Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Archive for Februari, 2010

Kasih Sayang yang Tergadaikan

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 14, 2010

Bulan ini, bagi sebagian orang merupakan moment yang sangat bersejarah, tidak terkecuali bagi mereka yang mempunyai pasangan pemuja cinta syaithani, entah mengapa saya menjadi tergelitik untuk sedikit mengomentari perayaan menyesatkan ini, tidak terlepas dari keprihatinan melihat bagaimana fenomena yang terjadi di masyarakat menjadikan perayaan ini sebuah agenda rutin yang harus di gelar dan di masyarakatkan setiap tahunnya.

Satu dampak yang sangat fatal adalah ketika masyarakat awwam yang tidak tahu apa-apa ikut serta dalam pesta kaum tersesat ini, membuat mata mereka tertutup karena begitu glamour acara yang mereka kemas, sehingga muda-mudi begitu antusias menyambut datangnya hari valentine’s day ini. Tanggal 14 februari sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia, entah kasih sayang mana yang mereka maksudkan. Di sisi lain pelopornya tiada lain adalah seorang pendeta nashrani yang berkorban mati, sehingga kelak dengannya menjadikan hari kematiaanya mereka kenang sebagai hari kasih sayang.

Saya akan kutip latar belakang sejarah digelarnya acara paganiseme ini sehingga menjadi sebuah ideologi di kalangan masyarakat khususnya pemeluk Nashrani, saya copy paste dari Majalah Qiblati Edisi 6 Tahun 2 dengan tambahan dari berbagai sumber.

Sejarah Valentine’S Day
Hari Valentine berasal dari masa jahiliyah Romawi kuno. Pada tanggal 13-18 Februari mereka mengadakan ritual penyucian, yang diantara rangkaiannya adalah Perayaan Lupercalia. Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan laki-laki. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Konon, menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya. Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Namun dalam kaitannya dengan acara valentine’s day, banyak pula orang mengkaitkan dengan St. Valentine yang lain. St. Valentine ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Iapun dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai valentine’s day atau Hari Kasih Sayang.

Setelah melihat sekilas history yang menjadi asas di selenggarakannya perayaan ini, ada satu hal yang membuat kening saya mengerut. Ketika saya membaca buku “Nihayatul Alam”Asyratussa’ah assugra walqubra, yang di tulis Ulama Sau’di, beliau adalah guru besar aqidah dan perbandingan agama Universitas Raja Saud Riyad, DR. Muhammad Ibn Abdurrahman Al-Arifi, dari 131 tanda-tanda kiamat yang beliau utarakan secara lengkap sesuai dalil al-quran dan as-sunnah, bacaan saya terhenti pada tanda-tanda kiamat ke 18 dimana sa’ah (hari kiamat) itu tidak akan terjadi, sebelum nampak ummat akhir zaman mengikuti sunnah-sunnah ummat terdahulu. Entah mengapa sejenak fikiran saya langsung tertuju kepada perayaan valentine’ day, dimana bulan ini akan segera di gelar, sekilas saya melihat berita di berbagai media elektronik termasuk media Nasional yang secara terang-terangan menyerukan perayaan ini secara masal, mengajak segenap masyarakat, termasuk para remaja yang masih polos untuk merayakannya. Akhirnya mereka merasa terfasilitasi dan merasa nyaman dengan perayaan sesat ini, terkesan ada sebuah legitimasi khusus untuk masyarakat yang akan merayakannya. Memang kalau kita analisa seksama ada hidden agenda dibalik perayaan valentine’s day ini, sehingga menciptakan sebuah paradigma yang mengarah ke penjerumusan aqidah, yang berakibat resahnya sebagian orangtua dikarenakan anak-anak mereka yang keluar malam tanpa izin menggadeng pacarnya untuk pesta bersama. Na’udzubillahi min dzalik

Miris mendengarnya, bagaimana nasib ummat kedepan bila para remaja sebagai ujung tombak kebangkitan di hantam fitnah yang begitu besar tanpa ada yang meluruskan dengan arahan syar’i, sehingga ia sadar akan posisinya sebagai seorang muslim yang faham akan aqidah dan akhlak Rasulullah saw.

Keterasingan ummat akan aqidah yang lurus menjadikan mereka “dengan terpaksa” mengikuti kebiasaan ummat terdahulu. Seakan mereka terjangkit penyakit latah, gengsi bila tidak ikut-ikutan, atau dorongan pacarnya sehingga ia tergulai lemah karena ancaman yang membuatnya harus menuruti keinginannya. Entah motif apa yang mereka sandarkan, Ngak ngetrend, ngak gaul atau apalah itu namanya semuanya seakan melebur dengan alam dan masa, manusia dipaksa untuk patuh akan perubahan zaman, rela menggadaikan keimanan hanya dengan sebuah kasih sayang buta.  Padahal sudah jelas rambu-rambu islam yang telah di gariskan, tidak ada sedikitpun keraguan bahwa al-quran dan as-sunnah menjadi kontrol stabilitas keutuhan ummat, selama keduanya dijadikan sebagai landasan dan pondasi keimanan, maka tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al-Isra’ : 36).

Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia inginkan. Syahwat Allah ciptakan dengan tabiatnya yang selalu ingin puas, tak merasa cukup dengan apa yang sedang ia rasakan, begitulah nafsu dan akal, perlu pengarah yang kelak dapat menuntunya ke jalan yang telah di tetapkan. Tak bisa ia berjalan sendiri, karena kadang ada sesuatu yang tidak bisa di jangkau oleh intuisi manusia, disinilah fungsi agama sebagai pembimbing manusia menuju keshalihan individu yang kelak akan mengantarkannya kepada kesalehan jama’i

14 abad yang lalu baginda Rasulullah saw, mewasiatkan bahwa akan datang suatu masa dimana fitnah yang sangat besar akan menimpa kaum muslimin.  Yaitu fitnah taqlid orang-orang bodoh yang tidak berpengatahuan, mereka dengan bangganya menyerupai kebiasaan dan akhlaq Yahudi dan Nashrani atau selain dari mereka dari golongan orang-orang kafir. Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh shahabat Abi Sa’id Al-Khudry r.a. Bahwa Rasulullah saw bersabda;
“Kelak kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…”

Imam Qadi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tentang kalimat, “Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…” bahwa hal ini menyiratkan kecendurangan mereka menyerupai dengan meniru dan mengikuti jejak kebiasaan mereka, sehingga dengan tidak sadar mereka terjerumus ke lembah kenistaan.

Hal itu semua sesuai dengan fakta yang sedang kita alami sekarang dimana proses akulturasi sedang melanda ummat islam, pemeluknya merasa enggan memperlihatkan identitasnya sebagai muslim, malah mereka seakan bangga membawa adat jahili di amalkan dalam ke seharian mereka. Padahal Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”

Mudah-mudahan dengan kesadaran dan pemahaman kita yang terus kita gali menambah keimanan dan rasa cinta kita kepada islam, dengan mengikuti sunnah yang telah di contohkan langsung oleh qudwah kita Baginda Besar Rasulullah saw. Dengan setia menjalankan dan mengamalkan ajarannya mudah-mudahan kita dijadikan ummatnya yang mendapatkan syafaatnya di yaumul qiyamah, amin. Walaupun rintangan menghadang terus berdatangan silih berganti, kita berdo’a semoga kita tetap diberikan keistiqmahan dalam memegang tali agama. insyaAllah.[]wallahu alam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Berbekalah…!

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Sebuah keinginan yang melekat dalam diri manusia sebagai fitrah gharizah yang Allah ciptakan sebagai ujian dan barometer ketaatan, dimana salah satu fitrah itu yaitu ingin selalu maju pada setiap sisi kehidupannya, tak terkecuali obsesinya untuk meraih kebahagiaan dunia dengan segala perhiasannya,

“Dijadikan Terasa indah dalam pandangan manusia terhadap apa yang di inginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik” (Q.S Ali Imran: 14)

Tidak ada yang salah memang, hanya yang menjadi catatan adalah proses mendapatkannya itu yang kadang sebagian orang lupa akan hakikat dirinya sendiri, ia lupa bahwa ia bukanlah makhluk tanpa khalik. Bahwa ia hidup bebas tanpa Mudabbir yang mengatur di setiap aspek kehidupan. Sadar ataupun tidak kelalaian itu diakibatkan jauhnya hati akan mengigat Allah swt. Semakin ia jauh dari mengingat Allah maka sejauh itu pula ia mendapatkan hidayah dari-Nya.

Sedikit demi sedikit ia tergelincir mengikuti jalan syaitan yang terlaknat, matanya di butakan oleh rayuan syaitan, hatinya di tutup oleh gemerlapnya dunia, telinganya seakan tak mendengar seruan Ilahi. semuanya terhijab disebabkan dirinya sendiri, dengan tidak sadar menjauhi hidayah Allah, bukan Allah yang membuat ia seperti itu, tapi manusianya sendiri yang lupa akan kewajiban dirinya.

Hidayah Allah itu sudah jelas, seterang mentari di ufuk timur, Haq itu nyata, dan Kebathilanpun nampak, jalan hidayah itu lurus menerangi setiap hamba yang raja‘ atas petunjuknya, setiap yang keluar dari manhaj itu, syaitan menjadi shahabat setia para pengikut jalan ke sesatan” na’udzubillahimindzalik.

Ketika kita melangkahkan kaki menuju sesuatu yang kita inginkan, dengan berbagai obsesi yang ada dalam benak. Semuanya begitu yakin dengan rencana yang begitu mantap di otak kita. Tapi, rasanya suatu hal yang mustahil apabila semuanya itu hanya ada dalam banyangan, melainkan semuanya harus kita raih dengan berjuang mengerahkan segenap kekuatan demi mencapai target secara tepat.

Bukanlah bekal materi yang di berikan oleh orang tua itu menjadi sebuah ukuran yang dapat menorehkan hasil dalam menuntut ilmu, tetapi azzam yang menghujam yang tertanam dalam diri, melekat di dalam hati yang akan mengantarkan kita ke puncak keberhasilan.

“Barang siapa yang menginginkan sesuatu dan berjuang pada jalannya pasti dapatla ia”
“Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, sungguh akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami”

Keikhlasan akan kondisi yang sedang di jalani merupakan keharusan dimiliki oleh pribadi para pencari ilmu. Dimana sikap; qana’ah, tawadhu, wara’, sabar, tawakal, khusyu, zuhud dan bermuhasabah atas apa yang telah di lakukan, semua itu akan menjadi faktor dimudahkannya jalan menuju apa yang di cita-citakan.

Cita-cita harus sebanding dengan pengorbanan dan getirnya perjalanan mendapatkan cita-cita itu sendiri. Allah tidak memberikannya dengan gratis dan mudah begitu saja. Tanpa perjuangan, dan pengorbanan. Sudah begitu banyak sejarah manis yang terukir dalam lembaran-lembaran kesabaran para ulama yang begitu serius dan bersungguh-sungguh tatkala mereka ada di medan perjuangan menuntut ilmu dalam rangka menegakan kalimatullah, tak sedikit dari mereka yang mengorbankan jiwa dan raganya, harta dan waktu yang ia miliki. Semuanya terekam indah dalam buku Shafahat min shabril ‘Ulama yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Guddah. Mereka para ulama begitu wara‘ menjaga adab dalam mencari ilmu, dan tak menafikan proses perjalanannya,

Teringat bagaimana perjuangan Sa’id ibn Musayyab dalam rihlahnya mencari hadits nabi, ia berkata:

“Sungguh saya melakukan perjalanan siang dan malam hanya untuk mendapatkan satu hadits Nabi”

Begitulah proses perjuangan para tabi’in dalam meneruskan estafeta perjuangan Rasulullah saw menegakan  kalimatullah agar tetap mengakar di bumi. Tak ada satupun dari mereka yang rela jika islam runtuh dan musnah di hantam oleh para Mustasyrikin (oreintalis) yang sengaja mencampuradukan agama tanpa hujjah dan dalil qat’i, mereka hanya menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati, seakan akal menjadi raja, tergulai lemah oleh nafsu syahwat dunia. Tidak memikirkan kemashlahatan ummat, mereka mengedepankan apa yang mereka tuju. Kepentingan kelompok dan pribadi. Satu tugas kita membendung pengaruh negatif ini yang sedikit demi sedikit akan mengganggu stabilitas keutuhan ukhuwah ummat islam.

Begitu indah munajat Tabi’in Sa’id ibn Jabir tatkala menengadah  kehariban Allah swt meminta karunianya,

“Allahumma inni asaluka shidquttawakkuli ‘alaika, wa husnudzanni bika..”

Satu hikmah yang ia pesankan dalam munajatnya menyimpan ghirah ruhiyah, bagaimana kekuatan tawakal yang kelak mengantarkan pemiliknya ke maqam tertinggi
Ia pun berwasiat,

“Bertawakalah atas apa yang Allah berikan, karena ia  merupakan kesempurnaan iman”

Pemandangan nan memesona dibalik kesederhanaan para ulama salafussalih dalam rihlahnya meununtut ilmu, mereka begitu menjaga adab bathiniah dengan tidak melupakan segi dzahiriah, keseimbangan diantara keduanya menjadikan seorang muslim yang kamil dengan kepribadian dan perangai yang di contohkan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam hal ini Syaikh Muhammad Ali Al-Hashimi dalam study komprehensifnya mengutarakan secara detail dalam bukunya Syakhsyiatul Muslim, bagaimana kepribadian yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Dengan semua piranti-piranti yang harus ada yang kelak akan menjadikannya sebagai seorang muslim hakiki, dimana dengan keberadaannya menjadikan suasana menjadi tentram, kehadirannya di tunggu banyak orang, pembicaraannya di dengar karena mangandung mau’idzah dan hikmah bak oase di padang tandus, membawa kehangatan dan kesejukan hati-hati yang kering.

Para pencari ilmu begitu hati-hati dengan waktu dan kondisi yang sedang ia jalani, wara‘  takut bila ada barang haram masuk ke dalam perut walaupun hanya sebiji kurma, menjaga mata bila ia lalai melihat sesuatu yang bukan haknya, ataupun kaki bukan melangkah untuk mencari keridlaan-Nya. Bahkan hati dan fikiran yang lalai akan memikirkan kekuasaan-Nya,

‘Innama yakhsyallahu min ‘ibadihil ‘ulama.
“Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama”(
Q.S Fathir : 28)

Rasa takut akan semua janji dan ancaman Allah, ia sadar bahwa semua gerak geriknya ada yang memperhatikan dan mencatatnya. Rasa takut yang kelak akan menjadikannya takut bermaksiat kepada Allah.

Hanya satu yang mereka cari, keridlaan Allah, mereka cari dalam medan juang thalabul ‘ilmi, terlena dengan nikmatnya mermunajat di hamparan ilmu Allah, mereka seakan tak ada tujuan kecuali hari dimana tiada keraguan di hati mereka, dimana harta, dan fitnah dunia tak berguna lagi.

Ada suatu Ibrah hasanah, yang dicatat langsung oleh murid Syaikh Abul Qadir dalam manaqibnya, ia bercerita tatkala Syeikh Abdul Qadir Zailani Qoddasollohu sirrohu. Akan menuntut ilmu, lalu oleh ibunya di buatkan baju yang di ketiaknya ada tempat untuk menyimpan uang, diberinya beberapa dinar oleh ibunya lalu ibunya berpesan kepada Syeikh agar selalu jujur dalam setiap kondisi apapun, lalu berpamitanlah  syeikh pada ibunya, tatkala dalam perjalanan terjadi sebuah hambatan yaitu terjadi sebuah perampokan, maka di rampoklah uang, dan harta penumpang yang ada dalam kendaraan tersebut, para penumpang ada yang tidak memberikan, malah ada yang memberontak, tetapi ketika giliran syeikh yang diminta bagiannya, maka syeikh berkata: “Tuan hanya inilah uang yang saya miliki”, dengan seraya memberikan semua uang yang ada dalam saku yang dibuatkan oleh ibunya, si perampok kaget dan terheran sejenak, karena baru kali ini ada yang dirampok memberikan uang yang di milikinya dengan sukarela, lalu seketika itu pula si perampok dan anak buahnya  meminta di jadikan pengikutnya (muridnya).

Sebuah keteladanan yang bisa dijadikan qudwah bagi kita bahwa sebuah kejujuran, keikhlasan itu merupakan sebuah bekal ketika kita mengarungi kehidupan ini, khususnya ketika kita mencari ilmu.

Manusia bisa selamat bila ia beradab
Dengan kerendahan hati manusia bisa mulia
Tapi  hanya dengan keangkuhan diri, seorang manusia bisa menjadi hina
Ketetapan (istiqamah) hati membawa ketenangan
Kelembutan hati membuat perangai menjadi indah
bila seseoramg diambil kelembutan hatinya
Maka tercabutlah kebaikannya
Hanya dengan bekal taqwa kamu bisa menjadi mulia………..!

Seorang mujahid, orang yang berjuang serta mempunyai keinginan keras, tidak mudah untuk menyerah, hidup dan mati semuanya telah di serahkan sepenuhnya kepada Allah swt, yang menggengem ruh dan jiwa. Jadi tak ada kata menyerah untuk berjuang.

Kita ingat cerita pejuang islam panglima perang Thariq ibn Ziad, membakar perahunya ketika sampai ke tepi pantai di wilayah musuh, Thariq melakukan hal itu agar para tentaranya tidak ingat ke tempat asal, memikirkan harta benda dan segala masalah keduniaan, melainkan hanya satu tujuan yaitu maju untuk menang karena apabila mundur yang ada hanya sebuah lautan yang terhampar luas, akan tetapi apabila maju melawan musuh dan berperang hingga sampai pada titik darah penghabisan balasannya tiadalain surga yang hamparannya seluas langit dan bumi.[]wallahualam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »

Dunia, Genggam oleh Tangan Kita

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Mengawali bahtera kehidupan ini perlu ada kesiapan dan perencanaan yang matang, hidup bukan hanya sekedar menumpang makan tapi ada sebuah tugas yang lebih mulia dibalik itu semua. Manusia diciptakan menjadi khalifah fil ardli, sudah menjadi tugas awal manusia harus mengurus dan memakmurkan bumi bukan manusia sebagai perusak dan penikmat bumi dengan mengeksplorasi kekayaan alam  tanpa memperhatikan kemanfaatan dan kemadharatannya.

Dengan berbagai konsekwensi yang kelak akan dihadapi, sebagai bahan pembelajaran dan menjadi tonggak awal meraih kemuliaan. Setiap manusia itu pasti akan diuji, segalanya; keimanan, jiwa raga. Itu merupakan ujian yang Allah berikan. Dan Allah pasti akan menguji hamba-hambanya dengan berbagai ujian dan cobaan; kegelisahan, ketakutan, kekurangan harta, jiwa. itu merupakan ujian dan cobaan. Dengan ujian seorang manusia akan dinaikan derajatnya sesuai dengan seberapa besar ia sabar dalam proses pengujian terseebut.

wasta’inu bishabri waashalah”

Dan mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
Sungguh semua perkara orang mukmin itu baik, sekiranya ia ditimpa musibah dan bencana ia bersabar dan bila ia diberi kenikmatan ia bersyukur. Bagai dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan semuanya merupakan kebaikan. Sabar sebagai kondisi terbaik yang apabila dilalui dengan istiqamah kelak Allah akan memberikan pahala tak terbatas. Dan pahala itu hanya diberikan untuk orang yang bersabar. Shalat sebagai washilah “alat” yang terbaik untuk menghadapi berbagai kondisi yang sedang dihadapi, bersahaja orang yang bertawakal dengan ikhtiar, sabar dan shalat. begitu indah melihat panorama orang mukmin dalam menghadapi getirnya hiruk pikuk dunia.

Rasulullah pernah bersabda,
“jadikan akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu”
Kenapa……terlalu naïf jika dunia dijadikan dihati. Jika saja dunia ini berharga niscaya orang musyrik oleh Allah tak akan diberi nikmat dunia sedikitpun, walaupun itu sebesar sayap nyamuk. dunia bila disimpan di hati kelak akan  menjadi pemuja dan pecinta dunia. Sakit hati yang akan dirasa, karena kita akan terbebani oleh urusan dunia.

Capek menjadi hamba dunia……..karena dunia akan meninggalkan kita. Sedangkan akhirat akan kekal bersama.  Dalam perjalanan hidup, seringkali kita melihat berbagai fenomena yang tidak sengaja kita perhatikan, tapi apakah kita sadar bahwa itu semua merupakan metode pengajaran Tuhan kepada hambanya…………?.tidak mungkin itu semua bergulir begitu saja tanpa arti dan makna yang terkandung didalamnya.
“wama khalaqta hadza bathila……subhanaka faqina ‘adzabannar..”.
wallahualam
-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Cahaya Diatas Cahaya

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Cahaya ilahi itu kini hadir dalam benak setiap hamba yang ikhlas akan semua taqdir yang Allah tetapkan. Begitu mesra Allah membelai hambanya dengan kasih sayang-Nya, tidak melihat siapapun; ia hitam atau putih, raja atau budak, kaya atau miskin, semuanya dengan Rahman-Nya, Allah tebarkan rizkinya di muka bumi kepada setiap makhluknya tanpa terkecuali.

Begitu indah dunia ini, kau lihat setiap alam yang membentang luas, Allah hamparkan bumi dengan segala isinya, Allah tinggikan langit dengan tanpa penopang satupun yang menyangganya. Allah sempurnakan penciptaan dengan kalam-Nya. Dengan cahaya-Nya, hati setiap manusia bisa merasakan begitu indah dan nikmat akan hidayah yang Allah karuniakan kepada hambanya yang terpilih.

Shabat Umar Ibn Khatab yang terkenal dengan hatinya yang keras dan menentang risalah Rasulullah saw hingga ia berencana akan membunuh Nabi oleh tangan sendiri, dengan nur hidayah ilahi ia pun luluh dan khudu‘ sehingga menjadikannya sebagai shahabat Nabi yang paling setia, penghadang Rasulullah saw dari gangguan kaum musyrikin ia juga di nobatkan sebagai salah satu sahabat Nabi yang diberi kabar berita gembira sebagai ahli surga, subhanallah.

Sungguh merugi manusia yang jauh akan hidayah Allah, ia tidak merasakan nikmatnya cahaya ilahi, cahaya yang merasuk dalam lubuk hati sanubari, menembus jiwa-jiwa yang tenang, membimbing setiap yang tersesesat ke jalan yang Allah ridlai.

Nuurun ‘ala nuur
Cahaya diatas cahaya…
Menjadikan yang gelap menjadi terang, yang tersesat menjadi terarah, bagai lentera yang menerangi kegelapan malam,

Allahummaj’al fii qalbi nuuran, wafii lisanii nuuran
Waj’al fi bashari nuuran, waj’al fii sam’i nuuran
Wa min  amami nuuran, wa min khalfi nuuran
Allahumma ‘atini nuuran…

Wallahualam

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | 2 Comments »