkan masisir yang sedang proses doctoral pun banyak yang bertanya kepada para doctor al-azhar dalam membuat disertasinya, begitu juga yang sedang mengambil program master, mereka baru terasa akan pentingnya hadir muhadharah, mereka juga akan baru sadar akan kekurangan mereka dalam memahami literature arab dan mereka juga baru tau akan kedigdayaan ulama dan intelek-intelek azhar yang sungguh memukau pikiran kita serta betapa kuat asas keilmuan mereka. Karena al-azhar mengajarkan suatu ilmu tidak dengan instan, tapi berjenjang dan bertangga. Semua keilmuan di al-azhar memiliki pondasi keilmuan yang kuat dan kokoh. Baru bergerak dan maju kearah-arah ilmu yang lebih spesifik dan lebih detail yang sangat menguras energy otak. Di universitas al-azhar penjurusan lebih spesifik dan spesialisasi baru ada ketika akan masasuki post graduate. Berbeda dengan universitas di Indonesia, di strata 1 sudah memiliki jurusan tersendiri. Yang ingin membuat seorang imuwan dengan cara instan. Begitu juga Dalam proses mengajar dan belajar mahasiswa lebih aktif dari dosen dan membuat suatu proses menuntut imu lebih instan.

Sarjana al-azhar dan sarjana dari universitas islam di Indonesia dan lainnya

Kita pun bisa melihat, lulusan doctoral al-azhar dengan lulusan doctoral universitas islam di Indonesia dalam cara berfikir mereka dan cara mereka menyikapi problematika dunia islam. Para doctor alumnus universitas Indonesia akan terlihat lebih instan dalam menjawab masalah yang ada, bahkan kadang bingung untuk menjawab sehingga berfatwa dengan cara serampangan. Berbeda dengan ulama dan alumnus al-azhar yang benar-benar mengikuti manhaj azhari, dalam menjawab persoalan dunia islam mereka lebih di terima secara ilmiah dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah juga. Sarjana al-azhar dan alumnus al-azhar banyak menjadi tokoh ulama internasional dan tokoh besar dalam dunia islam. Perkataan mereka menjadi rujukan, karya mereka menjadi bahan referensi bagi seluruh universitas islam dunia, bahkan musuh al-azhar sendiri pun meminjam dan memakai intelektual dari al-azhar.

Ilmu hasil kajian dan hasil kuliah serta talaqqi

Terlepas dari manakah yang paling urgen dari mengikuti kajian intensif dan kuliah juga talaqqi, semuanya merupakan sumber untuk mendapatkan ilmu dan bermanfaat. Tapi yang perlu di tekankan di sini adalah sejauh mana hasil kajian dan kuliah dan talaqqi membentuk malakah keilmuan masisir?? Apakah keilmuan mereka membumi atau mengawang di atas awan?? Sudahkah mereka mengikuti manhaj azhari?? Mampukah mereka menjadi penerus-penerus syeikh yusuf alq-ardhawy, wahbah zuhaily, ramadhan al-bouty, ‘ali jum’ah, sya’rawy, Muhammad rasyid ridha, Muhammad abduh, quraish shihab,Mustafa ya’qub, dan alumnus al-azhar lainnya yang mampu menjadi pakar di bidang ilmu yang digelutinya. Mampukah mereka memberikan kemajuan dalam dunia islam dan pemikiran islam tanpa melenceng dan bertindak serampangan???

Dan kalau boleh jujur, kebanyakan kajian yang diadakan masisir mempermasalahkan hal-hal yang cabang, bukan subtansial, sehingga keilmuan hasil kajian mengawang. Berbeda dengan aktif dan serius dengan kuliah dan talaqqi, keilmuan yang didapatkan disini sangat fundamental dan membumi. Sehingga untuk permasalahan cabang daru suatu ilmu dapat di cerna dengan matang tidak mengawang. Dan sungguh, mengikuti kajian saja pun juga membuang-buang waktu dan umur. Karena tujuan belajar adalah membentuk suatu pola pikir ilmiah yang benar dan tersusun secara rapi. Bagaimana pola pikir ilmiah tersusun dengan rapi dan benar jika masalah-masalah yang fundamental dan asas seorang masih bingung dan ngambang.

Jadi, sebaiknya sebelum mengikuti kajian intensif perkokoh dahulu dasar dari suatu ilmu. Jangan sibuk ke sesuatu yang furu’ tapi mulai dari ushul. Agar malakah keilmuan dapat terbentuk dengan rapi, benar dan matang. Setelah itu baru dikembangkan dan di prektekkan melewati kelompok kajian agar kajian tetap membumi dan tidak mengambang dan mengawang. Wallahu a’lam.

 

Posted in Telaah | 2 Comments »

Puasa Rajab

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Juni 27, 2010

Oleh:Faza Abdu Robbih
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Allahumma baarik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa balligna Ramadhon wa hassil maqosidana

Bulan Rajab telah membuka tabirnya, persiapan diripun semakin kencang untuk menyongsong bulan Suci Ramadhan, hal inipun tersirat dari do’a Rasulullah SAW sebagaimana termaktub di atas. Tak heran banyak ibadah yang dilakukan karenanya, salah satunya adalah Puasa.

Memang Tidak ada hadis shahih yang menerangkan keutamaan puasa Rajab secara khusus, tapi banyak hadis yang menganjurkan puasa secara umum, tidak hanya mengkhususkan bulan Rajab.

Bulan Rajab adalah bulan Haram (bulan yang diharamkan untuk berperang), dan pada bulan Haram itulah kita disunahan berpuasa, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Al Bahili bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah Engkau di bulan  Haram.” (HR Abu Daud).

Nabi Muhammad Saw, memang mensunahkan puasa tiga hari pada setiap bulan Hiriyah (ayyamul bidh), bahkan beliaupun pernah mensunahkan untuk berpuasa secara mutlak. Maka kesunahan puasa Rajab bisa didasarkan pada keumuman hadis-hadis tersebut.

Memang tidak ada Nash sahih yang secara khusus menerangkan keutamaan puasa di awal, tengah atau hari-hari lainnya pada bulan ini.Sekalipun ada beberapa nash yang menerangkan keutamaan puasa Rajab,  hadis itupun dengan derajat dhoif. Seperti hadis  shahabat Anas ra,

“Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai yang disebut Rajab, airnya lebih jernih dari susu, lebih manis dari madu, maka siapa saja yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, Allah akan memberinya minum dari sungai itu.”.

Hadits lain yang diriwatkan Ibnu Abbas,

“Siapa saja yang berpuasa sehari pada bulan Rajab maka ia seperti puasa satu bulan, siapa saja yang puasa tujuh hari maka ia akan ditutup dari tujuh pintu neraka, siapa saja yang puasa delapan hari maka ia akan dibukakan pintu-pintu surga, dan siapa saja puasa sepuluh hari maka keburukannya akan diganti oleh kebaikan-kebaikan.”

hadis inipun dhoif sebagaimna yang diterangkan Imam Suyuthi dalam kitabnya Al Hawi lil Fatwa.

Memang tidak ada larangan Puasa Rajab sebulan penuh ditambah dengan puasa Sya’ban dan disempurnakan dengan puasa Ramadhan menjadi tiga bulan penuh,. Sekalipun ada beberapa Ulama yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah bid’ah karena hal tersebut tidak pernah terjadi pada masa salaf, oleh karena itu maka yang lebih utama adalah berpuasa sesuai dengan kemampuan saja tanpa adanya suatu kewajiban baik karena nadzar atau yang lainnya sehingga tidak terjerumus pada perbuatan yang dilarang. Wallahu a’lam.

Posted in Ramadhan | Leave a Comment »

KH Irfan Hielmy Tutup Usia

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 20, 2010

Radar Tasikmalaya, Rabu, 19 Mei 2010 04:34 administrator

CIAMIS – Ulama kharismatik, KH Irfan Hielmy, tutup usia, kemarin sekitar pukul 06.10. Berita duka menyebar ke seluruh daerah di Jawa Barat. Ribuan pelayat, baik tokoh ulama, masyarakat, santri dan pejabat memadati kompleks Pesantren Darussalam. Mereka memanjatkan doa kepada ulama yang dikenal bijak itu.

Beberapa di antaranya Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan dan teman dekat almarhum, pengasuh Ponpes Al Hasan, Ciamis, KH Sarif Hidayat.

KH Sarif mengenang almarhum sebagai ulama kharismatik yang memiliki sifat bijaksana. Sifat itu sejajar dengan empat ulama besar di Jawa Barat. Yakni KH Ilyas Ruhiyat (pengasuh Ponpes Cipasung), KH Anwar Musadad (Garut), Totoh Al Fatah (pengurus Ponpes Cileunyi, Bandung) dan Abdullah Abas.

Selain itu, lanjut KH Sarif, KH Irfan Hielmy juga dikenal sebagai pribadi yang santun, intelek dan tawadu (rendah diri). “Beliau juga sangat ramah dan bisa bergaul dengan siapapun. Mulai pejabat tinggi hingga masyarakat biasa,” ujar KH Sarif dalam pidato pemakaman jenazah almarhum di kompleks Ponpes Darussalam, kemarin.

Dengan sifat terbuka kepada siapapun, lanjut KH Sarif, almarhum menjadi panutan semua orang. Karenanya, setelah wafat, ribuan pelayat ikut menghantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

KH Sarif mengungkapkan, ia menjadi sahabat almarhum sejak 30 tahun silam. Dia dan almarhum selalu menjalin hubungan baik. “Kami juga selalu diberikan petuah-petuahnya yang bermanfaat,” ucapnya.

Lanjut dia, semasa hidupnya, KH Irfan Hielmy pernah menjadi anggota MPR RI pada tahun 1997. Juga ketua MUI Kabupaten Ciamis hingga wafat. Almarhum juga mengabdikan sisa hidupnya di dunia pendidikan keagamaan.

“Kami masih ingat menjelang satu hari wafat, beliau amanat kepada saya agar jangan tinggalkan mengajar santri. Beliau juga menyarankan agar mengajarkan santri kitab kuning dan materi-materi yang bermanfaat,” jelasnya.

KH Irfan Hielmy wafat di rumahnya, komplek Pesantren Darusalam, Cijeungjing, Ciamis. Sesepuh Ponpes Darussalam ini meninggal karena penyakit komplikasi.

Sebelumnya, pria kelahiran Ciamis, 25 Desember 1931 itu dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung selama beberapa hari. Perawatan dilanjutkan di rumahnya Kompleks Ponpes Darussalam hingga tutup usia.

Almarhum meninggalkan satu istri, Siti Masitoh, tiga putra dan tiga putri, 13 cucu serta tiga cicit. Para putra dan putrinya yakni Hj Eulis (putri pertama), H Padlil Munawar, Hj Hani Hapani, H Fadlil Yuni, Hj Ema Kurnia dan yang terakhir, H Dasep Padlil.

Putra kedua almarhum, Padlil Munawar menyatakan, dia menerima amanat dari almarhum untuk mengelola Ponpes Darussalam. Karenanya, Padlil disarankan pindah tugas dosen dari UGM, Jogjakarta ke Jawa Barat. Agar pengelolaan pesantren lebih optimal.

”Mengingat selama ini kami menjadi ketua Program Studi di UGM. Insya Allah untuk mengoptimalkan pengawasan di Darusalam kami putuskan untuk bisa bertugas di Jawa Barat,” jelasnya saat menyampaikan pidato pelepasan atas nama keluarga almarhum.

Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan menyatakan akan menuruti amanat almarhum. Gubernur akan mengusahakan pemindahan tugas Padlil ke Jawa Barat.

“Kami akan berikan kesempatan kepada putra beliau yang bisa meneruskan cita-citanya agar bisa meneruskan Ponpes Darussalam,” jelas Heryawan. (der) (Radar Tasikmalaya)

Posted in Catatan Harian | Leave a Comment »

Dilematis; Antara Memilih Studi dan Menikah

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 6, 2010

Oleh: Alnofiandri Dinar, Lc.

Pada sebuah majlis, beberapa orang berkawan saling curhat sesama mereka. Ada yang curhat menyampaikan keluh kesahnya, bahwa selama ini ia selalu dihujani pertanyaan, “kapan dunsanak akan menikah?” Teman yang lain beda lagi curhatnya, “bagaimana menurut dunsanak, setelah menamatkan kuliah di Al Azhar, apakah sebaiknya saya langsung melanjutkan studi pascasarjana di Mesir, mungkin di Al Azhar atau Universitas lainnya? Kalau memang ingin melanjutkan studi pascasarjana di Mesir ini –terutama bagi akhawat-, apa mesti menikah terlebih dahulu?”
Tema curhatan mereka cendrung sama. Tersirat ada kekhawatiran dan secercah kegamangan untuk menapaki sebuah masa depan.

Bagi saya pribadi, tema ini menarik untuk diperbincang. Melalui sedikit goresan ini, saya akan mencoba untuk sharing dengan sahabat milist dalam mencerna masalah ini. Di kala membaca tulisan ini, barangkali akan terbersit di fikiran dunsanak bahwa sharing berikut hanyalah senjata dan alasan klise para bujang yang takut menikah! Namun saya yakin, pembaca budiman akan mampu membedakan antara sebuah mutiara dan sebutir pasir. Saya percaya dunsanak akan mampu memilah seperti mengalirnya susu dari perut binatang yang mengalir diantara darah dan kotorannya! Hemat saya, orang-orang berakal tidak akan mungkin menjatuhkan posisinya di bawah binatang, seperti gambaran Allah pada QS: Al A`raf: 179. Manusia ketika mematikan akalnya, maka ia lebih buruk dari binatang!

Cerdas merencanakan!
Ketika diajukan pertanyaan seperti curhatan diatas, saya akan menjawab dengan sebuah ungkapan, seorang tokoh: “Ketika ada keleluasaan untuk memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Serahkan pilihan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Berkehendak dan Yang Maha Memiliki pilihan”. Urang awak juga sering mengungkapkan “Usah takuik jo ombak gadang. Indak sado ombak gadang nan ka mangguluang”. Tidak ada yang perlu ditakutkan, apalagai untuk sebuah masa depan. Seperti yang diungkapkan di dalam kitab Hikam;
“Rehatkanlah jiwa anda dari perencanaan masa datang, apapun yang dilakukan oleh orang lain untuk anda, tetap saja bukan anda yang melakukannya untuk diri anda!”
Renungkanlah ungkap syair berikut:
“Tidak ada satupun yang terjadi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Buanglah segala kegundahanmu dan campakkanlah! Tinggalkan semua hal yang menyibukkanmu dan rehatkanlah dirimu!”
Karena memang tidak ada yang tahu apa yang mesti dilakukan oleh seseorang pada esok harinya (Rujuk QS: Luqman: 34). Toh esok hari belum pasti datang atau kita yang tidak sempat mendapatinya! Tapi merencanakan sebuah masa depan gemilang adalah tipe orang-orang berakal yang patut diacungkan jempol. Karena seorang manusia tidak akan mendapati sesuatu, kecuali sesuai dengan pengorbanannya! Seorang muslim yang berprestasi seyogyanya memiliki jadwal harian dan agenda kehidupan yang terukur untuk mewujudkan visi dan misi matang. Sederhananya, seperti Fahri, di dalam novel AAC nya Kang Abik.

Bijak melihat realita!
Pelbagai pertanyaan dan kekhawatiran di masa datang tidak usah ditakutkan, tapi perlu difikirkan dan direncanakan. Kecerdasan seseorang dalam `merencanakan` adalah bagian dari keberhasilannya dalam mengarungi kehidupan. Ketika telah berani berencana, berupayalah semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Meskipun segala sesuatu yang akan kita lakukan sudah diketahui oleh Allah di zaman azali, namun kita tidak pernah tahu apa yang akan kita lalui dalam hidup ini! Semuanya telah ada dalam qadha dan qadar Allah terhadap manusia seluruhnya. Ketika si janin didatangi oleh sang malaikat di dalam rahim, janinpun sudah berkomunikasi dan berjanji dengan utusan RabbNya. Agenda kehidupan yang dihadapi selama di dunia dan akhir dari penghidupannya di dunia sudah dijelaskan (lihat: hadits `Arbain no: 4 dan rujuk juga dalam kajian akidah tentang sifat qudrah Allah, af`al ibad, dan bab qadha dan qadar)

Ketika lahir ke dunia manusia memulai kehidupannya sebagai dar al ibtila`, menjalani serentetan ujian sebagai sunnatullah sebelum kembali keharibaanNya di suatu hari kelak. Selama di dunia manusia dibekali akal dan wahyu, agar hidup memiliki panduan yang jelas dan menggiringnya menuju Allah. Seorang yang cerdas pasti akan menggunakan akalnya dan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menapaki kehidupan yang tak lama ini. Ia tunduk kepada ketaatan dan menaklukkan hawa yang menguasai diri. Baginya, kehidupan hanya ibarat sebuah persinggahan seorang musafir di sebuah perjalanan panjangnya! Tabiat sebuah persinggahan tentu saja sebentar, tidak bisa lama. Hidup kita di dunia ini ibarat sebuah titipan. Dan tabiat sebuah titipan adalah mesti dikembalikan, ketika pemiliknya menginginkan titipan tersebut! Tentu saja mereka mesti mencari bekal sebanyak-banyaknya. Namun perlu dipahami bahwa banyak amal bukan jaminan untuk kebahagiaan dan husnul khatimah. Karena kebahagiaan ada pada ridha Allah. Tiket surga bukan pada banyaknya amal, tapi ridha Allah!

Jangan gegabah, tapi fikirkanlah dengan matang!
Wujud kecerdasan merencanakan adalah cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dan tidak mudah tergesa-gesa serta tidak berfikir kekanak-kanakan saat memutuskan sebuah perkara. Seperti yang sering diungkapkan oleh urang awak `dek arok hujan di hulu, aia di embe alah dibuang duluan`. Ketika kesempatan ada, jangan sampai disia-siakan! Tangkaplah setiap kesempatan yang ada dan bermain cantiklah menggunakan kesempatan tersebut! Ketika ada peluang untuk melanjutkan studi pascarsajana, manfaatkanlah terlebih dahulu. Jangan sampai buang kesempatan ini, karena mengharapkan iming-iming fatamorgana nun jauh disana dan belum tentu terjadi.

Kepada mereka yang memiliki himmah seperti himmah para raja, jangan pernah mudah takluk karena kata si fulan dan sindiran si fulan! Jangan pernah berhenti, sampai himmah dunsanak terwujud! Kata sebagian urang awak: “Bialah urang maju kasadonyo, asal awak tetap di muko!” Jangan dihantui oleh bayang-bayang kegagalan dalam perjalanan studi dan membuat dunsanak kalah sebelum berjuang. Orang-orang yang mengetahui nilai sebuah pencariannya, maka akan ringan saja semua rintangan yang ada di depan matanya! Begitu juga ketika ada kesempatan untuk mengkhitbah atau dikhitbah oleh orang lain, jangan gegabah untuk menerima dan menolak! Fikirkanlah secara matang. Bermusyawarah dan berdiskusilah dengan orang-orang yang baik. Duduak basamo taraso lapang, duduak surang malah taraso sampik. Kadukan semuanya kepada Allah melalui istikharah di penghujung malam yang pekat, di kala fajar sudah mulai mengintip dengan kedatangan Subuh!

Pertimbangkanlah!
Belajar dan menikah keduanya adalah bentuk ibadah kepada Allah. Tidak akan saling bertentangan. Keduanya bisa diselaraskan oleh orang-orang yang cerdas. Tidak ada salahnya menikah di saat berstatus mahasiswa. Namun karena dunsanak bukan seorang manusia super, ada baiknya dunsanak renungi beberapa mutiara hikmah –terutama oleh para rijal- yang menginginkan ilmu. Ringkasnya tabiat dan sunnah ilmu sulit untuk dimadu! Karena ilmu adalah mutiara paling berharga yang ada di dunia ini. Untuk mendapatkannya tentu saja tidak mudah! Saya harap dunsanak tidak melihat ilmu dari kulit-kulitnya saja, karena dunsanak akan sangat mudah menganggap enteng sebuah ilmu dan berkata sesuka dunsanak. Jangan bayangkan bahwa mendapatkan ilmu itu cukup dengan mentelaah lembaran-lembaran kertas yang bisu dengan bantuan kamus!

Kata sebagian orang:
“Orang-orang yang tidak pernah menghadapi pelbagai penderitaan, tidak akan pernah meraih dambaannya!”

Tidak heran bila sebagian ulama mengatakan:
“Betapa sedikit sekali para pelajar yang menikah saat belajar, karena ilmunya akan terkapar diantara paha-paha kaum hawa, sementara ilmu jikalau tidak engkau persembahkan seluruh dirimu, maka ilmu tidak akan menyentuhmu meskipun secuilnya!”

Adalah sangat wajar bila ada yang mengatakan:
“Ilmu sangat tinggi maqamnya, pencariaan yang sangat melelahkan, sangat sulit untuk diikat, tidak bisa didapati melalui mimpi dan tidak diwariskan dari orangtua dan para paman. Ilmu itu adalah tanaman yang sedang ditanam di dalam diri dan disirami dengan cara belajar. Dibutuhkan pengorbanan penuntutnya dengan pelbagai kelelahan dan harus siap bergadang. Apakah mereka mengira, orang-orang yang siang harinya sibuk dengan mengumpulkan harta dan malam harinya sibuk dengan istrinya, akan menjadi seorang faqih? Tidak akan perah terjadi, betapa jauhnya jarak antara barat dan timur! Akan tetapi mesti meluruskan niat, membenarkan bisikan bashirah, mengalahkan hawa nafsu, berkorban mengejar himmah yang mulia, berani mengarungi setiap negeri untuk mendatangi para ahlinya, selalu harap untuk mendapatnya dan meraih keutamaannya. Buatlah perutmu lapar, merantau dan tinggalkanlah negerimu, tinggalkanlah banyak obrolan, dan jangan mudah bosan saat mengulang dan menghafal pelajaran…

Senada dengan itu, Imam Suyuthi di awal kitab al Asybah Wa al Nazhair, mengutipkan:
“Demi hidupku, sesungguhnya ilmu ini tidak akan didapatkan dengan “berangan-angan”, tidak akan diperoleh dengan pelbagai statement, “nanti ajalah”, “semoga saja”, “andai aku”,…dan juga tidak akan dicapai kecuali dengan menyingsingkan lengan baju, peras keringat, berpisah dengan sanak-keluarga, menahan syahwat, menyeberangi lautan, menembus angin badai, kontinue bolak-balik dari satu pintu ke pintu (rumah ulama/guru/dosen) di malam yang gelap, menghadiri majlis orang-orang besar, dan memacu kendaraan untuk memburu setiap hikmah yang berseliweran.”

Sebagian lain berkomentar:
“Jikalau anda ingin sukses dalam belajar, batasilah relasi anda dan minimalisirlah rintangan yang menghadang!”

Lebih ekstrem dari ini, ada yang berkomentar:
Seorang penuntut ilmu bahkan memilih untuk tidak berziarah dan tidak diziarahi.

Sebelum memutuskan menikah, ada baiknya bila dunsanak memilih belajar terlebih dahulu!
Selalu seorang yang berprestasi di kampung masing-masing, tentu tidak wajar, bila;
1. Merasa yakin dengan tersedianya waktu di masa datang, dan menunda belajar saat ini.
Hari ini yang dihabiskan untuk belajar mengajar akan jauh lebih baik daripada hari esok. Telur hari ini tetap jauh lebih baik dari ayam hari esok. Belajarlah sekarang juga, sebelum dunsanak menjadi tokoh besar! Seorang manusia semakin hari semakin tua, maka akan semakin banyak pula tanggungjawab dan beban hidupnya. Akan semakin banyak hal yang akan membuat konsentrasinya beralih, karena banyak hal yang perlu dipikirkan dan dilakukannya. Tidak lagi hanya belajar dan pokus dengan ilmu yang digelutinya saban hari. Sudah sangat akrab di telinga kita ungkapan: “Kewajiban yang mesti ditunaikan jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.”

Apapun yang terjadi, belajar di waktu kecil tetap jauh lebih baik, dan jangan pernah menunda-menuda. Belajar diwaktu kecil ibarat mengukir di atas batu dan belajar di waktu dewasa, laksana menulis di atas air. Pasti akan beda, bukan? Pada hakekatnya “kemarin” dan “esok” adalah “hari ini” juga. Mengalir bagai air dalam dzikir dan fikir, japi jangan kikir dan mudah getir. Menuntut ilmu ibarat menanam pohon. Siapkanlah hati sebagai ladang ikhlas yang gembur dan subur. Tanam “pohon ilmu” dengan sabar dan rawatlah dengan kasih sayang. Jangan sampai melontarkan sebuah ungkapan yang kerap di telinga kita:
“Andai masa muda kembali pada suatu hari kelak, maka pasti akan aku beri tahu kepada mereka apa yang dirasakan oleh seorang yang sudah tua!”

2. Merasa yakin dan mengandalkan kecerdasan!
Betapa banyak orang yang kehilangan kesempatan menuntut ilmu, gara-gara mengandalkan kecerdasannya dan menunda-nunda waktu untuk belajar. Saat usia muda, kecerdasan otak memang beghitu cemerlang, semua ilmu bisa diterima dan dicerna dengan mudah. Sangat mudah menghafal dan menghadirkan kembali hafalan di kala butuh. Akan tetapi pisau yang tajam akan tumpul jika ia tak pernah lagi dimanfaatkan dan tidak lagi diasah. Akan tumpul dan karatan. Sejalan dengan bergulirnya waktu, pisau tadipun akan hancur dengan sendirinya. Begitu juga kecerdasan otak manusia. Akan pudar dan akan hilang sama sekali! Sesuatu yang dalam genggaman kita hari ini adalah milik kita, tetapi belum tentu kita memilikinya kembali di masa datang. Jangan pernah menuda-nunda. Bersemangatlah!

3. Melupakan bekal yang masih terlalu sedikit?!
Sekali-kali bertanyalah kepada diri dan sadarilah sepenuhnya bahwa kita baru mengetahui secuil gugusan kalimat yang ada di muqarrar. Itupun sebatas tahdid untuk ujian dan belum tentu paham, hanya sekedar hafal sebagai bekal untuk menghadapi ujian! Ilmu itu bukan menukilkan kata Syaikh fulan begini dan begitu, tapi ilmu adalah malakah `ilmiah, kemampuan ilmiah kita! Para ulama sering mengatakan: “Fokus orang-orang besar adalah penguasaan terhadap suatu ilmu (dirayah), sedangkan fokus seorang kerdil adalah menukilkan perkataan orang lain (riwayat)”. Tidak sedikit hari ini kita temui orang-orang yang menukilkan ucapan orang lain, tapi ia tidak paham apa yang dimaksudkan oleh orang yang menuturkannya. Makanya Tidak jarang terjadi kriminal ilmiah dan perkataan orang lain dipelintirkan sesuai dengan hawanya! Bermaksud mensyarah sebuah kitab, tapi malah mentajrih pengarang kitab dan ulama!

Jangan tunggu suatu hari, saat orang-orang bertanya dan dunsanak hanya bisa menjawab, “masalah ini ada di dalam kitab saya yang itu, tapi saya lupa jawabannya!” Bukankah orang-orang yang tidak tahu fiqh, tidak akan mungkin memberikan ilmu fiqh kepada orang lain?! Bukankah sangat tidak wajar, bila seorang dokter memberikan obat kepada pasiennya, sementara sang dokter mesti diobati terlebih dahulu! Bila para Buyanya butuh diluruskan dan masih sangat butuh tambahan ilmu, palagi masyarakatnya?! Jangan salahkan jikalau ilmu agama justru salah dipahami oleh masyarakat!

Sabar dan sadarilah!
Jikalau di dalam belajar dunsanak menemui banyaknya kendala, itu adalah wajar. Karena seperti yang sudah dipaparkan bahwa ilmu adalah mutiara paling berharga dan warisan para Nabi dan Rasul yang tidak bisa didapati oleh sembarang orang! Bila dunsanak belajar bertahun-tahun dan menamatkan beberapa kitab kemudian menjadi seorang alim, itu adalah wajar. Namun bila dunsanak membaca satu atau dua kitab, atau datang ke majlis ilmu satu atau dua kali, kemudian sudah bisa berfatwa halal-haram, kafir, bid`ah, dsb! itu adalah sangat tidak wajar, itu adalah khariqun lil `adah, yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul!

Ketika sudah merasa sulit untuk belajar dan menghafal, tidak selamanya solusinya adalah menikah! Ketika fikiran tidak lagi fokus untuk belajar, tidak selamanya sebabnya karena ada syahwat yang sedang menggelora! Perhatikanlah apa yang diungkapkan oleh para ulama rabbany: Jiwa ketika tidak disibukkan dengan taat, maka ia akan disibukkan oleh maksiat. Selama ini bukankah waktu kita lebih banyak untuk maota, makan batambuah, keasyikan menikmati kasur dan berselancar di dunia maya?!

Bukankah tugas dan tanggungjawab kita di ranah minang sangat berat, namun kapan mempersiapkannya, jikalau bukan sekarang?! Jikalau ada cita-cita membangun ranah minang, apa yang akan dunsanak bangun disana dan dengan apa dunsanak membangunnya?! Jikalau selama ini dunsanak selalu meneriakkan slogan Mambangkik Batang Tarandam, apa yang akan dunsanak bangkik di ranah minang? Jikalau mau menerapkan syariat islam, apa yang mau diterapkan, jikalau syariat islam belum ada di kepala dunsanak?! Berupayalah untuk menyingkap tempurung yang sedang mengungkung, karena dunia terlalu luas dan tidak sesempit yang dunsanak fikirkan. Banyak pelajaran yang bisa diambil pada diri kita masing-masing dan dunia kita untuk membangun ranah minang!

Buatlah keputusan dan serahkanlah sepenuhnya kepada Allah!
Tidak usah takut untuk menempuh perjalanan menuntut ilmu dan tidak usah gamang menapaki tangga pernikahan. Toh semua yang dikhawatirkan belum tentu terjadi. Apa yang dialami oleh orang lain belum tentu dunsanak alami, karena setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Kepada para bujang dan dara, jangan takut sendirian di dunia ini dengan status single sepanjang masa! Bukankah sandal saja dibuat berpasang-pasangan, apalagi manusia?! Silahkan rujuk kembali QS: Al Naba`: 8.

Athailah Al Sakandary di dalam kitab Al Tanwir Fie Isqat Al Tadbir, mengutipkan:
“Bahwa tidak akan bertentangan antara tawakkal dengan mengupakan sebab dalam meraih rizki, seperti yang disabdakan oleh Rasul Saw: “Bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah cara meminta” Rasul Saw. benar-benar membolehkan kita meminta kepada Allah. Jikalaulah bertentangan dengan konsep tawakkal, maka pasti kita akan dilarang meminta. Namun Rasul Saw. tidak mengatakan “jangan kalian meminta!” Akan tetapi beliau bersabda: “perbaguslah cara meminta!”, seolah-olah beliau menyampaikan: “ketika meminta kepada Allah, jadilah orang yang baik cara memintanya, yaitu tetaplah bersama Allah dengan beradab kepadaNya dan menyerahkan murni segala sesuatu kepadaNya.”

Ada sebuah ungkapan Dr. Ramadhan Al Buthy, yang sangat patut kita renungi; “Sesunguhnya Allah tidak akan lemah untuk memancarkan cahaya hidayah yang dipaksakan masuk ke dalam hati orang paling kafir. Dan Allah mampu untuk melemparkan cahaya kesesatan ke dalam hati orang yang paling shalih diantara orang-orang yang beriman. Akan tetapi Allah sudah menetapkan bagi diri Nya (sebagai wujud ihsan dan anugerah dari Allah), bahwa Allah tidak akan menyesatkan, kecuali setiap orang yang mengantarkan dirinya kepada sebab-sebab kesesatan dan memalingkan dirinya dari seluruh sarana yang mengantarkan ia kepada hidayah yang diberikan Allah untuk menggapai hidayah. Dan Allah akan mendekatkan sebab-sebab hidayah dan taufiq kepada setiap orang yang bertekad untuk memenuhi perintah Allah dan seluruh taklif dari Allah.”

Perhatikanlah qudrah Allah kepada makhluqNya. Bila membolak-balikkan jari adalah sangat ringan bagi manusia, maka bagi Allah lebih mudah lagi untuk mengendalikan hati dan kehidupan kita. Tidak sulit bagi Allah untuk menjadikan seseorang itu muslim atau kafir, apalagi hanya sekedar untuk menentukan dan mengatur garis kehidupan kita yang lemah. semuanya mudah terjadi, jikalau Allah berkehendak! Ketika kita mengupayakan sebuah kebaikan, maka Allah telah berjanji kepada diriNya untuk tidak akan mengecewakan setiap orang yang telah berupaya dan memudahkan untuk meraihnya! Ketika kita memimpikan sebuah masa depan, tetapi tidak mau mengupayakannya, maka jalan-jalan untuk meretas kesuksesanpun jangan diharapkan mendekat kepada kita!

Teori-teori diatas sangat mudah diucapkan, namun sayangnya konsep ini bukan pekerjaan lisan, akan tetapi tugas hati dan akal yang bening untuk mencernanya!

Gubuk Tua Di Sudut Al Azhar, 26 April 2010

Posted in Inspirasi | 1 Comment »

Penempatan Gedung Baru STAI Al-Ma’arif Ciamis

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 22, 2010

Ma’arif Online. Rabu, 17 Februari 2010 12:54:20 – oleh : admin

Dalam rangka menempati gedung baru, STAI Al-Ma’arif menggelar workshop pengembangan kelembagaan. Pada 14 Februari 2010, di Kampus STAI Al-Ma’arif Ciamis, Jl. Imbanagara Raya Ciamis.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 sampai 12.30 Wib, di hadiri oleh segenap civitas akademika, baik Mahasiswa, Dosen maupun Pimpinan perguruan Tinggi tersebut, turut hadir pula dalam acara tersebut ketua dan sekretaris PP. LP. Ma’arif NU, USAID Kementrian Agama, Pemerinta daerah, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama, Tokoh Masyarakat, dan aparat desa.

Dalam kesempatan tersebut, ketua STAI Al-Ma’arif  Prof Dr. Wahidin, M.Pd  menyampaikan rasa syukur dan terimaksihnya kepada segenap pihak yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan Gedung tersebut, khususnya warga nahdliyin yang telah banyak memberikan dorongan dalam upaya memajukan bidang pendidikan di Ciamis, begitu pula Pemerintah Daerah yang telah memberikan dukungan baik moril dan Materil sehingga dalam kurun waktu setahun gedung STAI Al-Ma’arif  sudah bisa ditempati.

Lembaga yang berdiri atas inisiatif yayasan Kasmin Hasyim, saat ini telah memiliki mahasiswa di jurusan Ekonomi Syari’ah (S1) dan sedang menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga seperti Perbankan Syari’ah, Koperasi, Kementrian Agama, bahkan sa’at ini juga sudah mulai merintis kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan juga Usaid, Imbuhnya.

sementara itu, ketua PP. LP. Ma’arif NU Dr. H.M. Thoyib IM menyampaikan bahwa beliau menyambut baik atas lahirnya STAI Al-Ma’arif yang menunjukan bahwa kader-kader NU memiliki kemampuan dalam memberikan sumbangan dalam bidang pendidikan.

beliau juga menambahkan dengan adanya STAI Al-Ma’arif, diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk membina Nahdliyin yang mempunyai komitmen dalam membesarkan NU dan bertanggung jawab demi keberlangsungannya di masa depan. pungkasnya.(US), (Ma’arif Online)

Posted in Catatan Harian | Leave a Comment »

KH. Hasyim Asy’ari dan Liberalisasi Pemikiran

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 22, 2010

Hidayatullah.com. Thursday, 22 April 2010 11:33

Kyai Hasyim Asy’ari dikenal pembela syariat Islam. Andai beliau masih hidup, pasti berada di garda depan menolak pemikiran Liberal

Oleh: Kholili Hasib*

SUSUNAN Pengurus PBNU telah diumumkan, namun apakah sudah steril dari orang-orang liberal? Tentunya, harapan itu besar bagi umat Islam Indonesia. Sudah saatnya arus liberalisasi agama yang diusung oleh sebagian intelektual muda NU belakangan ini ditanggapi serius dan tegas. Sebab, pemikiran ‘nyeleneh’ mereka sangat jauh dari ajaran-ajaran KH. Hasyim Asy’ari –pendiri NU –  yang dikenal tegas dan tidak kompromi terhadap tradisi-tradisi batil.

Ironinya, ketokohan Kyai Hasyim tidak hanya sudah ditinggalkan, akan tetapi malah berusaha ditarik-tarik dengan mengatakan, Kyai Hasyim adalah tokoh inklusif.

“KH. Hasyim adalah tokoh moderat, menghargai keberagamaan, dan terbuka,” begitu ungkap seorang kader muda NU, dalam acara bedah  bukunya  berjudul “Hadratussyaikh; Moderasi Keumatan dan Kebangsaan” pada 13 Maret 2010 di Jombang.

Penulisnya yang juga aktivis Islam Liberal, tampaknya ingin menarik-narik bahwa pemikiran Kyai Hasyim sesuai dengan pemikiran progresif anak-anak muda NU saat ini.

Progresif dalam pemikirannya, adalah yang tak jauh dari pemikiran liberal dan inklusif. Tentu, ini sebuah kesimpulan yang  cenderung gegabah. Kesimpulannya tersebut akan membawa dampak tidak sehat terhadap organisasi NU ke depan. Sebab, ketokohan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sangat jauh dari ide-ide inklusifisme (keterbukaan) mereka. Pada zamannya, harap dicatat, Kyai Hasyim adalah tokoh sangat concern membela syari’at Islam.

Dalam konteks dinamika pemikiran progresif anak-anak muda NU seperti sekarang, cukup menarik bila kita mengkomparasikan dengan pemikiran founding father Jam’iyah NU ini.  Ada jarak yang cukup lebar ternyata antara ide-ide Kyai Hasyim dengan wacana-wacana yang dikembangkan kader-kader muda NU yang liberal itu.

Ketokohan KH. Hasyim Asy’ari yang sangat disegani, membuat orang NU ingin diakui sebagai pengikut beliau. Akan tetapi, upaya pengakuan yang dilakukan anak-anak muda liberal NU tidak dilakukan dengan mengaca pada perjuangan dan ideologi Kyai Hasyim.

Sebaliknya, pemikiran Kyai Hasyim justru secara paksa disama-samakan dengan pemikiran iklusivisme mereka. Padahal Kyai Hasyim pada zamannya terkenal sebagai ulama’ yang tegas dan tidak kompromi dengan tradisi-tradisi yang tidak memiliki dasar.

Ketegasan Kyai Hasyim

Wajah pemikiran pendiri NU ini yang paling menonjol adalah dalam pendidikan Islam, sosial politik, dan akidah. Akan tetapi pemikiran terakhir beliau ini belum banyak dielaborasi. Padahal untuk bidang keyakinan yang prinsip, beliau dikenal mengartikulasikan basicfaithnya secara ketat, tegas, dan tidak kompromi.

Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi SAW. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi.

Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram.  Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.

Dalam aspek keyakinan, Kyai Hasyim juga telah wanti-wanti warga Nadliyyin agar menjaga basic-faith dengan kokoh. Pada Muktamar ke-XI pada 9 Juni 1936, Kyai Hasyim dalam pidatonya menyampaikan nasihat-nasihat penting.  Seakan sudah mengetahui akan ada invasi Barat di masa-masa mendatang, dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Arab, beliau  mengingatkan, “Wahai kaum muslimin, di tengah-tengah kalian ada orang-orang kafir yang telah merambah ke segala penjuru negeri, maka siapkan diri kalian yang mau bangkit untuk…dan peduli membimbing umat ke jalan petunjuk.”

Dalam pidato tersebut, warga NU diingatkan untuk bersatu merapatkan diri melakukan pembelaan, saat ajaran Islam dinodai. “Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan akidah-akidah sesat”, lontar Kyai Hasyim. Untuk menghadapi tantangan tersebut, menurut Kyai Hasyim, para ulama harus meninggalkan kefanatikan pada golongan, terutama fanatik pada masalah furu’iyah. “Janganlah perbedaan itu (perbedaan furu’) kalian jadikan sebab perpecahan, pertentangan, dan permusuhan,” tegasnya.

Tegas, tidak kenal kompromi dengan tradisi-tradis batil, serta bijaksana, inilah barangkali karakter yang bisa kita tangkap dari pidato beliau tersebut. Bahkan pidato tersebut disampaikan kembali dengan isi yang sama pada Muktamar ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap masa depan warga Nadliyyin dan umat Islam Indonesia umumnya, terutama masa depan agama mereka ke depannya – yang oleh beliau telah diprediksi mengalami tantangan yang berat.

Situasi aktual yang akan dihadapi kaum muslim ke depan sudah menjadi bahan renungan Kyai Hasyim. Dalam kitab Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Dalam kitab yang sama, mbah Hasyim (demikian sering dipanggil) menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan meluber ke dalam umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad, Rafidlah yang mencaci sahabat, kelompok Ibahiyyun – yaitu kelompok sempalan sufi mulhid yang menggugurkan kewajiban bagi orang yang mencapai maqam tertentu – , dan kelompok yang mengaku-ngaku pengikut sufi beraliran wihdatul wujud, hulul, dan sebagainya.

Menurut Kyai Hasyim, term wihdatul wujud dan hulul dipahami secara keliru oleh sebagian orang. Kalaupun term itu diamalkan oleh seorang tokoh sufi dan para wali, maka maksudnya bukan penyatuan Tuhan dan manusia (manunggaling kawula).

Seorang sufi yang mengatakan “Maa fi al-Jubbah Illa Allah”, maksudnya adalah bahwa sesuatu yang ada dalam jubbah atau benda-benda lainnya di alam ini tidak akan wujud, kecuali karena kekuasaan-Nya. Artinya, menurut Kyai Hasyim, jika istilah itu dimaknai manunggaling kawula, maka beliau secara tegas menghukumi kafir.

Karakter pemikiran yang diproduk Kyai Hasyim memang terkenal berbasis pada elemen-eleman fundamental. Dalam karya-karya kitabnya, ditemukan banyak pandangan beliau yang menjurus pada penguatan basis akidah. Dalam kitabnya Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah itu misalnya, Kyai kelahiran Jombang ini menulis banyak riwayat tentang kondisi pemikiran umat pada akhir zaman.

Oleh sebab itu, Kyai Hasyim mewanti-wanti agar tidak fanatik pada golongan, yang menyebabkan perpecahan dan hilangnya wibawa kaum muslim. Jika ditemukan amalan orang lain yang memiliki dalil-dalik mu’tabarah, akan tetapi berbeda dengan amalan syafi’iyyah, maka mereka tidak boleh diperlakukan keras menentangnya. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu.

NU Tapi Liberal

Sayangnya, model pemikiran-pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tersebut tidak  menjadi kaca yang baik. Bahkan ‘kaca’ pemikiran Kyai Hasyim berusaha diburamkan sedemikian rupa, terutama oleh anak-anak muda NU yang liberal.

Punggawa-punggawa Jaringan Islam Liberal (JIL) tak sedikit berlatar belakang NU. Akan tetapi, yang diperjuangkan bukan lagi ke-NU-an sebagaimana ajaran Kyai Hasyim, melainkan pluralisme, sekularisme, kesetaraan gender, dan civil society.

Beberapa intelektual muda NU yang hanyut dalam arus liberalisme agama harus ditanggapi serius. Pemikiran anak-anak muda itu cukup membahayakan. Tidak hanya bagi NU, tapi juga keberagamaan di Indonesia secara umum.

KH. Hasyim Muzadi ketika masih menjabat ketua PBNU telah merasa gerah dengan munculnya wacana liberalisasi agama yang melanda kalangan muda NU. Beliau telah menyadari bahwa liberalisme telah menjadi tantangan di NU.

Sebab, liberalisasi agama jelas menyalahi tradisi NU, apalagi melawan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari. ”Liberalisme ini mengancam akidah dan syariah secara bertahap,” ujar KH Hasyim Muzadi seperti dikutip http://www.nuonline.com pada 7 Februari 2009.

Kekhawatiran tersebut memang perlu menjadi bahan muhasabah di kalangan warga NU. Sebab, invasi anak-anak muda tersebut pelan-pelan akan menghujam ormas Islam terbesar tersebut. Kasus Ulil yang memberanikan diri mencalonkan diri sebagai ketua PBNU dalam muktamar kemarin adalah sebuah sinyal kuat, bagaimana tokoh liberal bisa masuk bursa calon ketua. Harusnya, ada ketegasan sikap dari elit-elit NU untuk mencegah.

Padahal, KH. Hasyim Asy’ari sangat menetang ide-ide pluralisme, dan memerintahkan untuk melawan terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an, dan menentang penggunaan ra’yu mendahului nash dalam berfatwa (lihat Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah). Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Hadratusyekh mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid’ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.

Memang mestinya, nadliyyin yang liberal tidak mendapat tempat di dalam NU. Sebab, perjuangan Kyai Hasyim pada zaman dahulu adalah menerapkan syariat Islam. Untuk itulah beliau, sepulang dari belajar di Makkah mendirikan jam’iyyah Nadlatul Ulama’ – sebagai wadah perjuangan melanggengkan tradisi-tradisi Islam berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ketegasannya semoga tidak sekadar diwacanakan secara verbal. Tentu ini tidaklah cukup dibanding dengan kuatnya arus liberalisme di tubuh ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Tindakan nyata dan tegas hukumnya  fardlu ‘ain bagi para ulama’ yang memiliki otoritas dalam tubuh organisasi.

Ormas-ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari gempuran virus liberalisme. NU dan Muhammadiyah bagi muslim Indonesia adalah dua kekuatan yang perlu terus di-backup. Jika dua kekuatan ini lemah, tradisi keislaman Indonesia pun bisa punah. Maka, andai Kyai Hasyim hidup saat ini, beliau pasti akan berada di garda depan menolak pemikiran Liberal.[www.hidayatullah.com]

*)Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor – Ponorogo

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Maret 27, 2010

Eramuslim, Rabu, 24/03/2010 11:14 WIB

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk “Kepada Saudariku Para Muslimah”;

Ditengah serangan Israel ke Libanon dan “perang melawan teror” yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.

Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan

Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.

Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !

Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !. (ln/iol)

Ke link aslinya silahkan klik disini

Posted in Telaah | Leave a Comment »