Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Berbekalah…!

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Sebuah keinginan yang melekat dalam diri manusia sebagai fitrah gharizah yang Allah ciptakan sebagai ujian dan barometer ketaatan, dimana salah satu fitrah itu yaitu ingin selalu maju pada setiap sisi kehidupannya, tak terkecuali obsesinya untuk meraih kebahagiaan dunia dengan segala perhiasannya,

“Dijadikan Terasa indah dalam pandangan manusia terhadap apa yang di inginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik” (Q.S Ali Imran: 14)

Tidak ada yang salah memang, hanya yang menjadi catatan adalah proses mendapatkannya itu yang kadang sebagian orang lupa akan hakikat dirinya sendiri, ia lupa bahwa ia bukanlah makhluk tanpa khalik. Bahwa ia hidup bebas tanpa Mudabbir yang mengatur di setiap aspek kehidupan. Sadar ataupun tidak kelalaian itu diakibatkan jauhnya hati akan mengigat Allah swt. Semakin ia jauh dari mengingat Allah maka sejauh itu pula ia mendapatkan hidayah dari-Nya.

Sedikit demi sedikit ia tergelincir mengikuti jalan syaitan yang terlaknat, matanya di butakan oleh rayuan syaitan, hatinya di tutup oleh gemerlapnya dunia, telinganya seakan tak mendengar seruan Ilahi. semuanya terhijab disebabkan dirinya sendiri, dengan tidak sadar menjauhi hidayah Allah, bukan Allah yang membuat ia seperti itu, tapi manusianya sendiri yang lupa akan kewajiban dirinya.

Hidayah Allah itu sudah jelas, seterang mentari di ufuk timur, Haq itu nyata, dan Kebathilanpun nampak, jalan hidayah itu lurus menerangi setiap hamba yang raja‘ atas petunjuknya, setiap yang keluar dari manhaj itu, syaitan menjadi shahabat setia para pengikut jalan ke sesatan” na’udzubillahimindzalik.

Ketika kita melangkahkan kaki menuju sesuatu yang kita inginkan, dengan berbagai obsesi yang ada dalam benak. Semuanya begitu yakin dengan rencana yang begitu mantap di otak kita. Tapi, rasanya suatu hal yang mustahil apabila semuanya itu hanya ada dalam banyangan, melainkan semuanya harus kita raih dengan berjuang mengerahkan segenap kekuatan demi mencapai target secara tepat.

Bukanlah bekal materi yang di berikan oleh orang tua itu menjadi sebuah ukuran yang dapat menorehkan hasil dalam menuntut ilmu, tetapi azzam yang menghujam yang tertanam dalam diri, melekat di dalam hati yang akan mengantarkan kita ke puncak keberhasilan.

“Barang siapa yang menginginkan sesuatu dan berjuang pada jalannya pasti dapatla ia”
“Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, sungguh akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami”

Keikhlasan akan kondisi yang sedang di jalani merupakan keharusan dimiliki oleh pribadi para pencari ilmu. Dimana sikap; qana’ah, tawadhu, wara’, sabar, tawakal, khusyu, zuhud dan bermuhasabah atas apa yang telah di lakukan, semua itu akan menjadi faktor dimudahkannya jalan menuju apa yang di cita-citakan.

Cita-cita harus sebanding dengan pengorbanan dan getirnya perjalanan mendapatkan cita-cita itu sendiri. Allah tidak memberikannya dengan gratis dan mudah begitu saja. Tanpa perjuangan, dan pengorbanan. Sudah begitu banyak sejarah manis yang terukir dalam lembaran-lembaran kesabaran para ulama yang begitu serius dan bersungguh-sungguh tatkala mereka ada di medan perjuangan menuntut ilmu dalam rangka menegakan kalimatullah, tak sedikit dari mereka yang mengorbankan jiwa dan raganya, harta dan waktu yang ia miliki. Semuanya terekam indah dalam buku Shafahat min shabril ‘Ulama yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Guddah. Mereka para ulama begitu wara‘ menjaga adab dalam mencari ilmu, dan tak menafikan proses perjalanannya,

Teringat bagaimana perjuangan Sa’id ibn Musayyab dalam rihlahnya mencari hadits nabi, ia berkata:

“Sungguh saya melakukan perjalanan siang dan malam hanya untuk mendapatkan satu hadits Nabi”

Begitulah proses perjuangan para tabi’in dalam meneruskan estafeta perjuangan Rasulullah saw menegakan  kalimatullah agar tetap mengakar di bumi. Tak ada satupun dari mereka yang rela jika islam runtuh dan musnah di hantam oleh para Mustasyrikin (oreintalis) yang sengaja mencampuradukan agama tanpa hujjah dan dalil qat’i, mereka hanya menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati, seakan akal menjadi raja, tergulai lemah oleh nafsu syahwat dunia. Tidak memikirkan kemashlahatan ummat, mereka mengedepankan apa yang mereka tuju. Kepentingan kelompok dan pribadi. Satu tugas kita membendung pengaruh negatif ini yang sedikit demi sedikit akan mengganggu stabilitas keutuhan ukhuwah ummat islam.

Begitu indah munajat Tabi’in Sa’id ibn Jabir tatkala menengadah  kehariban Allah swt meminta karunianya,

“Allahumma inni asaluka shidquttawakkuli ‘alaika, wa husnudzanni bika..”

Satu hikmah yang ia pesankan dalam munajatnya menyimpan ghirah ruhiyah, bagaimana kekuatan tawakal yang kelak mengantarkan pemiliknya ke maqam tertinggi
Ia pun berwasiat,

“Bertawakalah atas apa yang Allah berikan, karena ia  merupakan kesempurnaan iman”

Pemandangan nan memesona dibalik kesederhanaan para ulama salafussalih dalam rihlahnya meununtut ilmu, mereka begitu menjaga adab bathiniah dengan tidak melupakan segi dzahiriah, keseimbangan diantara keduanya menjadikan seorang muslim yang kamil dengan kepribadian dan perangai yang di contohkan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam hal ini Syaikh Muhammad Ali Al-Hashimi dalam study komprehensifnya mengutarakan secara detail dalam bukunya Syakhsyiatul Muslim, bagaimana kepribadian yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Dengan semua piranti-piranti yang harus ada yang kelak akan menjadikannya sebagai seorang muslim hakiki, dimana dengan keberadaannya menjadikan suasana menjadi tentram, kehadirannya di tunggu banyak orang, pembicaraannya di dengar karena mangandung mau’idzah dan hikmah bak oase di padang tandus, membawa kehangatan dan kesejukan hati-hati yang kering.

Para pencari ilmu begitu hati-hati dengan waktu dan kondisi yang sedang ia jalani, wara‘  takut bila ada barang haram masuk ke dalam perut walaupun hanya sebiji kurma, menjaga mata bila ia lalai melihat sesuatu yang bukan haknya, ataupun kaki bukan melangkah untuk mencari keridlaan-Nya. Bahkan hati dan fikiran yang lalai akan memikirkan kekuasaan-Nya,

‘Innama yakhsyallahu min ‘ibadihil ‘ulama.
“Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama”(
Q.S Fathir : 28)

Rasa takut akan semua janji dan ancaman Allah, ia sadar bahwa semua gerak geriknya ada yang memperhatikan dan mencatatnya. Rasa takut yang kelak akan menjadikannya takut bermaksiat kepada Allah.

Hanya satu yang mereka cari, keridlaan Allah, mereka cari dalam medan juang thalabul ‘ilmi, terlena dengan nikmatnya mermunajat di hamparan ilmu Allah, mereka seakan tak ada tujuan kecuali hari dimana tiada keraguan di hati mereka, dimana harta, dan fitnah dunia tak berguna lagi.

Ada suatu Ibrah hasanah, yang dicatat langsung oleh murid Syaikh Abul Qadir dalam manaqibnya, ia bercerita tatkala Syeikh Abdul Qadir Zailani Qoddasollohu sirrohu. Akan menuntut ilmu, lalu oleh ibunya di buatkan baju yang di ketiaknya ada tempat untuk menyimpan uang, diberinya beberapa dinar oleh ibunya lalu ibunya berpesan kepada Syeikh agar selalu jujur dalam setiap kondisi apapun, lalu berpamitanlah  syeikh pada ibunya, tatkala dalam perjalanan terjadi sebuah hambatan yaitu terjadi sebuah perampokan, maka di rampoklah uang, dan harta penumpang yang ada dalam kendaraan tersebut, para penumpang ada yang tidak memberikan, malah ada yang memberontak, tetapi ketika giliran syeikh yang diminta bagiannya, maka syeikh berkata: “Tuan hanya inilah uang yang saya miliki”, dengan seraya memberikan semua uang yang ada dalam saku yang dibuatkan oleh ibunya, si perampok kaget dan terheran sejenak, karena baru kali ini ada yang dirampok memberikan uang yang di milikinya dengan sukarela, lalu seketika itu pula si perampok dan anak buahnya  meminta di jadikan pengikutnya (muridnya).

Sebuah keteladanan yang bisa dijadikan qudwah bagi kita bahwa sebuah kejujuran, keikhlasan itu merupakan sebuah bekal ketika kita mengarungi kehidupan ini, khususnya ketika kita mencari ilmu.

Manusia bisa selamat bila ia beradab
Dengan kerendahan hati manusia bisa mulia
Tapi  hanya dengan keangkuhan diri, seorang manusia bisa menjadi hina
Ketetapan (istiqamah) hati membawa ketenangan
Kelembutan hati membuat perangai menjadi indah
bila seseoramg diambil kelembutan hatinya
Maka tercabutlah kebaikannya
Hanya dengan bekal taqwa kamu bisa menjadi mulia………..!

Seorang mujahid, orang yang berjuang serta mempunyai keinginan keras, tidak mudah untuk menyerah, hidup dan mati semuanya telah di serahkan sepenuhnya kepada Allah swt, yang menggengem ruh dan jiwa. Jadi tak ada kata menyerah untuk berjuang.

Kita ingat cerita pejuang islam panglima perang Thariq ibn Ziad, membakar perahunya ketika sampai ke tepi pantai di wilayah musuh, Thariq melakukan hal itu agar para tentaranya tidak ingat ke tempat asal, memikirkan harta benda dan segala masalah keduniaan, melainkan hanya satu tujuan yaitu maju untuk menang karena apabila mundur yang ada hanya sebuah lautan yang terhampar luas, akan tetapi apabila maju melawan musuh dan berperang hingga sampai pada titik darah penghabisan balasannya tiadalain surga yang hamparannya seluas langit dan bumi.[]wallahualam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: