Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Jangan bilang kak…!

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 30, 2009


nil

Pagi itu suasana cukup cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Seperti biasanya tiga siswi berjilbab sedang asyik-asyiknya berjalan sambil berbincang-bincang di pelataran halaman sekolah

Seketika itu pula seorang lelaki keluar dari ruang OSIS dengan jalannya yang begitu cepat dengan membawa berkas yang begitu banyak, ia seakan tak sadar bahwa apa yang ia bawa membuat orang merasa ngeri melihatnya.

“Kak……….Kak Maaf ”salah seorang siswi memanggil dengan suaranya yang lembut.

Sudah dari dulu, tepatnya pas kegiatan MOPD awal masuk sekolah Nisa berniat untuk menyapa kakak kelasnya yang sangat ia kagumi, tapi baru kali ini ia memberanikan diri memulai untuk menyapa.

Langkah kakinya yang begitu cepat, secara otomatis terhenti seketika itu juga mendengar suara lembut yang menembus gendang telinganya. Dengan sedikit penasaran ia menoleh dan nisapun memberanikan diri untuk menyapa.

“Kak Hanif maaf..!Kak bersedia ngak jadi kakak angkat nisa?”

pertanyaan yang tidak terlalu singkat, tapi membuat hanif terpaksa untuk berfikir seribu kali untuk menjawab pertanyaan adik kelasnya itu. Dengan diplomatis hanif menjawab.

“Maaf, Kakak sekarang lagi sedikit sibuk, Insya Allah waktu istirahat nanti kakak akan jawab”

Memang seminggu ini hanif sedang begitu sibuknya mengurus acara seminar pendidikan yang akan diadakan sekolahnya tiga hari mendatang. Dan kebetulan ia adalah ketua pelaksananya. Jadi dialah yang paling sibuk di banding panitia yang lainnya. Karena ia sangat berharap acaranya nanti bisa berjalan dengan sukses.

Sebenarnya ia juga baru sadar bahwa ketika MOPD ia sempat ingin mencari tahu tentang nisa. Tapi sekarang ia sedikit tidak percaya bahwa adik kelasnya yang dulu ia kagumi malah sebaliknya meminta dirinya berkenan menjadi saudara angkatnya. Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal bagi hanif. Teman sekelasnyapun banyak yang suka padanya tidak terkecuali dirinya. Tapi hanif menyadari orang seperti dirinya tak mungkin mendapatkan hati seorang wanita secantik nisa. Dan sampai sekarang hanif sudah mengubur semua perasaan yang pernah hinggap sejenak di hatinya. Karena ia yakin perasaannya hanya sebuah mimpi yang tak mungkin terwujud.

Belpun berdering menandakan waktu istirahat sudah tiba, wajah Hanif yang tadi pagi kelihatan kusut kini sudah sedikit mulai fresh. Kebetulan kelas hanif dan nisa tidak begitu jauh hanya terhalang oleh dua kelas. Dari kejauhan mata hanif sedikit melirik dan melihat seorang wanita yang tadi pagi menemuinya. Hanif teringat akan janjinya untuk menjawab pertanyaan adik kelasnya itu. Pikirannya mulai mengolah kata-kata menyiapkan jawaban yang nanti ia akan berikan. Hatinya sedikit ragu atas apa yang Nisa tanyakan, apakah ia hanya main-main atau ia memang serius menginginkan ia menjadi saudara angkatnya. Kebingungannyapun menyeruak di dinding hatinya. Tapi, bagaimanapun ia harus menjawab dan memutuskan masalah ini dengan penuh kebijaksanaan

Iapun mulai melangkahkan kakinya, sedikit memberi tanda dengan isyarat tangannya. Nisa yang sedari tadi berdiri terpaku menanti kakak kelasnya itu, kini sedikit bahagia karena ada seseorang yang memanggilnya. Dan ternyata dugaannya benar dia hanif yang sangat ia harapkan bisa menerima dirinya menjadi adik angkatnya.

Keduanya saling mendekat lalu hanif mengajak Nisa tuk berbicara di ruang perpustakaan. Kedua tubuh anak adam itu seketika kaku beku, apalagi hanif yang baru kali ini bertatap muka dengan seorang wanita dalam kondisi bukan urusan dinas. Hanif merasa grogi dan bingung kata-kata apa dulu yang harus ia keluarkan untuk memulai perkataannya.

“Nisa mohon jelaskan maksud dari pertanyaan sekaligus permintaan yang tadi pagi Nisa berikan. Kakak sedikit kurang ngerti apa maksudnya, kakak takut bila salah persepsi dan salah dalam menjawabnya” tutur hanif dengan penuh ketegasan, memulai perkataannya.

Tak sempat hanif mengedipkan mata, Nisa menyambung perkataannya.

“ Satu yang memotifasi Nisa untuk menjadikanan kak hanif sebagai kakak angkat Nisa. Nisa melihat di diri kakak ada kedewasaan dan jiwa kemandirian yang tidak dimiliki oleh orang lain. Satu hal yang Nisa minta dari kakak. Nisa harap kakak bisa bimbing nisa menjadi wanita shalehah dan wanita mulia dihadapan Allah SWT. Dan satu hal lagi yang perlu kakak tahu Nisa baru pertama kali sekolah sembari mesantren seperti ini, Nisa butuh seorang yang membimbing dan mengarahkan Nisa….harap kakak Hanif bisa mengerti kondisi Nisa…..”Nisa menjelaskan maksudnya dengan intonasi yang turun naik.

Tak sempat Hanif menjawab Nisa melanjutkan perkataannya.

“Dari mulai sekarang Nisa harap Kakak berkenan memanggil Nisa dengan panggilan “Ade” pinta Nisa dengan sedikit nada memelas.

“Insya Allah semoga Allah berkenan”Hanif menjawab dengan perkataan sesingkat mungkin.

Sekarang Hanif merasa takut sekiranya akan terjadi sebuah fitnah yang akan menimpa dirinya. Ia sangat sadar bahwa ia adalah kakak kelas bagi seluruh adik kelasnya, sekaligus seorang figur yang mau tidak mau harus ia pertanggung jawabkan; tingkah laku, perkataan dan seluruh aspek kehidupannya dilihat dan dijadikan barometer bagi siswa yang lainnya. Apalagi ia adalah seorang ketua OSIS, yang mana para guru dan sekolahnnya sangat berharap banyak kepadanya.

Akhirnya Hanif memahami maksud permintaan yang adik kelasnya itu inginkan. Walaupun jawaban itu secara tidak langsung menjadi bukti bahwa Hanif menerima permintaannya. Di luar itu semua ia ia sangat menghawatirkan dirinya, kalau sekiranya hubungannya dan keputusannnya itu tidak diridhoi oleh Allah. Ia hanya berniat dengan ikhlas membimbing wanita yang sekarang telah menjadi adik angkatnya itu. Ia hanya menyerahkan segala urusannya kepada Allah, apapun yang terjadi suatu saat nanti dengan hubungan dan statusnya itu, ia hanya bisa berdoa semoga dirinya selalu ada dalam lindungan Allah SWT.

Hanya seberkas kebahagiaan yang tersisa di raut wajah Nisa yang berpostur tubuh tinggi dan berwajah oriental dengan berkerudung putih dilengkapi motif bordir yang sangat indah membuat ia sangat anggun bagi siapa saja yang melihatnya. Sekarang hati hanif tidak bisa berbohong bahwa untuk kali ini, ia sangat terpesona dengannya, dan bayangan itu tak enggan hilang dari imaginasinya .

Hanif mengakhiri perbincangannya dengan memohon izin kepada Nisa yang sekarang sudah menjadi adik angkatnya. Hanif takut tuk berbicara lebih lama. Ia langsung beranjak pergi ke tempat wudhu dan shalat duha sebagai awal mengarungi bahtera kehidupannya hari itu.

**********

Empat hari berlalu, keduanyapun sibuk dengan aktifitas masing-masing. Hanif sangat bergembira dengan acaranya yang dibilang sukses besar. Para guru, kepala sekolah dan seluruh elemen sekolah memberikan ucapan selamat atas keberhasilan acaranya; seminar pendidikan yang telah mendatangkan praktisi pendidikan dari tingkat pusat. Tidak terkecuali Nisa, iapun memberikan ucapan selamat kepada kakak angkatnya, atas keberhasilan acaranya yang ia rintis dengan susah payah.

“Selamat ya….atas keberhasilan acaranya. Ade salut ketika kakak mengawal acara sampai selesai, tidak salah ade pilih kakak jadi kakak angkat ade!” pujian Nisa membuat Hanif kehabisan tingkah. Dengan wajah yang memerah Hanif memaksakan untuk menjawab

“Terima kasih. Itu juga berkat dukungan dan peran serta semuanya, keberhasilan acara itu merupakan kebahagiaan kita semua”

**********

SMA Al-Mukmin merupakan sekolah yang berada di dalam lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Al-Mukmin. Bisa disebut SMA Terpadu, karena pendidikannya mengintegrasikan pendidikan formal dengan pola pendidikan dan pengajaran Pondok Pesantren. Selain siswa memperoleh pelajaran umum seperti: Matematika, IPA, IPS dan yang lainnya. Siswa juga mendapatkan nilai plus yaitu pendidikan keagamaan dan mempelajari berbagai kitab dan litelatur klasik dari mulai; Ushul Fiqh, Tafsir, Sorof, Nahwu dan lain sebagainnya. Adapun seluruhnya siswa dan santrinya diasramakan.

Nisa yang baru pertama kali nyantri di pondok pesantren merasa sangat aneh melihat berbagai kebiasaan di lingkungan yang sekarang ia rasakan jauh berbeda dengan lingkungan sebelumnya ia jalani. Kehidupan Jakarta yang super glamour dan mewah, kebebasan bergaulpun rasanya tidaklah menjadi hal yang aneh. Di tambah taraf hidup mewah. Yang mana keluarganya bisa di bilang konglomerat metropolitan. Ayahnya seorang pengusaha konstruktor yang sudah tersohor seantero negri ini, membuat hati Nisa tinggi hati ketika ia ditempatkan oleh keluarganya di Pondok Pesantren. Dan memang ia di sekolahkan ke pesantren bukan seorang diri melainkan adiknyapun Adi, sama ia juga baru saja masuk kelas dua SMP Al-Mukmim tahun ini.

**********

Selang beberapa hari setelah pemberian ucapan selamat, Nisa mulai mencurahkan segala isi hatinya kepada hanif lewat sepucuk surat yang di kirimkan lewat temannya.

“Kak Hanif ada titipan surat dari Nisa”Fitri Menyela pembicaraan dengan nada terburu-buru, sehingga hanif tak sempat untuk membalas kata-kata fitri dengan jawaban yang lebih panjang.

“Oh….ya terimakasih” hanya kata itu yang sempat hanif ucapkan.

Hanif merasa bingung dengan teman Nisa yang satu ini.

“kok nitip surat buru-buru sekali” gerutu hanif dalam hatinya

Ada apa sebenarnya, hatinya sedikit gundah. Ia mulai membolak-balik amplop yang didalamnya ada sepucuk surat dari Nisa. Wangi parfum yang begitu menawan membuat Hanif ingin segera membuka amplop itu dan membaca surat yang ada didalamnya.

Dalam suratnya Nisa langsung bercerita, bahwa ia tidak betah di Pondok Pesantren ini. Ia merasa dirinya sebatang kara, tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan cerita dan keluhannya, ia merasa dibuang oleh keluarganya. Dalam suratnya Nisa menuturkan kenapa ia menjadikan dirinya sebagai kakak angkat di pesantren ini. Ia merasa butuh seorang teman curhat dan pelipur lara, malah teman wanitanya tidak ada satu orangpun yang ia percaya. Oleh sebab itu ia memilih Hanif sebagai kakak angkatnya. Diluar itu semua Nisa sangat berharap banyak dan meminta hanif menjadi saudaranya selamanya meski nanti ia sudah keluar dari Pondok dan sekolahnya ia berusaha akan mempertahankannya.

“………………………….,pokoknya ade akan perjuangkan sampai kapanpun supaya kakak menjadi saudara ade selamanya……!” kata-kata terakhir itu yang membuat pikiran hanif tak karuan, ia setengah tak sadar apakah ia sanggup mewujudkan permintaan Nisa.

Dan sekarang ia sangat khawatir, karena beberapa bulan kedepan Nisa akan mengenalkan dirinya dengan keluarganya. Malahan, Nisa sudah menceritakan perihal dirinya kepada ayahnya

**********

Sore itu nisa menjanjikan untuk bertemu dengan Hanif di depan sekolah, tepat setengah tiga sebelum shalat asar. Kebetulan lokasi sekolah, masjid dan asrama tidak begitu jauh jadi memudahkan proses pertemuan mereka berdua.

Dari kejauhan terlihat dua santriah memakai jubah putih, ia yakin bahwa itu Nisa dengan satu orang temannya. Hanif mengajak Syahid tuk menemani pertemuannya itu, karena ia sangat takut dan tidak berani bertemu seorang diri tanpa teman yang menyaksikannya. Sebagai santri ia sangat faham akan syariat agamanya.

“Apabila dua orang anak adam bukan muhrim duduk berdua maka yang ketiganya adalah syetan” kurang lebih begitulah bunyi hadis yang ia pelajari dan dengar langsung dari Kiai yang menyampaikan syarah kitab Bukhari pada pengajian tadi subuh, dan penggalan hadis itu yang sekarang terngiang-ngiang di telinganya.

Ia takut bila sekiranya pertemuannya nanti akan menjadi sebuah fitnah yang akan menjadi boomerang bagi dirinya, selama dua tahun Hanif nyantri di Pondok Ini kredibilitas dirinya sangat terjaga, belum terdengan Hanif pacaran dengan seorang wanitapun, jadi kalau ada berita dirinya dekat dengan seorang santriah maka satu pesantren geger karenanya. Sampai-sampai pengasuh pesantren tahu bahwa Hanif sangat anti dengan pacaran.

Nisa mulai mendekat, memulai dengan mengulurkan tangan kanannya, jari-jari tangan Nisa yang terlihat putih dan lentik membuat hati Hanif goyah.

“Ade, kakak sedang punya wudhu” Hanif memberikan alasan sederhana, Dengan tidak mengurangi rasa hormat hanif hanya bisa mendekapkan kedua tangannya ke dada.

Terlihat raut wajah Nisa yang sedikit kecewa. Tapi begitulah hanif, ia seorang leki-laki yang sangat hati-hati dengan urusan wanita. ia sadar bahwa tingkah lakunya itu telah membuat Nisa kecewa, tapi iapun sadar pula bahwa ia punya sebuah prinsip yang harus ia jaga dan pertaruhkan. Hanif tak pernah bersalaman dengan seorang wanita manapun kecuali sesama muhrim yang mana ia berhak dan halal menyentuh kulitnya, ia sangat menghormati sebuah arti kesucian diri. Ia tak ingin menodai dirinya dengan suatu hal yang ia rasa anggap sepele. Ia takut Neraka

“Sesungguhnya seseorang diantaramu ditikam di kepalanya dengan jarum dan besi, adalah lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang bukan Muhrimnya”(HR. Tabrani)

tak lama kemudian hanif berkata

“Ade harus faham Kak, kak bukannya menolak bersalaman dengan ade, tapi ini sebuah prinsip yang harus kak jaga. Jujur kak ngak pernah bersalaman dengan wanita kecuali dia seorang muhrim, tak tekecuali ade. Karena kak ingin menjaga dan memuliakan ade maka kak berbuat yang terbaik untuk ade dengan menjaga kesucian ade”

“Kak harap ade bisa memahaminya” hanif mengakhiri perkataanya

Nisa tak bisa berkata-kata apa-apa ia hanya bisa diam dan menundukan kepalanya karena sedikit malu. Tapi dalam hatinya ia sangat menghormati dengan keputusan kakak angkatnya itu. memang baru kali ini ia bertemu dengan seorang lelaki seprti hanif. Karena di kotanya ia bergaul dengan bebas, bersalaman atau pepegangan bukanlah suatu hal yang tabu bahkan merupakan sebuah kebiasaan yang menjadi icon pengungkapan perasaan kepada pasangannya. Tak terkecuali Nisa. Nisa pun mulai bercerita.

“Ade sadar selama ini ade sudah salah besar, selama ini kehidupan ade di jakarta tidak seperti ini, jujur ade sampai sekarang masih punya pacar dan pegangan tangan dengan pacar ade sudah menjadi hal yang biasa. Tapi Insya Allah kedepannya ade akan berlatih untuk merubah kebiasaan itu.” Dengan nada meyakinkan hati Hanif

“Tapi mohon sekarang kak jujur, tentang perasaan kak ke ade, kak sayang ngak ke ade…?” sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan hanif.

“Maksud de apa, jangan membuat bingung kakak, kak tahu posisi kak ada dimana memang kak sadar dengan perasaan kak, tapi perasaan ini tak lebih dari sayang kakak kepada adiknya” penjelasan hanif sedikit terbata-bata.

Ia takut salah dalam menjawabnya. Memang dulu ia sangat menyukai dan mengaguminya. Malah sempat terbersit dalam hatinya untuk menjadikannya sebagai pacarnya. Tapi niatnya itu kini ia sudah kubur dalam-dalam. Karena ia punya prinsip dan cinta-cita yang harus ia wujudkan kedepan ia tak ingin rusak rencananya itu karena sebuah perasaan yang membuatnya terlena.

Tak sempat Hanif meneruskan pembicaraannya, suara adzan berkumandang dan pertemuanpun bubar seketika itu.

**********

Tiga minggu hubungan persaudaraan berjalan. Hanif merasa ada sedikit keganjilan dengan lingkungannya, sekarang ia merasa di marginalkan. Teman-temannyapun sedikit berubah ketika bergaul dengannya.

Ia mulai mencari tahu penyebabnya. Hanya syahid yang selama ini bisa mendengarkan segala permasalahanya, mungkin ia bisa memberikan penjelasan akan kondisi yang sedang ia alami. Tapi iapun sama ia hanya bisa diam seribu bahasa ketika ia diminta penjelasannya.

Seketika itu ia sadar dan teringat akan hubungan dirinya dengan Nisa, ia sedikit merenung apakah hubungannya itu yang menjadi permasalahnya. Tapi ia rasa tak pernah berbuat apa-apa.

Sekarang ia tak ingin berlama-lama terjebak dalam kondisi seperti ini. Ia yakin ujung permasalahannya ada pada hubungan dirinya dengan Nisa. Iapun memutuskan untuk mengakhiri ikatan status kakak angkat yang melekat pada dirinya. Ia tak ingin semua orang salah faham tentang masalah hubungannya itu.

**********

Sebelum bel sekolah berbunyi Hanif memaksakan diri tuk berbicara dengan Nisa dan menjelaskan kondisinya sekarang.

“Ade sekarang kakak mohon pengertian dari ade”

“Memang ada apa kak” Nisa dengan penasaran

“Memang ini sebuah keputusan yang berat bagi kak, tapi mau tidak mau hal ini harus diputuskan dan di selesaikan sekarang juga, kak ngak ingin masalah ini berlanjut lebih lama”

“Maksud kak” Nisa menyela karena tidak mengerti dengan penjelasan Hanif yang membuat Nisa bingung, dan kenapa Hanif berbicara seperti itu.

“Kak ingin hubungan persaudaraan ini berakhir sampai sini”Hanif berbicara dengan tegas

“Maksud kak apa, dan apa salah ade ke kak selama ini. Sehingga kak memutuskan untuk mengakhiri persaudaraan ini. Ade rasa setiap permintaan kak selalu ade penuhi”Nisa menjawab dengan sedikit kecewa dengan apa yang Hanif inginkan.

“Ada suatu hal yang tak bisa kak jelaskan disini, dan ini menyangkut masalah yang sangat serius bagi kak, tolong fahami kak dan dari sekarang ade ngak usah anggap kak sebagai kakak angkat ade lagi, cukup kita berteman saja tak lebih, dan kakak kira itu lebih baik dan barokah”.Hanif menjelaskan dengan panjang lebar.

Terlihat air mata mengalir dari kedua mata Nisa. Nisa tak bisa membendung kesedihan dan rasa kecewa yang begitu mendalam yang sedang ia alami. Begitu pahit keputusan akhir ini, Hanif sadar bahwa keputusannya itu pasti membuat kecewa Nisa. Tapi apa boleh buat keputusan itu harus ia ambil. Walaupun berat itulah keputusan yang terbaik baginya.

Alhamdulillahirabbil’alamin

-Ahmad Ridla Syahida-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: