Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Kasih Sayang yang Tergadaikan

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 14, 2010

Bulan ini, bagi sebagian orang merupakan moment yang sangat bersejarah, tidak terkecuali bagi mereka yang mempunyai pasangan pemuja cinta syaithani, entah mengapa saya menjadi tergelitik untuk sedikit mengomentari perayaan menyesatkan ini, tidak terlepas dari keprihatinan melihat bagaimana fenomena yang terjadi di masyarakat menjadikan perayaan ini sebuah agenda rutin yang harus di gelar dan di masyarakatkan setiap tahunnya.

Satu dampak yang sangat fatal adalah ketika masyarakat awwam yang tidak tahu apa-apa ikut serta dalam pesta kaum tersesat ini, membuat mata mereka tertutup karena begitu glamour acara yang mereka kemas, sehingga muda-mudi begitu antusias menyambut datangnya hari valentine’s day ini. Tanggal 14 februari sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia, entah kasih sayang mana yang mereka maksudkan. Di sisi lain pelopornya tiada lain adalah seorang pendeta nashrani yang berkorban mati, sehingga kelak dengannya menjadikan hari kematiaanya mereka kenang sebagai hari kasih sayang.

Saya akan kutip latar belakang sejarah digelarnya acara paganiseme ini sehingga menjadi sebuah ideologi di kalangan masyarakat khususnya pemeluk Nashrani, saya copy paste dari Majalah Qiblati Edisi 6 Tahun 2 dengan tambahan dari berbagai sumber.

Sejarah Valentine’S Day
Hari Valentine berasal dari masa jahiliyah Romawi kuno. Pada tanggal 13-18 Februari mereka mengadakan ritual penyucian, yang diantara rangkaiannya adalah Perayaan Lupercalia. Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan laki-laki. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Konon, menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya. Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Namun dalam kaitannya dengan acara valentine’s day, banyak pula orang mengkaitkan dengan St. Valentine yang lain. St. Valentine ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Iapun dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai valentine’s day atau Hari Kasih Sayang.

Setelah melihat sekilas history yang menjadi asas di selenggarakannya perayaan ini, ada satu hal yang membuat kening saya mengerut. Ketika saya membaca buku “Nihayatul Alam”Asyratussa’ah assugra walqubra, yang di tulis Ulama Sau’di, beliau adalah guru besar aqidah dan perbandingan agama Universitas Raja Saud Riyad, DR. Muhammad Ibn Abdurrahman Al-Arifi, dari 131 tanda-tanda kiamat yang beliau utarakan secara lengkap sesuai dalil al-quran dan as-sunnah, bacaan saya terhenti pada tanda-tanda kiamat ke 18 dimana sa’ah (hari kiamat) itu tidak akan terjadi, sebelum nampak ummat akhir zaman mengikuti sunnah-sunnah ummat terdahulu. Entah mengapa sejenak fikiran saya langsung tertuju kepada perayaan valentine’ day, dimana bulan ini akan segera di gelar, sekilas saya melihat berita di berbagai media elektronik termasuk media Nasional yang secara terang-terangan menyerukan perayaan ini secara masal, mengajak segenap masyarakat, termasuk para remaja yang masih polos untuk merayakannya. Akhirnya mereka merasa terfasilitasi dan merasa nyaman dengan perayaan sesat ini, terkesan ada sebuah legitimasi khusus untuk masyarakat yang akan merayakannya. Memang kalau kita analisa seksama ada hidden agenda dibalik perayaan valentine’s day ini, sehingga menciptakan sebuah paradigma yang mengarah ke penjerumusan aqidah, yang berakibat resahnya sebagian orangtua dikarenakan anak-anak mereka yang keluar malam tanpa izin menggadeng pacarnya untuk pesta bersama. Na’udzubillahi min dzalik

Miris mendengarnya, bagaimana nasib ummat kedepan bila para remaja sebagai ujung tombak kebangkitan di hantam fitnah yang begitu besar tanpa ada yang meluruskan dengan arahan syar’i, sehingga ia sadar akan posisinya sebagai seorang muslim yang faham akan aqidah dan akhlak Rasulullah saw.

Keterasingan ummat akan aqidah yang lurus menjadikan mereka “dengan terpaksa” mengikuti kebiasaan ummat terdahulu. Seakan mereka terjangkit penyakit latah, gengsi bila tidak ikut-ikutan, atau dorongan pacarnya sehingga ia tergulai lemah karena ancaman yang membuatnya harus menuruti keinginannya. Entah motif apa yang mereka sandarkan, Ngak ngetrend, ngak gaul atau apalah itu namanya semuanya seakan melebur dengan alam dan masa, manusia dipaksa untuk patuh akan perubahan zaman, rela menggadaikan keimanan hanya dengan sebuah kasih sayang buta.  Padahal sudah jelas rambu-rambu islam yang telah di gariskan, tidak ada sedikitpun keraguan bahwa al-quran dan as-sunnah menjadi kontrol stabilitas keutuhan ummat, selama keduanya dijadikan sebagai landasan dan pondasi keimanan, maka tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al-Isra’ : 36).

Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia inginkan. Syahwat Allah ciptakan dengan tabiatnya yang selalu ingin puas, tak merasa cukup dengan apa yang sedang ia rasakan, begitulah nafsu dan akal, perlu pengarah yang kelak dapat menuntunya ke jalan yang telah di tetapkan. Tak bisa ia berjalan sendiri, karena kadang ada sesuatu yang tidak bisa di jangkau oleh intuisi manusia, disinilah fungsi agama sebagai pembimbing manusia menuju keshalihan individu yang kelak akan mengantarkannya kepada kesalehan jama’i

14 abad yang lalu baginda Rasulullah saw, mewasiatkan bahwa akan datang suatu masa dimana fitnah yang sangat besar akan menimpa kaum muslimin.  Yaitu fitnah taqlid orang-orang bodoh yang tidak berpengatahuan, mereka dengan bangganya menyerupai kebiasaan dan akhlaq Yahudi dan Nashrani atau selain dari mereka dari golongan orang-orang kafir. Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh shahabat Abi Sa’id Al-Khudry r.a. Bahwa Rasulullah saw bersabda;
“Kelak kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…”

Imam Qadi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tentang kalimat, “Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…” bahwa hal ini menyiratkan kecendurangan mereka menyerupai dengan meniru dan mengikuti jejak kebiasaan mereka, sehingga dengan tidak sadar mereka terjerumus ke lembah kenistaan.

Hal itu semua sesuai dengan fakta yang sedang kita alami sekarang dimana proses akulturasi sedang melanda ummat islam, pemeluknya merasa enggan memperlihatkan identitasnya sebagai muslim, malah mereka seakan bangga membawa adat jahili di amalkan dalam ke seharian mereka. Padahal Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”

Mudah-mudahan dengan kesadaran dan pemahaman kita yang terus kita gali menambah keimanan dan rasa cinta kita kepada islam, dengan mengikuti sunnah yang telah di contohkan langsung oleh qudwah kita Baginda Besar Rasulullah saw. Dengan setia menjalankan dan mengamalkan ajarannya mudah-mudahan kita dijadikan ummatnya yang mendapatkan syafaatnya di yaumul qiyamah, amin. Walaupun rintangan menghadang terus berdatangan silih berganti, kita berdo’a semoga kita tetap diberikan keistiqmahan dalam memegang tali agama. insyaAllah.[]wallahu alam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: