Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Dilematis; Antara Memilih Studi dan Menikah

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 6, 2010

Oleh: Alnofiandri Dinar, Lc.

Pada sebuah majlis, beberapa orang berkawan saling curhat sesama mereka. Ada yang curhat menyampaikan keluh kesahnya, bahwa selama ini ia selalu dihujani pertanyaan, “kapan dunsanak akan menikah?” Teman yang lain beda lagi curhatnya, “bagaimana menurut dunsanak, setelah menamatkan kuliah di Al Azhar, apakah sebaiknya saya langsung melanjutkan studi pascasarjana di Mesir, mungkin di Al Azhar atau Universitas lainnya? Kalau memang ingin melanjutkan studi pascasarjana di Mesir ini –terutama bagi akhawat-, apa mesti menikah terlebih dahulu?”
Tema curhatan mereka cendrung sama. Tersirat ada kekhawatiran dan secercah kegamangan untuk menapaki sebuah masa depan.

Bagi saya pribadi, tema ini menarik untuk diperbincang. Melalui sedikit goresan ini, saya akan mencoba untuk sharing dengan sahabat milist dalam mencerna masalah ini. Di kala membaca tulisan ini, barangkali akan terbersit di fikiran dunsanak bahwa sharing berikut hanyalah senjata dan alasan klise para bujang yang takut menikah! Namun saya yakin, pembaca budiman akan mampu membedakan antara sebuah mutiara dan sebutir pasir. Saya percaya dunsanak akan mampu memilah seperti mengalirnya susu dari perut binatang yang mengalir diantara darah dan kotorannya! Hemat saya, orang-orang berakal tidak akan mungkin menjatuhkan posisinya di bawah binatang, seperti gambaran Allah pada QS: Al A`raf: 179. Manusia ketika mematikan akalnya, maka ia lebih buruk dari binatang!

Cerdas merencanakan!
Ketika diajukan pertanyaan seperti curhatan diatas, saya akan menjawab dengan sebuah ungkapan, seorang tokoh: “Ketika ada keleluasaan untuk memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Serahkan pilihan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Berkehendak dan Yang Maha Memiliki pilihan”. Urang awak juga sering mengungkapkan “Usah takuik jo ombak gadang. Indak sado ombak gadang nan ka mangguluang”. Tidak ada yang perlu ditakutkan, apalagai untuk sebuah masa depan. Seperti yang diungkapkan di dalam kitab Hikam;
“Rehatkanlah jiwa anda dari perencanaan masa datang, apapun yang dilakukan oleh orang lain untuk anda, tetap saja bukan anda yang melakukannya untuk diri anda!”
Renungkanlah ungkap syair berikut:
“Tidak ada satupun yang terjadi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Buanglah segala kegundahanmu dan campakkanlah! Tinggalkan semua hal yang menyibukkanmu dan rehatkanlah dirimu!”
Karena memang tidak ada yang tahu apa yang mesti dilakukan oleh seseorang pada esok harinya (Rujuk QS: Luqman: 34). Toh esok hari belum pasti datang atau kita yang tidak sempat mendapatinya! Tapi merencanakan sebuah masa depan gemilang adalah tipe orang-orang berakal yang patut diacungkan jempol. Karena seorang manusia tidak akan mendapati sesuatu, kecuali sesuai dengan pengorbanannya! Seorang muslim yang berprestasi seyogyanya memiliki jadwal harian dan agenda kehidupan yang terukur untuk mewujudkan visi dan misi matang. Sederhananya, seperti Fahri, di dalam novel AAC nya Kang Abik.

Bijak melihat realita!
Pelbagai pertanyaan dan kekhawatiran di masa datang tidak usah ditakutkan, tapi perlu difikirkan dan direncanakan. Kecerdasan seseorang dalam `merencanakan` adalah bagian dari keberhasilannya dalam mengarungi kehidupan. Ketika telah berani berencana, berupayalah semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Meskipun segala sesuatu yang akan kita lakukan sudah diketahui oleh Allah di zaman azali, namun kita tidak pernah tahu apa yang akan kita lalui dalam hidup ini! Semuanya telah ada dalam qadha dan qadar Allah terhadap manusia seluruhnya. Ketika si janin didatangi oleh sang malaikat di dalam rahim, janinpun sudah berkomunikasi dan berjanji dengan utusan RabbNya. Agenda kehidupan yang dihadapi selama di dunia dan akhir dari penghidupannya di dunia sudah dijelaskan (lihat: hadits `Arbain no: 4 dan rujuk juga dalam kajian akidah tentang sifat qudrah Allah, af`al ibad, dan bab qadha dan qadar)

Ketika lahir ke dunia manusia memulai kehidupannya sebagai dar al ibtila`, menjalani serentetan ujian sebagai sunnatullah sebelum kembali keharibaanNya di suatu hari kelak. Selama di dunia manusia dibekali akal dan wahyu, agar hidup memiliki panduan yang jelas dan menggiringnya menuju Allah. Seorang yang cerdas pasti akan menggunakan akalnya dan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menapaki kehidupan yang tak lama ini. Ia tunduk kepada ketaatan dan menaklukkan hawa yang menguasai diri. Baginya, kehidupan hanya ibarat sebuah persinggahan seorang musafir di sebuah perjalanan panjangnya! Tabiat sebuah persinggahan tentu saja sebentar, tidak bisa lama. Hidup kita di dunia ini ibarat sebuah titipan. Dan tabiat sebuah titipan adalah mesti dikembalikan, ketika pemiliknya menginginkan titipan tersebut! Tentu saja mereka mesti mencari bekal sebanyak-banyaknya. Namun perlu dipahami bahwa banyak amal bukan jaminan untuk kebahagiaan dan husnul khatimah. Karena kebahagiaan ada pada ridha Allah. Tiket surga bukan pada banyaknya amal, tapi ridha Allah!

Jangan gegabah, tapi fikirkanlah dengan matang!
Wujud kecerdasan merencanakan adalah cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dan tidak mudah tergesa-gesa serta tidak berfikir kekanak-kanakan saat memutuskan sebuah perkara. Seperti yang sering diungkapkan oleh urang awak `dek arok hujan di hulu, aia di embe alah dibuang duluan`. Ketika kesempatan ada, jangan sampai disia-siakan! Tangkaplah setiap kesempatan yang ada dan bermain cantiklah menggunakan kesempatan tersebut! Ketika ada peluang untuk melanjutkan studi pascarsajana, manfaatkanlah terlebih dahulu. Jangan sampai buang kesempatan ini, karena mengharapkan iming-iming fatamorgana nun jauh disana dan belum tentu terjadi.

Kepada mereka yang memiliki himmah seperti himmah para raja, jangan pernah mudah takluk karena kata si fulan dan sindiran si fulan! Jangan pernah berhenti, sampai himmah dunsanak terwujud! Kata sebagian urang awak: “Bialah urang maju kasadonyo, asal awak tetap di muko!” Jangan dihantui oleh bayang-bayang kegagalan dalam perjalanan studi dan membuat dunsanak kalah sebelum berjuang. Orang-orang yang mengetahui nilai sebuah pencariannya, maka akan ringan saja semua rintangan yang ada di depan matanya! Begitu juga ketika ada kesempatan untuk mengkhitbah atau dikhitbah oleh orang lain, jangan gegabah untuk menerima dan menolak! Fikirkanlah secara matang. Bermusyawarah dan berdiskusilah dengan orang-orang yang baik. Duduak basamo taraso lapang, duduak surang malah taraso sampik. Kadukan semuanya kepada Allah melalui istikharah di penghujung malam yang pekat, di kala fajar sudah mulai mengintip dengan kedatangan Subuh!

Pertimbangkanlah!
Belajar dan menikah keduanya adalah bentuk ibadah kepada Allah. Tidak akan saling bertentangan. Keduanya bisa diselaraskan oleh orang-orang yang cerdas. Tidak ada salahnya menikah di saat berstatus mahasiswa. Namun karena dunsanak bukan seorang manusia super, ada baiknya dunsanak renungi beberapa mutiara hikmah –terutama oleh para rijal- yang menginginkan ilmu. Ringkasnya tabiat dan sunnah ilmu sulit untuk dimadu! Karena ilmu adalah mutiara paling berharga yang ada di dunia ini. Untuk mendapatkannya tentu saja tidak mudah! Saya harap dunsanak tidak melihat ilmu dari kulit-kulitnya saja, karena dunsanak akan sangat mudah menganggap enteng sebuah ilmu dan berkata sesuka dunsanak. Jangan bayangkan bahwa mendapatkan ilmu itu cukup dengan mentelaah lembaran-lembaran kertas yang bisu dengan bantuan kamus!

Kata sebagian orang:
“Orang-orang yang tidak pernah menghadapi pelbagai penderitaan, tidak akan pernah meraih dambaannya!”

Tidak heran bila sebagian ulama mengatakan:
“Betapa sedikit sekali para pelajar yang menikah saat belajar, karena ilmunya akan terkapar diantara paha-paha kaum hawa, sementara ilmu jikalau tidak engkau persembahkan seluruh dirimu, maka ilmu tidak akan menyentuhmu meskipun secuilnya!”

Adalah sangat wajar bila ada yang mengatakan:
“Ilmu sangat tinggi maqamnya, pencariaan yang sangat melelahkan, sangat sulit untuk diikat, tidak bisa didapati melalui mimpi dan tidak diwariskan dari orangtua dan para paman. Ilmu itu adalah tanaman yang sedang ditanam di dalam diri dan disirami dengan cara belajar. Dibutuhkan pengorbanan penuntutnya dengan pelbagai kelelahan dan harus siap bergadang. Apakah mereka mengira, orang-orang yang siang harinya sibuk dengan mengumpulkan harta dan malam harinya sibuk dengan istrinya, akan menjadi seorang faqih? Tidak akan perah terjadi, betapa jauhnya jarak antara barat dan timur! Akan tetapi mesti meluruskan niat, membenarkan bisikan bashirah, mengalahkan hawa nafsu, berkorban mengejar himmah yang mulia, berani mengarungi setiap negeri untuk mendatangi para ahlinya, selalu harap untuk mendapatnya dan meraih keutamaannya. Buatlah perutmu lapar, merantau dan tinggalkanlah negerimu, tinggalkanlah banyak obrolan, dan jangan mudah bosan saat mengulang dan menghafal pelajaran…

Senada dengan itu, Imam Suyuthi di awal kitab al Asybah Wa al Nazhair, mengutipkan:
“Demi hidupku, sesungguhnya ilmu ini tidak akan didapatkan dengan “berangan-angan”, tidak akan diperoleh dengan pelbagai statement, “nanti ajalah”, “semoga saja”, “andai aku”,…dan juga tidak akan dicapai kecuali dengan menyingsingkan lengan baju, peras keringat, berpisah dengan sanak-keluarga, menahan syahwat, menyeberangi lautan, menembus angin badai, kontinue bolak-balik dari satu pintu ke pintu (rumah ulama/guru/dosen) di malam yang gelap, menghadiri majlis orang-orang besar, dan memacu kendaraan untuk memburu setiap hikmah yang berseliweran.”

Sebagian lain berkomentar:
“Jikalau anda ingin sukses dalam belajar, batasilah relasi anda dan minimalisirlah rintangan yang menghadang!”

Lebih ekstrem dari ini, ada yang berkomentar:
Seorang penuntut ilmu bahkan memilih untuk tidak berziarah dan tidak diziarahi.

Sebelum memutuskan menikah, ada baiknya bila dunsanak memilih belajar terlebih dahulu!
Selalu seorang yang berprestasi di kampung masing-masing, tentu tidak wajar, bila;
1. Merasa yakin dengan tersedianya waktu di masa datang, dan menunda belajar saat ini.
Hari ini yang dihabiskan untuk belajar mengajar akan jauh lebih baik daripada hari esok. Telur hari ini tetap jauh lebih baik dari ayam hari esok. Belajarlah sekarang juga, sebelum dunsanak menjadi tokoh besar! Seorang manusia semakin hari semakin tua, maka akan semakin banyak pula tanggungjawab dan beban hidupnya. Akan semakin banyak hal yang akan membuat konsentrasinya beralih, karena banyak hal yang perlu dipikirkan dan dilakukannya. Tidak lagi hanya belajar dan pokus dengan ilmu yang digelutinya saban hari. Sudah sangat akrab di telinga kita ungkapan: “Kewajiban yang mesti ditunaikan jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.”

Apapun yang terjadi, belajar di waktu kecil tetap jauh lebih baik, dan jangan pernah menunda-menuda. Belajar diwaktu kecil ibarat mengukir di atas batu dan belajar di waktu dewasa, laksana menulis di atas air. Pasti akan beda, bukan? Pada hakekatnya “kemarin” dan “esok” adalah “hari ini” juga. Mengalir bagai air dalam dzikir dan fikir, japi jangan kikir dan mudah getir. Menuntut ilmu ibarat menanam pohon. Siapkanlah hati sebagai ladang ikhlas yang gembur dan subur. Tanam “pohon ilmu” dengan sabar dan rawatlah dengan kasih sayang. Jangan sampai melontarkan sebuah ungkapan yang kerap di telinga kita:
“Andai masa muda kembali pada suatu hari kelak, maka pasti akan aku beri tahu kepada mereka apa yang dirasakan oleh seorang yang sudah tua!”

2. Merasa yakin dan mengandalkan kecerdasan!
Betapa banyak orang yang kehilangan kesempatan menuntut ilmu, gara-gara mengandalkan kecerdasannya dan menunda-nunda waktu untuk belajar. Saat usia muda, kecerdasan otak memang beghitu cemerlang, semua ilmu bisa diterima dan dicerna dengan mudah. Sangat mudah menghafal dan menghadirkan kembali hafalan di kala butuh. Akan tetapi pisau yang tajam akan tumpul jika ia tak pernah lagi dimanfaatkan dan tidak lagi diasah. Akan tumpul dan karatan. Sejalan dengan bergulirnya waktu, pisau tadipun akan hancur dengan sendirinya. Begitu juga kecerdasan otak manusia. Akan pudar dan akan hilang sama sekali! Sesuatu yang dalam genggaman kita hari ini adalah milik kita, tetapi belum tentu kita memilikinya kembali di masa datang. Jangan pernah menuda-nunda. Bersemangatlah!

3. Melupakan bekal yang masih terlalu sedikit?!
Sekali-kali bertanyalah kepada diri dan sadarilah sepenuhnya bahwa kita baru mengetahui secuil gugusan kalimat yang ada di muqarrar. Itupun sebatas tahdid untuk ujian dan belum tentu paham, hanya sekedar hafal sebagai bekal untuk menghadapi ujian! Ilmu itu bukan menukilkan kata Syaikh fulan begini dan begitu, tapi ilmu adalah malakah `ilmiah, kemampuan ilmiah kita! Para ulama sering mengatakan: “Fokus orang-orang besar adalah penguasaan terhadap suatu ilmu (dirayah), sedangkan fokus seorang kerdil adalah menukilkan perkataan orang lain (riwayat)”. Tidak sedikit hari ini kita temui orang-orang yang menukilkan ucapan orang lain, tapi ia tidak paham apa yang dimaksudkan oleh orang yang menuturkannya. Makanya Tidak jarang terjadi kriminal ilmiah dan perkataan orang lain dipelintirkan sesuai dengan hawanya! Bermaksud mensyarah sebuah kitab, tapi malah mentajrih pengarang kitab dan ulama!

Jangan tunggu suatu hari, saat orang-orang bertanya dan dunsanak hanya bisa menjawab, “masalah ini ada di dalam kitab saya yang itu, tapi saya lupa jawabannya!” Bukankah orang-orang yang tidak tahu fiqh, tidak akan mungkin memberikan ilmu fiqh kepada orang lain?! Bukankah sangat tidak wajar, bila seorang dokter memberikan obat kepada pasiennya, sementara sang dokter mesti diobati terlebih dahulu! Bila para Buyanya butuh diluruskan dan masih sangat butuh tambahan ilmu, palagi masyarakatnya?! Jangan salahkan jikalau ilmu agama justru salah dipahami oleh masyarakat!

Sabar dan sadarilah!
Jikalau di dalam belajar dunsanak menemui banyaknya kendala, itu adalah wajar. Karena seperti yang sudah dipaparkan bahwa ilmu adalah mutiara paling berharga dan warisan para Nabi dan Rasul yang tidak bisa didapati oleh sembarang orang! Bila dunsanak belajar bertahun-tahun dan menamatkan beberapa kitab kemudian menjadi seorang alim, itu adalah wajar. Namun bila dunsanak membaca satu atau dua kitab, atau datang ke majlis ilmu satu atau dua kali, kemudian sudah bisa berfatwa halal-haram, kafir, bid`ah, dsb! itu adalah sangat tidak wajar, itu adalah khariqun lil `adah, yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul!

Ketika sudah merasa sulit untuk belajar dan menghafal, tidak selamanya solusinya adalah menikah! Ketika fikiran tidak lagi fokus untuk belajar, tidak selamanya sebabnya karena ada syahwat yang sedang menggelora! Perhatikanlah apa yang diungkapkan oleh para ulama rabbany: Jiwa ketika tidak disibukkan dengan taat, maka ia akan disibukkan oleh maksiat. Selama ini bukankah waktu kita lebih banyak untuk maota, makan batambuah, keasyikan menikmati kasur dan berselancar di dunia maya?!

Bukankah tugas dan tanggungjawab kita di ranah minang sangat berat, namun kapan mempersiapkannya, jikalau bukan sekarang?! Jikalau ada cita-cita membangun ranah minang, apa yang akan dunsanak bangun disana dan dengan apa dunsanak membangunnya?! Jikalau selama ini dunsanak selalu meneriakkan slogan Mambangkik Batang Tarandam, apa yang akan dunsanak bangkik di ranah minang? Jikalau mau menerapkan syariat islam, apa yang mau diterapkan, jikalau syariat islam belum ada di kepala dunsanak?! Berupayalah untuk menyingkap tempurung yang sedang mengungkung, karena dunia terlalu luas dan tidak sesempit yang dunsanak fikirkan. Banyak pelajaran yang bisa diambil pada diri kita masing-masing dan dunia kita untuk membangun ranah minang!

Buatlah keputusan dan serahkanlah sepenuhnya kepada Allah!
Tidak usah takut untuk menempuh perjalanan menuntut ilmu dan tidak usah gamang menapaki tangga pernikahan. Toh semua yang dikhawatirkan belum tentu terjadi. Apa yang dialami oleh orang lain belum tentu dunsanak alami, karena setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Kepada para bujang dan dara, jangan takut sendirian di dunia ini dengan status single sepanjang masa! Bukankah sandal saja dibuat berpasang-pasangan, apalagi manusia?! Silahkan rujuk kembali QS: Al Naba`: 8.

Athailah Al Sakandary di dalam kitab Al Tanwir Fie Isqat Al Tadbir, mengutipkan:
“Bahwa tidak akan bertentangan antara tawakkal dengan mengupakan sebab dalam meraih rizki, seperti yang disabdakan oleh Rasul Saw: “Bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah cara meminta” Rasul Saw. benar-benar membolehkan kita meminta kepada Allah. Jikalaulah bertentangan dengan konsep tawakkal, maka pasti kita akan dilarang meminta. Namun Rasul Saw. tidak mengatakan “jangan kalian meminta!” Akan tetapi beliau bersabda: “perbaguslah cara meminta!”, seolah-olah beliau menyampaikan: “ketika meminta kepada Allah, jadilah orang yang baik cara memintanya, yaitu tetaplah bersama Allah dengan beradab kepadaNya dan menyerahkan murni segala sesuatu kepadaNya.”

Ada sebuah ungkapan Dr. Ramadhan Al Buthy, yang sangat patut kita renungi; “Sesunguhnya Allah tidak akan lemah untuk memancarkan cahaya hidayah yang dipaksakan masuk ke dalam hati orang paling kafir. Dan Allah mampu untuk melemparkan cahaya kesesatan ke dalam hati orang yang paling shalih diantara orang-orang yang beriman. Akan tetapi Allah sudah menetapkan bagi diri Nya (sebagai wujud ihsan dan anugerah dari Allah), bahwa Allah tidak akan menyesatkan, kecuali setiap orang yang mengantarkan dirinya kepada sebab-sebab kesesatan dan memalingkan dirinya dari seluruh sarana yang mengantarkan ia kepada hidayah yang diberikan Allah untuk menggapai hidayah. Dan Allah akan mendekatkan sebab-sebab hidayah dan taufiq kepada setiap orang yang bertekad untuk memenuhi perintah Allah dan seluruh taklif dari Allah.”

Perhatikanlah qudrah Allah kepada makhluqNya. Bila membolak-balikkan jari adalah sangat ringan bagi manusia, maka bagi Allah lebih mudah lagi untuk mengendalikan hati dan kehidupan kita. Tidak sulit bagi Allah untuk menjadikan seseorang itu muslim atau kafir, apalagi hanya sekedar untuk menentukan dan mengatur garis kehidupan kita yang lemah. semuanya mudah terjadi, jikalau Allah berkehendak! Ketika kita mengupayakan sebuah kebaikan, maka Allah telah berjanji kepada diriNya untuk tidak akan mengecewakan setiap orang yang telah berupaya dan memudahkan untuk meraihnya! Ketika kita memimpikan sebuah masa depan, tetapi tidak mau mengupayakannya, maka jalan-jalan untuk meretas kesuksesanpun jangan diharapkan mendekat kepada kita!

Teori-teori diatas sangat mudah diucapkan, namun sayangnya konsep ini bukan pekerjaan lisan, akan tetapi tugas hati dan akal yang bening untuk mencernanya!

Gubuk Tua Di Sudut Al Azhar, 26 April 2010

Satu Tanggapan to “Dilematis; Antara Memilih Studi dan Menikah”

  1. Adhi said

    Assalamu ‘alaikum, Izin copy… ya (lumayan semangat jadi melesat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: