Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Ilmu yang Membumi; Sebuah Observasi Keilmuan Masisir

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 11, 2010

Oleh: Muhammad Rakhmat Alam
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Sudah setahun kedatangan ku di negara yang merupakan kiblat ilmu keislaman. Berbagai corak dan spectrum keilmuan telah kulihat dan ada yang ku selami. Beberapa kajian masisir telah ku singgahi, sekian dars talaqqi pun telah ku geluti, muhadharah local juga sering ku masuki dan semua itu menimbulkan sebuah pemikiran dalam kepalaku bahwa ada sesuatu dengan corak keilmuan masisir???

Sebelumnya ini hanya sebuah pemikiran ku bukan pemikiran anda atau siapa-siapa. Di awal-awal penelitian, aku sedikit terkejut dengan jumlah masisir yang mencapai 3.000 lebih tapi bisa dikatakan hanya berkisar seratus orang lebih bahkan kurang dari seratus orang yang mendatangi kuliah di kampus tiap harinya. Pada kemana ribuan umat masisir ketika jadwal kuliah di universitas islam tertua dan tekemuka di dunia ini??? Batin dan kepala ku seiya bertanya. Apakah sibuk organisasi, kerja, main, tidur aku tak tahu. Dan yang paling membuat ku terkejut adalah banyak masisir yang mendapat nilai tinggi ketika ujian walau yang rosib pun tak kalah banyaknya. Subhanallah, tak pernah kuliah tapi ujian najah.

Itu baru mendatangi kampus al-azhar, belum lagi mendatangi talaqqi-talaqqi di mesjid al-azhar dan di tempat lainnya. Kurang dari 50 orang masisir yang aktif ikut talaqqi. Padahal dosen di kampus adalah tokoh intelektual al-azhar yang telah melewati jenjang akademis sampai doctoral tidak ada satu pun dosen universitas al-azhar yang baru master, semua adalah doctor bahkan banyak yang professor dan penulis aktif. Begitu juga pengajar talaqqi adalah ulama-ulama terkemuka al-azhar yang tak dikeragui lagi kapasitas keilmuan mereka. Aku kembali bertanya, apa yang terjadi dalam dinamika keilmuan masisir??? Apakah pakar-pakar fikih, ushul, tafsir, aqidah dan hadits di Indonesia yang tamatan universitas al-azhar termasuk 100 orang yang aktif kuliah dan 50 orang yang aktif talaqqi??? Atau mereka dahulunya termasuk orang yang hanya belajar sendiri berkumpul dan membuat sebuah kelompok kajian sesama teman atau seniornya??? Kalau begitu betapa cerdasnya masisir ini dan betapa hebatnya masisir yang mampu belajar lewat buku literature arab sendirian atau sesama teman tanpa guru walau dengan alat yaitu bahasa arab yang pas-pasan.

Kajian masisir vs muhadharah kampus dan talaqqi al-azhar

Seakan-akan ada kiblat keilmuan lain yang ada di cairo, mesir selain universitas al-azhar dan talaqqi oleh para ulama al-azhar. Masisir ingin menandingi keorisinalan dan keagungan keilmuan di al-azhar. Seolah menghadiri kuliah dan talaqqi hanyalah mempersempit dan membuang waktu karena dapat belajar sendiri di rumah atau membuat kelompok kajian antar mereka dan dapat membuat akal lebih kritis dan cemerlang dari sekedar hadir muhadharah dan talaqqi yang hanya mendengarkan dan sedikit bertanya bahkan mematikan akal.

Apa alasan mereka yang jarang atau tidak kuliah dan talaqqi bersama ulama azhar???

Ada yang mengatakan karena jarak rumah dengan kampus dan tempat talaqqi begitu jauh sehingga menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang. Bahkan ada yang berkata dengan gamblang bahwa keilmuan di talaqqi dan di al-azhar tidak membuat orang cerdas, kuno dan hanya membuang-buang waktu. Na’udzubillah, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu. Sudahkah mereka menggeluti kuliah dan talaqqi azhar dengan serius dan berkesinambungan??? Dan kenapa mereka tidak kuliah di universitas selain al-azhar???

Banyak kealfaan masisir dalam memahami literature arab

Tak dapat di pungkiri, banyak masisir yang lemah kemampuannya dalam mehamami literature arab bahkan orang arab sekalipun. Masisir tidak bias melulu belajar sendiri, membaca literature arab sendiri tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Bahkan masisir yang sedang proses doctoral pun banyak yang bertanya kepada para doctor al-azhar dalam membuat disertasinya, begitu juga yang sedang mengambil program master, mereka baru terasa akan pentingnya hadir muhadharah, mereka juga akan baru sadar akan kekurangan mereka dalam memahami literature arab dan mereka juga baru tau akan kedigdayaan ulama dan intelek-intelek azhar yang sungguh memukau pikiran kita serta betapa kuat asas keilmuan mereka. Karena al-azhar mengajarkan suatu ilmu tidak dengan instan, tapi berjenjang dan bertangga. Semua keilmuan di al-azhar memiliki pondasi keilmuan yang kuat dan kokoh. Baru bergerak dan maju kearah-arah ilmu yang lebih spesifik dan lebih detail yang sangat menguras energy otak. Di universitas al-azhar penjurusan lebih spesifik dan spesialisasi baru ada ketika akan masasuki post graduate. Berbeda dengan universitas di Indonesia, di strata 1 sudah memiliki jurusan tersendiri. Yang ingin membuat seorang imuwan dengan cara instan. Begitu juga Dalam proses mengajar dan belajar mahasiswa lebih aktif dari dosen dan membuat suatu proses menuntut imu lebih instan.

Sarjana al-azhar dan sarjana dari universitas islam di Indonesia dan lainnya

Kita pun bisa melihat, lulusan doctoral al-azhar dengan lulusan doctoral universitas islam di Indonesia dalam cara berfikir mereka dan cara mereka menyikapi problematika dunia islam. Para doctor alumnus universitas Indonesia akan terlihat lebih instan dalam menjawab masalah yang ada, bahkan kadang bingung untuk menjawab sehingga berfatwa dengan cara serampangan. Berbeda dengan ulama dan alumnus al-azhar yang benar-benar mengikuti manhaj azhari, dalam menjawab persoalan dunia islam mereka lebih di terima secara ilmiah dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah juga. Sarjana al-azhar dan alumnus al-azhar banyak menjadi tokoh ulama internasional dan tokoh besar dalam dunia islam. Perkataan mereka menjadi rujukan, karya mereka menjadi bahan referensi bagi seluruh universitas islam dunia, bahkan musuh al-azhar sendiri pun meminjam dan memakai intelektual dari al-azhar.

Ilmu hasil kajian dan hasil kuliah serta talaqqi

Terlepas dari manakah yang paling urgen dari mengikuti kajian intensif dan kuliah juga talaqqi, semuanya merupakan sumber untuk mendapatkan ilmu dan bermanfaat. Tapi yang perlu di tekankan di sini adalah sejauh mana hasil kajian dan kuliah dan talaqqi membentuk malakah keilmuan masisir?? Apakah keilmuan mereka membumi atau mengawang di atas awan?? Sudahkah mereka mengikuti manhaj azhari?? Mampukah mereka menjadi penerus-penerus syeikh yusuf alq-ardhawy, wahbah zuhaily, ramadhan al-bouty, ‘ali jum’ah, sya’rawy, Muhammad rasyid ridha, Muhammad abduh, quraish shihab,Mustafa ya’qub, dan alumnus al-azhar lainnya yang mampu menjadi pakar di bidang ilmu yang digelutinya. Mampukah mereka memberikan kemajuan dalam dunia islam dan pemikiran islam tanpa melenceng dan bertindak serampangan???

Dan kalau boleh jujur, kebanyakan kajian yang diadakan masisir mempermasalahkan hal-hal yang cabang, bukan subtansial, sehingga keilmuan hasil kajian mengawang. Berbeda dengan aktif dan serius dengan kuliah dan talaqqi, keilmuan yang didapatkan disini sangat fundamental dan membumi. Sehingga untuk permasalahan cabang daru suatu ilmu dapat di cerna dengan matang tidak mengawang. Dan sungguh, mengikuti kajian saja pun juga membuang-buang waktu dan umur. Karena tujuan belajar adalah membentuk suatu pola pikir ilmiah yang benar dan tersusun secara rapi. Bagaimana pola pikir ilmiah tersusun dengan rapi dan benar jika masalah-masalah yang fundamental dan asas seorang masih bingung dan ngambang.

Jadi, sebaiknya sebelum mengikuti kajian intensif perkokoh dahulu dasar dari suatu ilmu. Jangan sibuk ke sesuatu yang furu’ tapi mulai dari ushul. Agar malakah keilmuan dapat terbentuk dengan rapi, benar dan matang. Setelah itu baru dikembangkan dan di prektekkan melewati kelompok kajian agar kajian tetap membumi dan tidak mengambang dan mengawang. Wallahu a’lam.

 

2 Tanggapan to “Ilmu yang Membumi; Sebuah Observasi Keilmuan Masisir”

  1. kata guru-guru kita di al azhar ”barangsiapa belajar dg otodidak banyak salahnya, dan barangsiapa yg berguru insyaalah kesalahannya hanya sedikit” kalau tak salah ini perkataannya syekh yusri

  2. izin posting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: