Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Archive for Desember, 2010

Cinta Rasa Al-Azhar

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 12, 2010

Oleh: Muhammad Zakaria Darlin
Mahasiswa Bahasa Arab Jurusan Umum tingkat 2
Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Malam ini sebagian temanku sudah merebahkan badan mereka dengan lelapnya di pembaringan yang empuk dan nyaman, selimut tebal meliputi badan mereka memberikan kehangatan jasmani semalam. Malam yang dingin, udara yang tenang hampa membuat mereka tertidur pulas, nyaman sekali. Namun mataku susah terpejam saat ini, tiba-tiba pikiranku melayang, mataku melirik keyboard. Aku ambil keyboard itu, dan jari-jariku pun mulai menari-nari di atas lembaran Microsoft Word 2003 di notebook ku yang sangat mini ini.

Saat ini aku ingin menuliskan sebuah cerita cinta. Cinta yang membuat seluruh pemuda dan pemudi mabuk kepayang. Cinta yang katanya mampu merubah dunia menjadi surga. Cinta yang membuat orang jelek menjadi cantik atau ganteng. Cinta yang membawa pada kebahagiaan. Atau malah cinta yang malah bisa membutakan hati. Apa itu defenisi cinta? Kenapa harus ada cinta? Dan seperti apakah gambaran cinta-cinta yang tumbuh di Al-Azhar ? Walaupun tidak begitu formal, tulisan ini kucoba buat semenarik mungkin untuk menghilangkan rasa penasaran terhadap cintanya seorang azhariy di Mesir.

Bicara masalah cinta, konon katanya hal ini “tabu” jika dibicarakan secara eksplisit oleh seorang azhariy. Maklumlah seorang ahli syari’ah, tahu tentang seluk beluk agama, mengerti Alqur’an, maupun hapal ratusan hadist, sangat aneh jika ada diantara mereka yang “berpacaran”, walaupun itu jarak jauh. Bukan apa-apa, kondisi seorang ahli agama itu memang rentan untuk dijadikan takaran maju atau mundurnya sebuah kaum. Apabila pemuka agamanya berjalan sesuai aturan dan norma agama, niscaya jama’ah pun akan setia kepada perintah sang imam yang memang patut untuk dicontoh. Tapi ini hanya berlaku untuk sebagian azhariy saja, sedangkan untuk sebagian yang lain biarkan sajalah mereka berkembang “seperti yang mereka mau”.

Cinta yang tumbuh di Al-azhar barangkali sudah sangat sering diekspos, bahkan dijadikan akomoditi perfilman di tanah air. Tapi itu semua palsu, bohong-bohongan alias fiktif belaka. Tujuannya pun bisa berbagai macam. Tapi cinta yang ada di Mesir ini memang tidak jauh dari gambaran yang ada di film-film tersebut. Cuma saja tidak terlalu dibeberkan hingga menjadi penarik minat masyarakat Indonesia untuk berdatangan secara bergerombol ke Mesir.

Kembali ke cinta, barangkali cinta itu semacam aib yang bisa meruntuhkan image di sini. Namun pada dasarnya cinta tidak bisa dihalangi oleh apapun. Karena mencintai itu fitrah manusia, dan bukan bagian dari dosa. Mencintai seseorang dengan tulus ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, bukanlah sebuah kesalahan. Ketika di mahattoh sedang menanti bus 80 coret barangkali anda akan menemukan seorang muslimah berdiri di seberang jalan. Mata anda sebagai seorang lelaki tentunya menarik-narik agar sekali dua kali berkesempatan melihat seperti apa paras hawa yang sedang di hadapan anda itu. Siapa tahu dia jadi istri anda? Tidak ada yang tahu. Atau barangkali, di saat anda sedang asyik bercengkerama dengan Alqur’an di dalam bus, tiba-tiba seorang muslimah duduk di samping anda terlebih lagi dia adalah orang Indonesia, mungkin saja seketika itu hafalan anda akan jadi buyar. Atau saja di saat anda sedang membeli buku di maktabah, dan seringkali berpapasan dengan muslimah-muslimah yang “siapa tahu” lagi jadi istri anda kelak. Boleh jadi juga ketika anda sedang talaqqi, ada seseorang yang menarik di belakang dan mata anda menarik seperti magnet untuk melengok ke belakang walau sekejap. Atau bahkan mungkin saja, ada muslimah mengetuk flat anda, meminta tolong ini dan itu. Satu dari seribu satu kemungkinan itu “mungkin saja” akan jadi awal cerita cinta seorang azhariy di Mesir ini.

Dalam Islam, cinta itu tidak dilarang. Bahkan Khadijah pun dulu jatuh cita dengan Rasulullah, sampai-sampai beliaulah yang mengajak Rasulullah untuk menikah lebih dahulu.  Cinta yang benar, harus dibawa pada jalan yang benar. Tidaklah sebuah aib bagi wanita untuk mengungkapkan perasaannya pada lelaki terlebih dahulu, namun norma adat dan kebiasaan lah yang mengeksekusinya sebagai sebuah dosa. Memang benar, malu adalah sebagian dari iman, namun malu untuk mengungkapkan perasaan adalah malu yang tidak beralasan yang malah justru bisa menjerumuskan seorang muslimah pada kebinasaan hati di akhirnya. Maka berikanlah setiap sesuatu itu porsi dan takarannya yang pas, perhatikan situasi dan keadaan, apakah ada tanggapan dan respon positif atau sebaliknya. Hingga akhirnya tidak menyisakan penyesalan, dan dapat menarik sebuah kesimpulan.

Sementara kaum adam, kebanyakan malu untuk melamar karena merasa tidak sanggup untuk menafkahi atau takut dan gengsi jika ditolak. Namun hal ini justru hasil khayalan pra nikah yang diumbar sedemikian rupa hingga berkesan di pikiran para ikhwan. Justru dengan menikah, akan terbuka kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih banyak, karena Allah tidak akan sia-sia dengan ikatan dua insan yang sudah didoakan ribuan malaikat. Toh, tidak pernah kita dengar ada orang mati setelah menikah dua bulan karena tidak makan. Kecuali memang hal ini dijadikan kebutuhan sekunder bagi pribadi masing-masing, Sementara itu, alasan takut ditolak dalam keadaan butuh, dan gengsi dalam keadaan butuh, sama sekali tidak dapat diterima, apapun alasannya.

Sementara itu mata saya sudah mulai mengantuk, jam sudah menunjukkan pukul 01.16 dini hari. Besok harus bangun subuh penuh dengan cinta dan pengharapan. Inti dari coretan di atas, cinta itu adalah hal yang sacral dan suci. Membicarakan cinta pun harus dengan harapan yang suci dan diikat dengan ibadah yang sacral.  Orang yang berhak untuk dicintai adalah orang yang benar-benar mau dijadikan pendamping anda kelak. Harus ada sebuah kepastian diantara dua insan yang sedang dimabuk cinta untuk membuat sebuah ikatan yang sah di mata Tuhan. Maka jauhilah gaya bercinta manusia awam yang seringkali mencontohkan cinta yang dangkal dan salah kaprah. Mereka mencintai seseorang tanpa tujuan. Mereka mencintai seseorang hanya sebagai hiburan sesaat. Pernikahan adalah babak yang terlalu berat bagi mereka. Hingga mereka takut untuk memulai dengan yang namanya “lamaran”. Alasannya bisa bermacam rupa sesuai rupa si pencinta. Atau kalau anda berani, mintalah dijodohkan dengan orang tua anda kemudian mulailah “mencintai orang yang ada nikahi”.

Iklan

Posted in Catatan Harian | Leave a Comment »

Ilmu yang Membumi; Sebuah Observasi Keilmuan Masisir

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 11, 2010

Oleh: Muhammad Rakhmat Alam
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Sudah setahun kedatangan ku di negara yang merupakan kiblat ilmu keislaman. Berbagai corak dan spectrum keilmuan telah kulihat dan ada yang ku selami. Beberapa kajian masisir telah ku singgahi, sekian dars talaqqi pun telah ku geluti, muhadharah local juga sering ku masuki dan semua itu menimbulkan sebuah pemikiran dalam kepalaku bahwa ada sesuatu dengan corak keilmuan masisir???

Sebelumnya ini hanya sebuah pemikiran ku bukan pemikiran anda atau siapa-siapa. Di awal-awal penelitian, aku sedikit terkejut dengan jumlah masisir yang mencapai 3.000 lebih tapi bisa dikatakan hanya berkisar seratus orang lebih bahkan kurang dari seratus orang yang mendatangi kuliah di kampus tiap harinya. Pada kemana ribuan umat masisir ketika jadwal kuliah di universitas islam tertua dan tekemuka di dunia ini??? Batin dan kepala ku seiya bertanya. Apakah sibuk organisasi, kerja, main, tidur aku tak tahu. Dan yang paling membuat ku terkejut adalah banyak masisir yang mendapat nilai tinggi ketika ujian walau yang rosib pun tak kalah banyaknya. Subhanallah, tak pernah kuliah tapi ujian najah.

Itu baru mendatangi kampus al-azhar, belum lagi mendatangi talaqqi-talaqqi di mesjid al-azhar dan di tempat lainnya. Kurang dari 50 orang masisir yang aktif ikut talaqqi. Padahal dosen di kampus adalah tokoh intelektual al-azhar yang telah melewati jenjang akademis sampai doctoral tidak ada satu pun dosen universitas al-azhar yang baru master, semua adalah doctor bahkan banyak yang professor dan penulis aktif. Begitu juga pengajar talaqqi adalah ulama-ulama terkemuka al-azhar yang tak dikeragui lagi kapasitas keilmuan mereka. Aku kembali bertanya, apa yang terjadi dalam dinamika keilmuan masisir??? Apakah pakar-pakar fikih, ushul, tafsir, aqidah dan hadits di Indonesia yang tamatan universitas al-azhar termasuk 100 orang yang aktif kuliah dan 50 orang yang aktif talaqqi??? Atau mereka dahulunya termasuk orang yang hanya belajar sendiri berkumpul dan membuat sebuah kelompok kajian sesama teman atau seniornya??? Kalau begitu betapa cerdasnya masisir ini dan betapa hebatnya masisir yang mampu belajar lewat buku literature arab sendirian atau sesama teman tanpa guru walau dengan alat yaitu bahasa arab yang pas-pasan.

Kajian masisir vs muhadharah kampus dan talaqqi al-azhar

Seakan-akan ada kiblat keilmuan lain yang ada di cairo, mesir selain universitas al-azhar dan talaqqi oleh para ulama al-azhar. Masisir ingin menandingi keorisinalan dan keagungan keilmuan di al-azhar. Seolah menghadiri kuliah dan talaqqi hanyalah mempersempit dan membuang waktu karena dapat belajar sendiri di rumah atau membuat kelompok kajian antar mereka dan dapat membuat akal lebih kritis dan cemerlang dari sekedar hadir muhadharah dan talaqqi yang hanya mendengarkan dan sedikit bertanya bahkan mematikan akal.

Apa alasan mereka yang jarang atau tidak kuliah dan talaqqi bersama ulama azhar???

Ada yang mengatakan karena jarak rumah dengan kampus dan tempat talaqqi begitu jauh sehingga menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang. Bahkan ada yang berkata dengan gamblang bahwa keilmuan di talaqqi dan di al-azhar tidak membuat orang cerdas, kuno dan hanya membuang-buang waktu. Na’udzubillah, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu. Sudahkah mereka menggeluti kuliah dan talaqqi azhar dengan serius dan berkesinambungan??? Dan kenapa mereka tidak kuliah di universitas selain al-azhar???

Banyak kealfaan masisir dalam memahami literature arab

Tak dapat di pungkiri, banyak masisir yang lemah kemampuannya dalam mehamami literature arab bahkan orang arab sekalipun. Masisir tidak bias melulu belajar sendiri, membaca literature arab sendiri tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Bahkan masisir yang sedang proses doctoral pun banyak yang bertanya kepada para doctor al-azhar dalam membuat disertasinya, begitu juga yang sedang mengambil program master, mereka baru terasa akan pentingnya hadir muhadharah, mereka juga akan baru sadar akan kekurangan mereka dalam memahami literature arab dan mereka juga baru tau akan kedigdayaan ulama dan intelek-intelek azhar yang sungguh memukau pikiran kita serta betapa kuat asas keilmuan mereka. Karena al-azhar mengajarkan suatu ilmu tidak dengan instan, tapi berjenjang dan bertangga. Semua keilmuan di al-azhar memiliki pondasi keilmuan yang kuat dan kokoh. Baru bergerak dan maju kearah-arah ilmu yang lebih spesifik dan lebih detail yang sangat menguras energy otak. Di universitas al-azhar penjurusan lebih spesifik dan spesialisasi baru ada ketika akan masasuki post graduate. Berbeda dengan universitas di Indonesia, di strata 1 sudah memiliki jurusan tersendiri. Yang ingin membuat seorang imuwan dengan cara instan. Begitu juga Dalam proses mengajar dan belajar mahasiswa lebih aktif dari dosen dan membuat suatu proses menuntut imu lebih instan.

Sarjana al-azhar dan sarjana dari universitas islam di Indonesia dan lainnya

Kita pun bisa melihat, lulusan doctoral al-azhar dengan lulusan doctoral universitas islam di Indonesia dalam cara berfikir mereka dan cara mereka menyikapi problematika dunia islam. Para doctor alumnus universitas Indonesia akan terlihat lebih instan dalam menjawab masalah yang ada, bahkan kadang bingung untuk menjawab sehingga berfatwa dengan cara serampangan. Berbeda dengan ulama dan alumnus al-azhar yang benar-benar mengikuti manhaj azhari, dalam menjawab persoalan dunia islam mereka lebih di terima secara ilmiah dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah juga. Sarjana al-azhar dan alumnus al-azhar banyak menjadi tokoh ulama internasional dan tokoh besar dalam dunia islam. Perkataan mereka menjadi rujukan, karya mereka menjadi bahan referensi bagi seluruh universitas islam dunia, bahkan musuh al-azhar sendiri pun meminjam dan memakai intelektual dari al-azhar.

Ilmu hasil kajian dan hasil kuliah serta talaqqi

Terlepas dari manakah yang paling urgen dari mengikuti kajian intensif dan kuliah juga talaqqi, semuanya merupakan sumber untuk mendapatkan ilmu dan bermanfaat. Tapi yang perlu di tekankan di sini adalah sejauh mana hasil kajian dan kuliah dan talaqqi membentuk malakah keilmuan masisir?? Apakah keilmuan mereka membumi atau mengawang di atas awan?? Sudahkah mereka mengikuti manhaj azhari?? Mampukah mereka menjadi penerus-penerus syeikh yusuf alq-ardhawy, wahbah zuhaily, ramadhan al-bouty, ‘ali jum’ah, sya’rawy, Muhammad rasyid ridha, Muhammad abduh, quraish shihab,Mustafa ya’qub, dan alumnus al-azhar lainnya yang mampu menjadi pakar di bidang ilmu yang digelutinya. Mampukah mereka memberikan kemajuan dalam dunia islam dan pemikiran islam tanpa melenceng dan bertindak serampangan???

Dan kalau boleh jujur, kebanyakan kajian yang diadakan masisir mempermasalahkan hal-hal yang cabang, bukan subtansial, sehingga keilmuan hasil kajian mengawang. Berbeda dengan aktif dan serius dengan kuliah dan talaqqi, keilmuan yang didapatkan disini sangat fundamental dan membumi. Sehingga untuk permasalahan cabang daru suatu ilmu dapat di cerna dengan matang tidak mengawang. Dan sungguh, mengikuti kajian saja pun juga membuang-buang waktu dan umur. Karena tujuan belajar adalah membentuk suatu pola pikir ilmiah yang benar dan tersusun secara rapi. Bagaimana pola pikir ilmiah tersusun dengan rapi dan benar jika masalah-masalah yang fundamental dan asas seorang masih bingung dan ngambang.

Jadi, sebaiknya sebelum mengikuti kajian intensif perkokoh dahulu dasar dari suatu ilmu. Jangan sibuk ke sesuatu yang furu’ tapi mulai dari ushul. Agar malakah keilmuan dapat terbentuk dengan rapi, benar dan matang. Setelah itu baru dikembangkan dan di prektekkan melewati kelompok kajian agar kajian tetap membumi dan tidak mengambang dan mengawang. Wallahu a’lam.

 

Posted in Telaah | 2 Comments »