Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Redupnya Sinar Sang Mentari

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Agustus 2, 2009

bulan

Pagi di kota cairo yang begitu redup tak secerah seperti hari-hari biasanya. cahaya matahari pagi yang setiap hari menyinari bumi dan menyengat kulit ini, kini pemandangan itu tak bisa saya lihat lagi, apa gerangan yang membuat matahari merasa malu atau enggan menampakan sinarnya? Apakah redupnya sang mentari di sebabkan oleh salah satu hamba-Nya yang senantiasa berbuat ingkar dan bermaksiat kepada-Nya.

Sejurus kemudian saya langsung tertunduk melihat kuasa diri yang begitu hina. dengan berbagai dosa yang telah saya perbuat, yang sengaja ataupun tidak di sengaja. Apakah sebab dosa ini yang membuat hari ini tak secerah seperti hari-hari biasanya. Ada yang terasa beda di pagi sekarang. Hati ini terasa begitu sesak, dada ini sedikit sulit tuk bernafas normal seperti sedia kala. Ada satu masalah yang tidak bisa saya tulis dan ceritakan secara gamlang di blog ini, cukup hanya jiwa dan hati yang merasakan akan hal itu.

Hampir dua minggu ini saya ditugasi amanah sebagai sekretaris umum pengganti kang salman di KPMJB (keluarga paguyuban masyarakat jawa barat) mendampingi Gubernur KPMJB mempersiapkan segala bahan yang nanti akan di jadikan laporan pertanggung jawaban untuk sidang permusyawaratan anggota tahun ini, kebetulan kang salman sedang pulang ke indonesia dan rencananya akan melangsungkan akad nikah satu bulan ke depan. dan dengan terpaksa sayapun harus tinggal di sekretariat untuk sementara waktu sampai laporan pertanggung jawaban selesai.

Tiap malam sudah menjadi kewajiban untuk lembur dan begadang di depan layar komputer dengan merelakan jari-jari tangan ini selalau berada di atas keyboard, walaupun dirasa lelah dan cape namun ada sebuah rasa yang membuat hati ini tergerak sebagai warga Jawa Barat yang berada di Mesir untuk menyukseskan SPA tahun ini.

Dan Alhamdulillah hari kemarin sebagai hari dimana tugas itu akhirnya selesai juga. LPJ selesai saya cetak jam 03.00 malam dengan Ustadz Ajat di foto copy Syaima yang berada di kawasan mahatah mahkamah hay-7 sebanyak 40 eks. Pada waktu itu ada rasa kebahagiaan yang tak ternilai dengan apapun. Kelelahan satu minggu bisa terbayar dengan tercetaknya LPJ dengan lancar. Setelah selesai nyetak LPJ, saya sempatkan untuk minum koktail dan ashab sekedar melepas kelelahan.

Besoknya LPJ pun di gelar, saya sudah tak kuat lagi menahan lelahnya kedua mata dan seluruh anggota badan ini terasa begitu lemah, hari dimana LPJ dilaksanakanpun saya tak bisa mengikuti sampai selesai.

Setiap sudut ruangan penuh dengan panitia acara. Di dapur tim konsumsi sibuk dengan berbagai macam masakan yang nanti akan di sajikan, saya lihat daging sapi yang dikikis kecil-kecil hampir setengahnya sudah selesai. Di aula pasangrahan sudah barang tentu di penuhi peserta sidang, di ruangan perpustakaan bale sawala panitia sedang menyusun diktat GBHO, begitu juga di ruangan DP kang Ahmad Muharam menempelkan foto-foto kegiatan dewan pengurus KPMJB selama satu tahun masa jabatan diatas selembar karton, dan Fitri teman satu pemberangkatan setia duduk di depan komputer menggerakan jari-jari nya di atas keyboard yang biasa saya pakai, entah apa yang sedang ia kerjakan karena tak sempat saya tanyakan.

Tak lama saya melihat-lihat ruangan yang di hari biasanya tak begitu padat seperti hari itu. Mungkin inilah hajatan rutin setiap tahun dimana masa kepengurusan selama satu periode di pertanggung jawabkan.

Sebelum acara LPJ di mulai tak tahu kenapa saya ingin sekali merebahkan badan ini di atas kasur yang empuk. Akhirnya saya rencanakan pergi ke rumah mang Dede yang berada tak tauh dari lokasi sekretariat. Karena tidak akan mungkin saya tidur di sekretariat melihat hiruk pikuk panitia yang hilir mudik ke sana-kamari mengurusi masalah kepanitian. Tapi setelah saya pertimbangkan ternyata lebih baik saya pulang ke Tagammu Awwal dari pada tidur di rumah mang Dede, Karena sudah satu minggu saya tidak pulang ke rumah dan sudah rindu sekali dengan kondisi rumah di sana.

Alhamdulillah pagi ini saya masih di berikan kesehatan dan kekuatan untuk tetap beribadah mengabdi pada-Nya. Ya Allah berikanlah ketenangan hati dan jiwa ini, sehingga diri ini bisa lebih khusyu beribadah kepada-Mu. Ya Allah Terimalah segala amal ibadah kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

3 Tanggapan to “Redupnya Sinar Sang Mentari”

  1. .zazat said

    kang rido ternyata naluri pimred antum keren euy.lebih keren lagi ilmu bloging nya.jarang lo orang bisa bikin web di co.cc boleh dong berbagi elmunya.btw syima center itu bukan di rab’ah tapi di kawasan mahatah mahkamah hay-7.diantos lah kontribusi tulisannya di manggala kpmjb.bravo lah.

  2. mayasari said

    maaf, cuma mau mampir sejenak dan meninggalkan jejak untuk menyambung silaturahim…😀

  3. rapunzel94 said

    thank’s udah jadi inspirasi buat aku nulis cerpen…… thank’s bagt yaw………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: