Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Dilematis; Antara Memilih Studi dan Menikah

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 6, 2010

Oleh: Alnofiandri Dinar, Lc.

Pada sebuah majlis, beberapa orang berkawan saling curhat sesama mereka. Ada yang curhat menyampaikan keluh kesahnya, bahwa selama ini ia selalu dihujani pertanyaan, “kapan dunsanak akan menikah?” Teman yang lain beda lagi curhatnya, “bagaimana menurut dunsanak, setelah menamatkan kuliah di Al Azhar, apakah sebaiknya saya langsung melanjutkan studi pascasarjana di Mesir, mungkin di Al Azhar atau Universitas lainnya? Kalau memang ingin melanjutkan studi pascasarjana di Mesir ini –terutama bagi akhawat-, apa mesti menikah terlebih dahulu?”
Tema curhatan mereka cendrung sama. Tersirat ada kekhawatiran dan secercah kegamangan untuk menapaki sebuah masa depan.

Bagi saya pribadi, tema ini menarik untuk diperbincang. Melalui sedikit goresan ini, saya akan mencoba untuk sharing dengan sahabat milist dalam mencerna masalah ini. Di kala membaca tulisan ini, barangkali akan terbersit di fikiran dunsanak bahwa sharing berikut hanyalah senjata dan alasan klise para bujang yang takut menikah! Namun saya yakin, pembaca budiman akan mampu membedakan antara sebuah mutiara dan sebutir pasir. Saya percaya dunsanak akan mampu memilah seperti mengalirnya susu dari perut binatang yang mengalir diantara darah dan kotorannya! Hemat saya, orang-orang berakal tidak akan mungkin menjatuhkan posisinya di bawah binatang, seperti gambaran Allah pada QS: Al A`raf: 179. Manusia ketika mematikan akalnya, maka ia lebih buruk dari binatang!

Cerdas merencanakan!
Ketika diajukan pertanyaan seperti curhatan diatas, saya akan menjawab dengan sebuah ungkapan, seorang tokoh: “Ketika ada keleluasaan untuk memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Serahkan pilihan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Berkehendak dan Yang Maha Memiliki pilihan”. Urang awak juga sering mengungkapkan “Usah takuik jo ombak gadang. Indak sado ombak gadang nan ka mangguluang”. Tidak ada yang perlu ditakutkan, apalagai untuk sebuah masa depan. Seperti yang diungkapkan di dalam kitab Hikam;
“Rehatkanlah jiwa anda dari perencanaan masa datang, apapun yang dilakukan oleh orang lain untuk anda, tetap saja bukan anda yang melakukannya untuk diri anda!”
Renungkanlah ungkap syair berikut:
“Tidak ada satupun yang terjadi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Buanglah segala kegundahanmu dan campakkanlah! Tinggalkan semua hal yang menyibukkanmu dan rehatkanlah dirimu!”
Karena memang tidak ada yang tahu apa yang mesti dilakukan oleh seseorang pada esok harinya (Rujuk QS: Luqman: 34). Toh esok hari belum pasti datang atau kita yang tidak sempat mendapatinya! Tapi merencanakan sebuah masa depan gemilang adalah tipe orang-orang berakal yang patut diacungkan jempol. Karena seorang manusia tidak akan mendapati sesuatu, kecuali sesuai dengan pengorbanannya! Seorang muslim yang berprestasi seyogyanya memiliki jadwal harian dan agenda kehidupan yang terukur untuk mewujudkan visi dan misi matang. Sederhananya, seperti Fahri, di dalam novel AAC nya Kang Abik.

Bijak melihat realita!
Pelbagai pertanyaan dan kekhawatiran di masa datang tidak usah ditakutkan, tapi perlu difikirkan dan direncanakan. Kecerdasan seseorang dalam `merencanakan` adalah bagian dari keberhasilannya dalam mengarungi kehidupan. Ketika telah berani berencana, berupayalah semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Meskipun segala sesuatu yang akan kita lakukan sudah diketahui oleh Allah di zaman azali, namun kita tidak pernah tahu apa yang akan kita lalui dalam hidup ini! Semuanya telah ada dalam qadha dan qadar Allah terhadap manusia seluruhnya. Ketika si janin didatangi oleh sang malaikat di dalam rahim, janinpun sudah berkomunikasi dan berjanji dengan utusan RabbNya. Agenda kehidupan yang dihadapi selama di dunia dan akhir dari penghidupannya di dunia sudah dijelaskan (lihat: hadits `Arbain no: 4 dan rujuk juga dalam kajian akidah tentang sifat qudrah Allah, af`al ibad, dan bab qadha dan qadar)

Ketika lahir ke dunia manusia memulai kehidupannya sebagai dar al ibtila`, menjalani serentetan ujian sebagai sunnatullah sebelum kembali keharibaanNya di suatu hari kelak. Selama di dunia manusia dibekali akal dan wahyu, agar hidup memiliki panduan yang jelas dan menggiringnya menuju Allah. Seorang yang cerdas pasti akan menggunakan akalnya dan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menapaki kehidupan yang tak lama ini. Ia tunduk kepada ketaatan dan menaklukkan hawa yang menguasai diri. Baginya, kehidupan hanya ibarat sebuah persinggahan seorang musafir di sebuah perjalanan panjangnya! Tabiat sebuah persinggahan tentu saja sebentar, tidak bisa lama. Hidup kita di dunia ini ibarat sebuah titipan. Dan tabiat sebuah titipan adalah mesti dikembalikan, ketika pemiliknya menginginkan titipan tersebut! Tentu saja mereka mesti mencari bekal sebanyak-banyaknya. Namun perlu dipahami bahwa banyak amal bukan jaminan untuk kebahagiaan dan husnul khatimah. Karena kebahagiaan ada pada ridha Allah. Tiket surga bukan pada banyaknya amal, tapi ridha Allah!

Jangan gegabah, tapi fikirkanlah dengan matang!
Wujud kecerdasan merencanakan adalah cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dan tidak mudah tergesa-gesa serta tidak berfikir kekanak-kanakan saat memutuskan sebuah perkara. Seperti yang sering diungkapkan oleh urang awak `dek arok hujan di hulu, aia di embe alah dibuang duluan`. Ketika kesempatan ada, jangan sampai disia-siakan! Tangkaplah setiap kesempatan yang ada dan bermain cantiklah menggunakan kesempatan tersebut! Ketika ada peluang untuk melanjutkan studi pascarsajana, manfaatkanlah terlebih dahulu. Jangan sampai buang kesempatan ini, karena mengharapkan iming-iming fatamorgana nun jauh disana dan belum tentu terjadi.

Kepada mereka yang memiliki himmah seperti himmah para raja, jangan pernah mudah takluk karena kata si fulan dan sindiran si fulan! Jangan pernah berhenti, sampai himmah dunsanak terwujud! Kata sebagian urang awak: “Bialah urang maju kasadonyo, asal awak tetap di muko!” Jangan dihantui oleh bayang-bayang kegagalan dalam perjalanan studi dan membuat dunsanak kalah sebelum berjuang. Orang-orang yang mengetahui nilai sebuah pencariannya, maka akan ringan saja semua rintangan yang ada di depan matanya! Begitu juga ketika ada kesempatan untuk mengkhitbah atau dikhitbah oleh orang lain, jangan gegabah untuk menerima dan menolak! Fikirkanlah secara matang. Bermusyawarah dan berdiskusilah dengan orang-orang yang baik. Duduak basamo taraso lapang, duduak surang malah taraso sampik. Kadukan semuanya kepada Allah melalui istikharah di penghujung malam yang pekat, di kala fajar sudah mulai mengintip dengan kedatangan Subuh!

Pertimbangkanlah!
Belajar dan menikah keduanya adalah bentuk ibadah kepada Allah. Tidak akan saling bertentangan. Keduanya bisa diselaraskan oleh orang-orang yang cerdas. Tidak ada salahnya menikah di saat berstatus mahasiswa. Namun karena dunsanak bukan seorang manusia super, ada baiknya dunsanak renungi beberapa mutiara hikmah –terutama oleh para rijal- yang menginginkan ilmu. Ringkasnya tabiat dan sunnah ilmu sulit untuk dimadu! Karena ilmu adalah mutiara paling berharga yang ada di dunia ini. Untuk mendapatkannya tentu saja tidak mudah! Saya harap dunsanak tidak melihat ilmu dari kulit-kulitnya saja, karena dunsanak akan sangat mudah menganggap enteng sebuah ilmu dan berkata sesuka dunsanak. Jangan bayangkan bahwa mendapatkan ilmu itu cukup dengan mentelaah lembaran-lembaran kertas yang bisu dengan bantuan kamus!

Kata sebagian orang:
“Orang-orang yang tidak pernah menghadapi pelbagai penderitaan, tidak akan pernah meraih dambaannya!”

Tidak heran bila sebagian ulama mengatakan:
“Betapa sedikit sekali para pelajar yang menikah saat belajar, karena ilmunya akan terkapar diantara paha-paha kaum hawa, sementara ilmu jikalau tidak engkau persembahkan seluruh dirimu, maka ilmu tidak akan menyentuhmu meskipun secuilnya!”

Adalah sangat wajar bila ada yang mengatakan:
“Ilmu sangat tinggi maqamnya, pencariaan yang sangat melelahkan, sangat sulit untuk diikat, tidak bisa didapati melalui mimpi dan tidak diwariskan dari orangtua dan para paman. Ilmu itu adalah tanaman yang sedang ditanam di dalam diri dan disirami dengan cara belajar. Dibutuhkan pengorbanan penuntutnya dengan pelbagai kelelahan dan harus siap bergadang. Apakah mereka mengira, orang-orang yang siang harinya sibuk dengan mengumpulkan harta dan malam harinya sibuk dengan istrinya, akan menjadi seorang faqih? Tidak akan perah terjadi, betapa jauhnya jarak antara barat dan timur! Akan tetapi mesti meluruskan niat, membenarkan bisikan bashirah, mengalahkan hawa nafsu, berkorban mengejar himmah yang mulia, berani mengarungi setiap negeri untuk mendatangi para ahlinya, selalu harap untuk mendapatnya dan meraih keutamaannya. Buatlah perutmu lapar, merantau dan tinggalkanlah negerimu, tinggalkanlah banyak obrolan, dan jangan mudah bosan saat mengulang dan menghafal pelajaran…

Senada dengan itu, Imam Suyuthi di awal kitab al Asybah Wa al Nazhair, mengutipkan:
“Demi hidupku, sesungguhnya ilmu ini tidak akan didapatkan dengan “berangan-angan”, tidak akan diperoleh dengan pelbagai statement, “nanti ajalah”, “semoga saja”, “andai aku”,…dan juga tidak akan dicapai kecuali dengan menyingsingkan lengan baju, peras keringat, berpisah dengan sanak-keluarga, menahan syahwat, menyeberangi lautan, menembus angin badai, kontinue bolak-balik dari satu pintu ke pintu (rumah ulama/guru/dosen) di malam yang gelap, menghadiri majlis orang-orang besar, dan memacu kendaraan untuk memburu setiap hikmah yang berseliweran.”

Sebagian lain berkomentar:
“Jikalau anda ingin sukses dalam belajar, batasilah relasi anda dan minimalisirlah rintangan yang menghadang!”

Lebih ekstrem dari ini, ada yang berkomentar:
Seorang penuntut ilmu bahkan memilih untuk tidak berziarah dan tidak diziarahi.

Sebelum memutuskan menikah, ada baiknya bila dunsanak memilih belajar terlebih dahulu!
Selalu seorang yang berprestasi di kampung masing-masing, tentu tidak wajar, bila;
1. Merasa yakin dengan tersedianya waktu di masa datang, dan menunda belajar saat ini.
Hari ini yang dihabiskan untuk belajar mengajar akan jauh lebih baik daripada hari esok. Telur hari ini tetap jauh lebih baik dari ayam hari esok. Belajarlah sekarang juga, sebelum dunsanak menjadi tokoh besar! Seorang manusia semakin hari semakin tua, maka akan semakin banyak pula tanggungjawab dan beban hidupnya. Akan semakin banyak hal yang akan membuat konsentrasinya beralih, karena banyak hal yang perlu dipikirkan dan dilakukannya. Tidak lagi hanya belajar dan pokus dengan ilmu yang digelutinya saban hari. Sudah sangat akrab di telinga kita ungkapan: “Kewajiban yang mesti ditunaikan jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.”

Apapun yang terjadi, belajar di waktu kecil tetap jauh lebih baik, dan jangan pernah menunda-menuda. Belajar diwaktu kecil ibarat mengukir di atas batu dan belajar di waktu dewasa, laksana menulis di atas air. Pasti akan beda, bukan? Pada hakekatnya “kemarin” dan “esok” adalah “hari ini” juga. Mengalir bagai air dalam dzikir dan fikir, japi jangan kikir dan mudah getir. Menuntut ilmu ibarat menanam pohon. Siapkanlah hati sebagai ladang ikhlas yang gembur dan subur. Tanam “pohon ilmu” dengan sabar dan rawatlah dengan kasih sayang. Jangan sampai melontarkan sebuah ungkapan yang kerap di telinga kita:
“Andai masa muda kembali pada suatu hari kelak, maka pasti akan aku beri tahu kepada mereka apa yang dirasakan oleh seorang yang sudah tua!”

2. Merasa yakin dan mengandalkan kecerdasan!
Betapa banyak orang yang kehilangan kesempatan menuntut ilmu, gara-gara mengandalkan kecerdasannya dan menunda-nunda waktu untuk belajar. Saat usia muda, kecerdasan otak memang beghitu cemerlang, semua ilmu bisa diterima dan dicerna dengan mudah. Sangat mudah menghafal dan menghadirkan kembali hafalan di kala butuh. Akan tetapi pisau yang tajam akan tumpul jika ia tak pernah lagi dimanfaatkan dan tidak lagi diasah. Akan tumpul dan karatan. Sejalan dengan bergulirnya waktu, pisau tadipun akan hancur dengan sendirinya. Begitu juga kecerdasan otak manusia. Akan pudar dan akan hilang sama sekali! Sesuatu yang dalam genggaman kita hari ini adalah milik kita, tetapi belum tentu kita memilikinya kembali di masa datang. Jangan pernah menuda-nunda. Bersemangatlah!

3. Melupakan bekal yang masih terlalu sedikit?!
Sekali-kali bertanyalah kepada diri dan sadarilah sepenuhnya bahwa kita baru mengetahui secuil gugusan kalimat yang ada di muqarrar. Itupun sebatas tahdid untuk ujian dan belum tentu paham, hanya sekedar hafal sebagai bekal untuk menghadapi ujian! Ilmu itu bukan menukilkan kata Syaikh fulan begini dan begitu, tapi ilmu adalah malakah `ilmiah, kemampuan ilmiah kita! Para ulama sering mengatakan: “Fokus orang-orang besar adalah penguasaan terhadap suatu ilmu (dirayah), sedangkan fokus seorang kerdil adalah menukilkan perkataan orang lain (riwayat)”. Tidak sedikit hari ini kita temui orang-orang yang menukilkan ucapan orang lain, tapi ia tidak paham apa yang dimaksudkan oleh orang yang menuturkannya. Makanya Tidak jarang terjadi kriminal ilmiah dan perkataan orang lain dipelintirkan sesuai dengan hawanya! Bermaksud mensyarah sebuah kitab, tapi malah mentajrih pengarang kitab dan ulama!

Jangan tunggu suatu hari, saat orang-orang bertanya dan dunsanak hanya bisa menjawab, “masalah ini ada di dalam kitab saya yang itu, tapi saya lupa jawabannya!” Bukankah orang-orang yang tidak tahu fiqh, tidak akan mungkin memberikan ilmu fiqh kepada orang lain?! Bukankah sangat tidak wajar, bila seorang dokter memberikan obat kepada pasiennya, sementara sang dokter mesti diobati terlebih dahulu! Bila para Buyanya butuh diluruskan dan masih sangat butuh tambahan ilmu, palagi masyarakatnya?! Jangan salahkan jikalau ilmu agama justru salah dipahami oleh masyarakat!

Sabar dan sadarilah!
Jikalau di dalam belajar dunsanak menemui banyaknya kendala, itu adalah wajar. Karena seperti yang sudah dipaparkan bahwa ilmu adalah mutiara paling berharga dan warisan para Nabi dan Rasul yang tidak bisa didapati oleh sembarang orang! Bila dunsanak belajar bertahun-tahun dan menamatkan beberapa kitab kemudian menjadi seorang alim, itu adalah wajar. Namun bila dunsanak membaca satu atau dua kitab, atau datang ke majlis ilmu satu atau dua kali, kemudian sudah bisa berfatwa halal-haram, kafir, bid`ah, dsb! itu adalah sangat tidak wajar, itu adalah khariqun lil `adah, yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul!

Ketika sudah merasa sulit untuk belajar dan menghafal, tidak selamanya solusinya adalah menikah! Ketika fikiran tidak lagi fokus untuk belajar, tidak selamanya sebabnya karena ada syahwat yang sedang menggelora! Perhatikanlah apa yang diungkapkan oleh para ulama rabbany: Jiwa ketika tidak disibukkan dengan taat, maka ia akan disibukkan oleh maksiat. Selama ini bukankah waktu kita lebih banyak untuk maota, makan batambuah, keasyikan menikmati kasur dan berselancar di dunia maya?!

Bukankah tugas dan tanggungjawab kita di ranah minang sangat berat, namun kapan mempersiapkannya, jikalau bukan sekarang?! Jikalau ada cita-cita membangun ranah minang, apa yang akan dunsanak bangun disana dan dengan apa dunsanak membangunnya?! Jikalau selama ini dunsanak selalu meneriakkan slogan Mambangkik Batang Tarandam, apa yang akan dunsanak bangkik di ranah minang? Jikalau mau menerapkan syariat islam, apa yang mau diterapkan, jikalau syariat islam belum ada di kepala dunsanak?! Berupayalah untuk menyingkap tempurung yang sedang mengungkung, karena dunia terlalu luas dan tidak sesempit yang dunsanak fikirkan. Banyak pelajaran yang bisa diambil pada diri kita masing-masing dan dunia kita untuk membangun ranah minang!

Buatlah keputusan dan serahkanlah sepenuhnya kepada Allah!
Tidak usah takut untuk menempuh perjalanan menuntut ilmu dan tidak usah gamang menapaki tangga pernikahan. Toh semua yang dikhawatirkan belum tentu terjadi. Apa yang dialami oleh orang lain belum tentu dunsanak alami, karena setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Kepada para bujang dan dara, jangan takut sendirian di dunia ini dengan status single sepanjang masa! Bukankah sandal saja dibuat berpasang-pasangan, apalagi manusia?! Silahkan rujuk kembali QS: Al Naba`: 8.

Athailah Al Sakandary di dalam kitab Al Tanwir Fie Isqat Al Tadbir, mengutipkan:
“Bahwa tidak akan bertentangan antara tawakkal dengan mengupakan sebab dalam meraih rizki, seperti yang disabdakan oleh Rasul Saw: “Bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah cara meminta” Rasul Saw. benar-benar membolehkan kita meminta kepada Allah. Jikalaulah bertentangan dengan konsep tawakkal, maka pasti kita akan dilarang meminta. Namun Rasul Saw. tidak mengatakan “jangan kalian meminta!” Akan tetapi beliau bersabda: “perbaguslah cara meminta!”, seolah-olah beliau menyampaikan: “ketika meminta kepada Allah, jadilah orang yang baik cara memintanya, yaitu tetaplah bersama Allah dengan beradab kepadaNya dan menyerahkan murni segala sesuatu kepadaNya.”

Ada sebuah ungkapan Dr. Ramadhan Al Buthy, yang sangat patut kita renungi; “Sesunguhnya Allah tidak akan lemah untuk memancarkan cahaya hidayah yang dipaksakan masuk ke dalam hati orang paling kafir. Dan Allah mampu untuk melemparkan cahaya kesesatan ke dalam hati orang yang paling shalih diantara orang-orang yang beriman. Akan tetapi Allah sudah menetapkan bagi diri Nya (sebagai wujud ihsan dan anugerah dari Allah), bahwa Allah tidak akan menyesatkan, kecuali setiap orang yang mengantarkan dirinya kepada sebab-sebab kesesatan dan memalingkan dirinya dari seluruh sarana yang mengantarkan ia kepada hidayah yang diberikan Allah untuk menggapai hidayah. Dan Allah akan mendekatkan sebab-sebab hidayah dan taufiq kepada setiap orang yang bertekad untuk memenuhi perintah Allah dan seluruh taklif dari Allah.”

Perhatikanlah qudrah Allah kepada makhluqNya. Bila membolak-balikkan jari adalah sangat ringan bagi manusia, maka bagi Allah lebih mudah lagi untuk mengendalikan hati dan kehidupan kita. Tidak sulit bagi Allah untuk menjadikan seseorang itu muslim atau kafir, apalagi hanya sekedar untuk menentukan dan mengatur garis kehidupan kita yang lemah. semuanya mudah terjadi, jikalau Allah berkehendak! Ketika kita mengupayakan sebuah kebaikan, maka Allah telah berjanji kepada diriNya untuk tidak akan mengecewakan setiap orang yang telah berupaya dan memudahkan untuk meraihnya! Ketika kita memimpikan sebuah masa depan, tetapi tidak mau mengupayakannya, maka jalan-jalan untuk meretas kesuksesanpun jangan diharapkan mendekat kepada kita!

Teori-teori diatas sangat mudah diucapkan, namun sayangnya konsep ini bukan pekerjaan lisan, akan tetapi tugas hati dan akal yang bening untuk mencernanya!

Gubuk Tua Di Sudut Al Azhar, 26 April 2010

Iklan

Posted in Inspirasi | 1 Comment »

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Maret 23, 2010

Imam Syahida Hasan Al-Banna, pendiri gerakan dakwah Ikhwan yang terkenal ke seluruh dunia, banyak meninggalkan catatan penting pada sejarah perjuangan Islam modern. Ingat, kehadiran Imam Hasan bertepatan dengan hanya beberapa saat setelah hancurnya kekhalifan Islam yang terakhir. Tak pelak, setelah kepergian beliau, tak ada lagi figur dakwah yang bisa dijadikan acuan dalam gerakan Islam.

Setiap hari, dalam dakwahnya, ia berjalan kaki tidak kurang dari 20 KM. Beliau menyambangi desa-desa dan dilakukannya tanpa pamrih sedikitpun dari manusia. Ia duduk di warung kopi pada beberapa malam, menyatu dengan masyarakat yang sebenarnya, dan ia mampu mengingat nama orang yang baru saja ditemuinya walaupun hanya sekali, sehingga orang yang diajak bicara olehnya menjadi simpati.

Banyak warisan dari Imam Hasan yang sangat menggelorakan semangat dakwah Islam. Berikut ini beberapa di antaranya dari sekian wasiat-wasiatnya:

1. Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengara adzan walau bagaimanapun keadaannya.

2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.

5. Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.

6. Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.

9. Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).

10. Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan. (sa/berbagaisumber)

Posted in Inspirasi | 1 Comment »

Berbekalah…!

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Sebuah keinginan yang melekat dalam diri manusia sebagai fitrah gharizah yang Allah ciptakan sebagai ujian dan barometer ketaatan, dimana salah satu fitrah itu yaitu ingin selalu maju pada setiap sisi kehidupannya, tak terkecuali obsesinya untuk meraih kebahagiaan dunia dengan segala perhiasannya,

“Dijadikan Terasa indah dalam pandangan manusia terhadap apa yang di inginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik” (Q.S Ali Imran: 14)

Tidak ada yang salah memang, hanya yang menjadi catatan adalah proses mendapatkannya itu yang kadang sebagian orang lupa akan hakikat dirinya sendiri, ia lupa bahwa ia bukanlah makhluk tanpa khalik. Bahwa ia hidup bebas tanpa Mudabbir yang mengatur di setiap aspek kehidupan. Sadar ataupun tidak kelalaian itu diakibatkan jauhnya hati akan mengigat Allah swt. Semakin ia jauh dari mengingat Allah maka sejauh itu pula ia mendapatkan hidayah dari-Nya.

Sedikit demi sedikit ia tergelincir mengikuti jalan syaitan yang terlaknat, matanya di butakan oleh rayuan syaitan, hatinya di tutup oleh gemerlapnya dunia, telinganya seakan tak mendengar seruan Ilahi. semuanya terhijab disebabkan dirinya sendiri, dengan tidak sadar menjauhi hidayah Allah, bukan Allah yang membuat ia seperti itu, tapi manusianya sendiri yang lupa akan kewajiban dirinya.

Hidayah Allah itu sudah jelas, seterang mentari di ufuk timur, Haq itu nyata, dan Kebathilanpun nampak, jalan hidayah itu lurus menerangi setiap hamba yang raja‘ atas petunjuknya, setiap yang keluar dari manhaj itu, syaitan menjadi shahabat setia para pengikut jalan ke sesatan” na’udzubillahimindzalik.

Ketika kita melangkahkan kaki menuju sesuatu yang kita inginkan, dengan berbagai obsesi yang ada dalam benak. Semuanya begitu yakin dengan rencana yang begitu mantap di otak kita. Tapi, rasanya suatu hal yang mustahil apabila semuanya itu hanya ada dalam banyangan, melainkan semuanya harus kita raih dengan berjuang mengerahkan segenap kekuatan demi mencapai target secara tepat.

Bukanlah bekal materi yang di berikan oleh orang tua itu menjadi sebuah ukuran yang dapat menorehkan hasil dalam menuntut ilmu, tetapi azzam yang menghujam yang tertanam dalam diri, melekat di dalam hati yang akan mengantarkan kita ke puncak keberhasilan.

“Barang siapa yang menginginkan sesuatu dan berjuang pada jalannya pasti dapatla ia”
“Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, sungguh akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami”

Keikhlasan akan kondisi yang sedang di jalani merupakan keharusan dimiliki oleh pribadi para pencari ilmu. Dimana sikap; qana’ah, tawadhu, wara’, sabar, tawakal, khusyu, zuhud dan bermuhasabah atas apa yang telah di lakukan, semua itu akan menjadi faktor dimudahkannya jalan menuju apa yang di cita-citakan.

Cita-cita harus sebanding dengan pengorbanan dan getirnya perjalanan mendapatkan cita-cita itu sendiri. Allah tidak memberikannya dengan gratis dan mudah begitu saja. Tanpa perjuangan, dan pengorbanan. Sudah begitu banyak sejarah manis yang terukir dalam lembaran-lembaran kesabaran para ulama yang begitu serius dan bersungguh-sungguh tatkala mereka ada di medan perjuangan menuntut ilmu dalam rangka menegakan kalimatullah, tak sedikit dari mereka yang mengorbankan jiwa dan raganya, harta dan waktu yang ia miliki. Semuanya terekam indah dalam buku Shafahat min shabril ‘Ulama yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Guddah. Mereka para ulama begitu wara‘ menjaga adab dalam mencari ilmu, dan tak menafikan proses perjalanannya,

Teringat bagaimana perjuangan Sa’id ibn Musayyab dalam rihlahnya mencari hadits nabi, ia berkata:

“Sungguh saya melakukan perjalanan siang dan malam hanya untuk mendapatkan satu hadits Nabi”

Begitulah proses perjuangan para tabi’in dalam meneruskan estafeta perjuangan Rasulullah saw menegakan  kalimatullah agar tetap mengakar di bumi. Tak ada satupun dari mereka yang rela jika islam runtuh dan musnah di hantam oleh para Mustasyrikin (oreintalis) yang sengaja mencampuradukan agama tanpa hujjah dan dalil qat’i, mereka hanya menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati, seakan akal menjadi raja, tergulai lemah oleh nafsu syahwat dunia. Tidak memikirkan kemashlahatan ummat, mereka mengedepankan apa yang mereka tuju. Kepentingan kelompok dan pribadi. Satu tugas kita membendung pengaruh negatif ini yang sedikit demi sedikit akan mengganggu stabilitas keutuhan ukhuwah ummat islam.

Begitu indah munajat Tabi’in Sa’id ibn Jabir tatkala menengadah  kehariban Allah swt meminta karunianya,

“Allahumma inni asaluka shidquttawakkuli ‘alaika, wa husnudzanni bika..”

Satu hikmah yang ia pesankan dalam munajatnya menyimpan ghirah ruhiyah, bagaimana kekuatan tawakal yang kelak mengantarkan pemiliknya ke maqam tertinggi
Ia pun berwasiat,

“Bertawakalah atas apa yang Allah berikan, karena ia  merupakan kesempurnaan iman”

Pemandangan nan memesona dibalik kesederhanaan para ulama salafussalih dalam rihlahnya meununtut ilmu, mereka begitu menjaga adab bathiniah dengan tidak melupakan segi dzahiriah, keseimbangan diantara keduanya menjadikan seorang muslim yang kamil dengan kepribadian dan perangai yang di contohkan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam hal ini Syaikh Muhammad Ali Al-Hashimi dalam study komprehensifnya mengutarakan secara detail dalam bukunya Syakhsyiatul Muslim, bagaimana kepribadian yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Dengan semua piranti-piranti yang harus ada yang kelak akan menjadikannya sebagai seorang muslim hakiki, dimana dengan keberadaannya menjadikan suasana menjadi tentram, kehadirannya di tunggu banyak orang, pembicaraannya di dengar karena mangandung mau’idzah dan hikmah bak oase di padang tandus, membawa kehangatan dan kesejukan hati-hati yang kering.

Para pencari ilmu begitu hati-hati dengan waktu dan kondisi yang sedang ia jalani, wara‘  takut bila ada barang haram masuk ke dalam perut walaupun hanya sebiji kurma, menjaga mata bila ia lalai melihat sesuatu yang bukan haknya, ataupun kaki bukan melangkah untuk mencari keridlaan-Nya. Bahkan hati dan fikiran yang lalai akan memikirkan kekuasaan-Nya,

‘Innama yakhsyallahu min ‘ibadihil ‘ulama.
“Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama”(
Q.S Fathir : 28)

Rasa takut akan semua janji dan ancaman Allah, ia sadar bahwa semua gerak geriknya ada yang memperhatikan dan mencatatnya. Rasa takut yang kelak akan menjadikannya takut bermaksiat kepada Allah.

Hanya satu yang mereka cari, keridlaan Allah, mereka cari dalam medan juang thalabul ‘ilmi, terlena dengan nikmatnya mermunajat di hamparan ilmu Allah, mereka seakan tak ada tujuan kecuali hari dimana tiada keraguan di hati mereka, dimana harta, dan fitnah dunia tak berguna lagi.

Ada suatu Ibrah hasanah, yang dicatat langsung oleh murid Syaikh Abul Qadir dalam manaqibnya, ia bercerita tatkala Syeikh Abdul Qadir Zailani Qoddasollohu sirrohu. Akan menuntut ilmu, lalu oleh ibunya di buatkan baju yang di ketiaknya ada tempat untuk menyimpan uang, diberinya beberapa dinar oleh ibunya lalu ibunya berpesan kepada Syeikh agar selalu jujur dalam setiap kondisi apapun, lalu berpamitanlah  syeikh pada ibunya, tatkala dalam perjalanan terjadi sebuah hambatan yaitu terjadi sebuah perampokan, maka di rampoklah uang, dan harta penumpang yang ada dalam kendaraan tersebut, para penumpang ada yang tidak memberikan, malah ada yang memberontak, tetapi ketika giliran syeikh yang diminta bagiannya, maka syeikh berkata: “Tuan hanya inilah uang yang saya miliki”, dengan seraya memberikan semua uang yang ada dalam saku yang dibuatkan oleh ibunya, si perampok kaget dan terheran sejenak, karena baru kali ini ada yang dirampok memberikan uang yang di milikinya dengan sukarela, lalu seketika itu pula si perampok dan anak buahnya  meminta di jadikan pengikutnya (muridnya).

Sebuah keteladanan yang bisa dijadikan qudwah bagi kita bahwa sebuah kejujuran, keikhlasan itu merupakan sebuah bekal ketika kita mengarungi kehidupan ini, khususnya ketika kita mencari ilmu.

Manusia bisa selamat bila ia beradab
Dengan kerendahan hati manusia bisa mulia
Tapi  hanya dengan keangkuhan diri, seorang manusia bisa menjadi hina
Ketetapan (istiqamah) hati membawa ketenangan
Kelembutan hati membuat perangai menjadi indah
bila seseoramg diambil kelembutan hatinya
Maka tercabutlah kebaikannya
Hanya dengan bekal taqwa kamu bisa menjadi mulia………..!

Seorang mujahid, orang yang berjuang serta mempunyai keinginan keras, tidak mudah untuk menyerah, hidup dan mati semuanya telah di serahkan sepenuhnya kepada Allah swt, yang menggengem ruh dan jiwa. Jadi tak ada kata menyerah untuk berjuang.

Kita ingat cerita pejuang islam panglima perang Thariq ibn Ziad, membakar perahunya ketika sampai ke tepi pantai di wilayah musuh, Thariq melakukan hal itu agar para tentaranya tidak ingat ke tempat asal, memikirkan harta benda dan segala masalah keduniaan, melainkan hanya satu tujuan yaitu maju untuk menang karena apabila mundur yang ada hanya sebuah lautan yang terhampar luas, akan tetapi apabila maju melawan musuh dan berperang hingga sampai pada titik darah penghabisan balasannya tiadalain surga yang hamparannya seluas langit dan bumi.[]wallahualam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »

Cahaya Diatas Cahaya

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Cahaya ilahi itu kini hadir dalam benak setiap hamba yang ikhlas akan semua taqdir yang Allah tetapkan. Begitu mesra Allah membelai hambanya dengan kasih sayang-Nya, tidak melihat siapapun; ia hitam atau putih, raja atau budak, kaya atau miskin, semuanya dengan Rahman-Nya, Allah tebarkan rizkinya di muka bumi kepada setiap makhluknya tanpa terkecuali.

Begitu indah dunia ini, kau lihat setiap alam yang membentang luas, Allah hamparkan bumi dengan segala isinya, Allah tinggikan langit dengan tanpa penopang satupun yang menyangganya. Allah sempurnakan penciptaan dengan kalam-Nya. Dengan cahaya-Nya, hati setiap manusia bisa merasakan begitu indah dan nikmat akan hidayah yang Allah karuniakan kepada hambanya yang terpilih.

Shabat Umar Ibn Khatab yang terkenal dengan hatinya yang keras dan menentang risalah Rasulullah saw hingga ia berencana akan membunuh Nabi oleh tangan sendiri, dengan nur hidayah ilahi ia pun luluh dan khudu‘ sehingga menjadikannya sebagai shahabat Nabi yang paling setia, penghadang Rasulullah saw dari gangguan kaum musyrikin ia juga di nobatkan sebagai salah satu sahabat Nabi yang diberi kabar berita gembira sebagai ahli surga, subhanallah.

Sungguh merugi manusia yang jauh akan hidayah Allah, ia tidak merasakan nikmatnya cahaya ilahi, cahaya yang merasuk dalam lubuk hati sanubari, menembus jiwa-jiwa yang tenang, membimbing setiap yang tersesesat ke jalan yang Allah ridlai.

Nuurun ‘ala nuur
Cahaya diatas cahaya…
Menjadikan yang gelap menjadi terang, yang tersesat menjadi terarah, bagai lentera yang menerangi kegelapan malam,

Allahummaj’al fii qalbi nuuran, wafii lisanii nuuran
Waj’al fi bashari nuuran, waj’al fii sam’i nuuran
Wa min  amami nuuran, wa min khalfi nuuran
Allahumma ‘atini nuuran…

Wallahualam

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | 2 Comments »

Surat Cinta Seorang Ayah

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 1, 2009

father_and_son_bwHidup ini memang tidak bisa kita tebak dan kita bayangkan  bagaimana kisah kehidupan kita selanjutnya, hanya Allahlah yang tahu segalanya. Tapi kita selalu berfikir bahwa apa yang kita alami dan kita jalankan ini bukanlah sesuatu yang kebetulan apalagi tanpa Allah rencanakan, karena pasti dibalik itu semua ada sesuatu hikmah yang terkandung didalamnya.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Ketika saya terbangun dari mimpi, Baca entri selengkapnya »

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »

Manusia Sederhana

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 26, 2009

70597445db1b2927c7vw61

Datang dengan harapan, ia kembali menemukan apa yang telah hilang dalam jiwanya. Setelah lama ia berkelana titirah mencari sesuatu yang ada dalam hati kecilnya. Kegundahan akan hakikat hidup yang sebenarnnya. Dengan penuh rasa optimis Ia mencoba malangkahkan kaki dengan do’a kecil yang ia selipkan pada bibir keringnya; ya Allah bimbing langkah ini agar selalu ada dalam keridlaanmu.

Ia tak berpikir panjang, mulai ia melangkahkan kaki dengan sepatu ketawakalan dibalut dengan bekal keimanan yang ia miliki, membuka cakrawala diluar sana. Tuhan.. adakah keajaiban bila ku hidup tanpa materi duniawi yang ku miliki, bisa mengantarkanku ke sorga, dan kelak bisa bersua di hadapanmu?

Niat kecil untuk cita-cita besar itu ia tanam tanpa rasa pesimis, walau ia hanya berbekal satu helai baju dan celana yang ia kenakan, dengan sandal jepit hijau yang ia pakai, itupun dulu ia dapatkan hadiah dari sahabat dekatnya yang merasa simpatik dengan kondisinya, namun apa nian semuanya tidak ia hiraukan. Walau kadang penampilan kusutnya membuat orang ogah melihat, bahkan meliriknya pun orang merasa ngga kerasan.

Semuanya tak ia indahkan, ia berbuat dan berbicara dengan hatinya, apa yang ia rasakan sudah dirasa cukup menjadikan kehidupannya bahagia, rasa qanaah yang ia miliki menjadi bekal istimewa yang mengantarkan jiwanya ke dimensi terindah kehidupan.

Yang sederhana justru itulah yang paling istimewa….

Menjadikan dirinya menjadi manusia paling kaya di dunia, kesederhanaan yang ia jalani menjadi kekayaan terindah yang ia miliki, cukup hanya dirinya yang merasakan kenikmatan sejati, yang mana rasa itu tak akan pernah ada yang menikmati kecuali dirinya. Hakikat hidup yang ia maknai kadang berbeda dengan sebagian orang yang bertebaran di muka bumi ini, begitupun ia hidup bersahaja dengan perhiasan kesederhanaan, menjadi pilihan hidupnya sebagai wasilah mengantarkannya ke alam kekal dimana harta, keluarga dan jabatan tak akan bisa menolong dan memberikan syafaat kepada tuannya.wallahua’lam[]

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »

Harapan itu Masih Ada

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 26, 2009

morning_dew

Ketika kaki berhenti melangkah, diri ini seakan berontak memaksa tuk meneruskan langkah yang terhenti. Akankah manusia berputus asa dengan situasi yang sedang menerpa?

Dilematika yang sedang dihadapi seakan menusuk angan yang sedang di bangun, walau kadang diri ini rehat sejenak untuk sekedar menenangkan. Tapi apakah semua itu membuat manusia kehilangan arah untuk melanjutkan tujuan hidup yang sesungguhnya…?

Sebesar apapun derita yang dihadapi kebahagiaan selalu setia menanti……yang membuat diri ini terbelungu dengan rasa takut yang menggerogoti menjadi penyakit akut yang acap kali mengganggu kekhusyuan jiwa tuk mengabdi

Sungguh………harapan itu masih ada….tanpa terkecuali. hidup masih kita kuasai, asal kita siap dengan segala resiko yang kadang datang tanpa kita sadari. Pasti….. itu pasti. Tanpa kesiapan kita akan menjadi yang terkalahkan. Dimana harapanpun sesekali kian sirna dari pandangan mata bahkan selamanya. Wallahua’lam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »

Semangat itu Kini Datang

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 25, 2009

250px-learning_arabic_calligraphy3

Perasaan itu muncul seketika, bak air hujan yang menetes dari atap rumah membasahi halaman tandus tak bertuan. Membawa kehidupan nan indah berseri, dengan segudang harapan akan hadirnya kehidupan yang lebih baik. Memang kekuatan itu akan muncul tatkala fikiran dan hati ini bersinergi membangun benteng dan kekuatan yang kelak akan menjadikan modal awal dalam membangun ghirah cita-citanya.

Misteri jiwa ini sungguh membuat kehidupan ini semakin unik dan penuh dengan tantangan yang sesekali ingin diungkapkan dengan kasat mata. Memang secara selayang pandang dunia ini penuh dengan ketidakjelasan bila kita fikirkan dengan telaah yang hampa. Alam ini dengan ayat-ayat kauniah yang terkandung dan terhampar luas didalamnya mengisyaratkan akan sempurnannya alam ini. Allah swt menciptakan dunia ini tidak dengan sia-sia, melainkan ada berjuta makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Inilah yang sedang di alami, kini semangat itu muncul kembali membawa azzam yang tinggi demi tercapainya syumulil islam, memulai untuk memberikan setitik buah karya tangan yang penuh dengan dosa. Tatkala tangan ini berbicara karena rindu akan hangatnya sentuhan kalam ilahi berjuta ide yang menumpuk dalam fikiran ini mendobrak kebisuan diri untuk bersegera berkata lewat kata-kata dan tarian indah jari-jemari ini. Dalam kebisuan itu ku berdo’a; ya Allah bimbing tangan ini agar selalu istiqmah dalam mencurahkan isi dari hati dan fikiran ini, dengan hikmahmu ku memohon jadikan apa yang ku tulis dan ku curahkan itu semuanya ada dalam lindungan dan hidayahmu.

Hanya kerinduan yang membuat tangan ini bergerak syahdu berbicara mesra dengan bimbingan hati dan cahaya ilahi. Waktu yang tiap detik terus berputar seakan menjadi motivator terbaik dan dengan itulah diri ini mencoba untuk lantang berkata. bahwa kamu bisa.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Inspirasi | Leave a Comment »