Sabilissalam

Menapak jalan menuju Sorga

Archive for the ‘Telaah’ Category

Fenomena Akhwat Facebook-ers

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Januari 15, 2011

 

Suatu hari saat chatting YM, saat aku belum memiliki akun FB..

”Ada FB ga?”

”Ga ada. Adanya blog multiply. perempuanlangitbiru.multiply.com..”

Tak berapa lama kemudian.

”Kok foto di MPmu (multiply, red), anak kecil semuanya siih? Fotomu mana?”, tanya seorang akhwat yang baru dikenal dari forum radiopengajian.com.

”Itu semua foto keponakanku yang lucu..”, jawabku.

Suatu hari di pertemuan bulanan arisan keluarga..

“De’ kok di FBmu ga ada fotomu siih?” tanya kakak sepupu yang baru aja ngeadd FB-ku.

“Hehe.. Ntar banyak fansnya..” jawabku singkat sambil nyengir.

Suatu siang di pertemuan pekanan..

“Kak, foto yang aku tag di FB diremove ya? Kenapa kak?” tanya seorang adik yang hanya berbeda setahun dibawahku..

“He..” jawabku sambil senyum nyengir yang agak maksa.

Suatu malam di rumah seorang murid.

”FBmu apa? Saya add ya..” tanya bapak dari muridku.

Setelah add FBku sang bapak bertanya, ”Kok ga ada fotonya siih?”

Aku hanya bisa ber-hehe-ria.

Dari beberapa kejadian itu, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa yang pertama kali dilihat orang ketika meng-add FB seseorang adalah fotonya. Entahlah apa alasannya, mungkin memang ingin tahu bagaimana wajah sang pemilik akun FB, padahal kan yang di add biasanya yang sudah dikenal. Lantas jika memang sang empunya akun tidak memajang foto dirinya di FB, langsung deh jadi bahan pertanyaan, bahkan untuk seorang akhwat sekalipun.

Jika ditilik-tilik, fenomena foto akhwat yang bertebaran di dunia maya nampaknya sudah bukan barang asing lagi. Kita dengan mudah menemuinya termasuk di FB. FB yang merupakan suatu situs jejaring sosial begitu berdampak besar bagi pergaulan masyarakat dunia, pun termasuk pergaulan di dunia ikhwan akhwat.

Maraknya foto akhwat yang bertebaran di FB, membuat LDK (Lembaga Da’wah Kampus) suatu kampus ternama harus membuat peraturan yaitu tidak memperbolehkan akhwat aktivis da’wah kampus memajang foto dirinya di FB. Tentu saja banyak reaksi yang muncul dari peraturan dan kebijakan itu, mulai dari yang taat menerima dengan lapang dada sampai ada juga yang mem’bandel’. Namun apalah arti sebuah peraturan jika memang kita tidak mengetahui fungsi dan tujuannya dengan benar, dapat dipastikan peraturan hanya untuk dilanggar jika ditegakkan tanpa kepahaman.

***

Di suatu pertemuan para akhwat aktivis da’wah kampus..

”Ayolaaah, foto bareng..” rayuku sebagai fotografer ketika terheran-heran melihat seorang akhwat yang tidak mau ikut foto, menjauhi kumpulan akhwat yang siap-siap berpose.

Selidik punya selidik ternyata akhwat tersebut kapok untuk difoto karena fotonya beredar di FB padahal dia ga punya FB. Fotonya bisa beredar di FB karena teman-teman satu jurusan mengunduh foto momen bersama di FB yang tentu saja ada dirinya di dalam foto itu. Padahal saat itu, aku belum punya FB (hanya memiliki blog di multiply) dan tidak terbersit sedikit pun berniat untuk mempublish foto itu di dunia maya, yaaa hanya untuk disimpan di folder pribadiku. Foto kebersamaan dengan para saudari seperjuangan yang bisa membangkitkan semangat di saat-saat tak bersemangat, hanya dengan melihatnya.

Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata benar bahwa orang-orang termasuk akhwat sudah terbiasa berkata, ”Nanti jangan lupa di upload n di tag in di FB ya..” setelah melakukan foto bersama.

Benar saja! Di suatu kesempatan berselancar di dunia maya, di saat aku akhirnya memutuskan membuat akun FB, melihat-lihat, berkunjung ke FB para akhwat, dan ternyata benar saja foto-foto akhwat dengan mudah dilihat para pengguna FB yang telah menjadi temannya. Aku yang memiliki kepribadian idealis-pemimpi agak terkejut juga melihat hal itu, secara baru terjun di dunia perFBan.

Terkejut karena kecantikan para akhwat dengan mudah dinikmati oleh orang lain. Aku agak bingung juga harus bagaimana melihat fenomena akhwat facebook-ers. Ada kekhawatiran apakah terlalu idealisnya pikiranku yang mungkin sebenarnya mengunduh foto sudah menjadi hal yang biasa saja di kalangan para akhwat. Itulah realita yang ada. Entah apa yang melatarbelakangi para akhwat akhirnya mengunduh foto pribadinya atau bersama rekan-rekannya di FB.

Hingga akhirnya pada suatu hari, terjadilah sebuah percakapan:

”Kenapa siih yang dilarang majang foto itu cuma akhwat? Kenapa ikhwan juga ga dilarang?? Bukannya sama aja ya? Sama-sama bakalan dinikmati kecantikan atau kegantengannya kan?” tanyaku bertubi-tubi kepada seorang saudari yang sepemikiran denganku tentang fenomena foto akhwat di FB.

”Ya beda-lah.. Coba kita liat para cewek yang ngefans sama artis-artis cowok Korea, mereka cuma ngeliat cowok Korea itu sekadar suka-suka yang berlebihan.. Udaaaah, hanya sebatas suka ngeliat. Tapi kalo cowok yang ngeliat foto cewek, itu beda. Kamu tau kan kalo daya lihat para cowok itu berbeda? Ada pemikiran-pemikiran tertentu dari para cowok ketika melihat seorang cewek bahkan hanya sekadar foto.”

Hmm.. yayaya.. Memang aku pernah mendengar bahwa daya lihat seorang laki-laki itu 3 dimensi. Laki-laki bisa membayangkan dan memikirkan hal-hal yang abstrak diluar dari yang dia lihat. Bahkan katanya lagi, seorang laki-laki bisa saja memikirkan seorang perempuan tanpa berbusana hanya karena melihat seorang perempuan yang berbusana mini berlalu di hadapannya. Namun kebenaran itu belum bisa kubuktikan karena aku hanyalah seorang perempuan biasa bukan seorang laki-laki.

Pantas saja Allah memerintahkan kita untuk menahan pandangan, seperti dalam firman-NYA:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. . . . .” (QS. An-Nuur [24] : 30-31)

Ayat ini turun saat Nabi Shalallahu a’laihi wassalam pernah memalingkan muka anak pamannya, al-Fadhl bin Abbas, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita Khats’amiyah pada waktu haji. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau Shalallahu a’laihi wassalam menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”

Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa yang diperintahkan untuk menahan pandangan bukan saja laki-laki namun juga perempuan. Untuk itu, sudah seharusnya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak seharusnya kita pandang.

Lalu apa hubungannya dengan pemajangan foto di dunia maya?

Jika dulu kasus menjaga pandangan hanya karena bertemu dan bertatap langsung, namun saat ini sudah lebih canggih lagi, tanpa bertemu dan bertatap pun, godaan menahan pandangan itu tetap ada. Ya! Bisa jadi dengan banyaknya bertebaran foto akhwat di dunia maya, itulah godaan terbesar. Buat para ikhwan, harus mampu menahan pandangan di saat berselancar di dunia maya, di saat-saat kesendirian berada di depan layar komputer ataupun laptop. Kondisikan hati terpaut dengan Allah saat-saat kesendirian, jangan sampai kita menikmati foto akhwat yang bertebaran di dunia maya. Buat para akhwat, yang memang merupakan godaan terbesar bagi para ikhwan, akankah kita terus menciptakan peluang untuk membuat para ikhwan ter’paksa’ memandangi foto-foto pribadi kita?

***

Kejadian demi kejadian yang kutemukan di dunia maya begitu banyak menyadarkanku akan pentingnya seorang akhwat menjaga dirinya untuk tidak mudah mengupload foto dirinya di dunia maya.

Beberapa hari belakangan ini, ketika sedang mencari desain kebaya wisuda untuk muslimah berjilbab di mesin pencari google, diri ini dipertemukan dengan sebuah blog yang bernama ‘jilbab lovers’. Pecinta jilbab. Ya! Sesuai namanya, di blog itu berisi hampir semuanya adalah foto-foto muslimah berjilbab dengan berbagai pose. Di antara beberapa foto muslimah berjilbab itu, aku temukan 3 komentar yang mengomentari foto seorang gadis, aku akui gadis dalam foto itu sungguh cantik, memenuhi kriteria wanita cantik yang biasanya dikatakan sebagian besar orang. Beginilah kurang lebih komentar 3 orang laki-laki pada foto gadis itu dengan sedikit perubahan:

”Itu baru namanya gadis .. cantik nan islami.. sempuuuuurnaaaa… salam kenal..”

”Subhanallah ada juga makhluk Allah seperti ini ya..”

”Subhanallah..”

Jika kita lihat ke-3 komentar diatas, bisa dilihat bahwa komentarnya begitu islami dengan kata-kata Subhanallah namun juga menyiratkan bahwa sang komentator begitu menikmati kecantikan sang gadis di dalam foto. Hal ini menandakan bahwa siapapun yang melihat foto itu memang pada akhirnya akan menikmati kecantikan sang gadis berjilbab. Allahurobbi, akankah kita -para akhwat- rela jika kecantikan diri kita dapat dengan bebas dinikmati oleh orang lain yang belum halal bagi kita bahkan belum kita kenal?

Mungkin akan ada sebagian dari kita -para akhwat- yang akan menepisnya, ”Aaahh,, itu kan foto close up. Kalo foto bareng-bareng ya gpp donk?”

Hmm.. ada satu lagi yang kutemukan di dunia maya mengenai foto muslimah berjilbab. Pernah suatu hari, ketika diri ini mencari gambar kartun akhwat untuk sebuah publikasi acara LDF (Lembaga Da’wah Fakultas) di mbah google, kutemukan foto muslimah berjilbab yang sudah diedit sedemikian rupa hingga menjadi sebuah gambar porno. Memang gambar itu tidak kutemukan langsung diawal-awal halaman pencarian google, tapi berada di halaman kesekian puluh dari hasil pencarian keyword yang aku masukkan. Terlihat foto wajah sang muslimah begitu kecil (kuduga dicrop dari sebuah foto) dan dibagian bawah wajah sang muslimah berjilbab diedit dengan dipasangkan foto/gambar sesuatu yang seharusnya tidak diperlihatkan. Naudzubillahimindzalik..

Bagaimana perasaan kita jika seandainya melihat foto diri kita sendiri yang sudah diedit menjadi gambar porno dan dinikmati oleh orang banyak di dunia maya? Atau bagaimana perasaan kita jika ada kerabat dekat yang melihat foto kita yang sudah diedit sedemikian rupa menjadi gambar porno?

Semoga saja hal ini tidak menimpa diri kita. Ya Rabb,, bantu kami –para akhwat- untuk menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil teladan dari kejadian di bawah ini…

Suatu ketika, diri ini menemukan blog (multiply, red) seorang ustadz. Dalam blog itu, terlihat foto sang ustadz bersama ketiga anaknya yang masih kecil, tanpa terlihat ada istrinya. Di bawah foto itu diberi keterangan, ”mohon maaf tidak menampilkan foto istri saya..”

Dari situ aku ambil kesimpulan bahwa sang ustadz sepertinya memang tidak ingin menampilkan foto sang istri. Bisa jadi karena begitu besar cintanya terhadap sang istri, maka tak boleh ada yang menikmati kecantikan sang istri selain dirinya, begitu dijaga sekali kemuliaan istrinya. Ya Rabb, semoga kami -para akhwat- bisa menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kejadian di bawah ini…

Baru saja kemarin, di perkampungan multiply, MP, ada berita bahwa ada seorang ikhwan yang tiba-tiba minta ta’aruf dengan seorang akhwat padahal belum kenal sang akhwat dan hanya melihat foto sang akhwat di FB. Huufffhh.. ada-ada aja..

Jika diliat dari akar masalahnya mungkin berasal dari foto sang akhwat di FB, bukan begitu?

Jadi, apa yang akan kita –para akhwat- lakukan setelah ini?

***

Tulisan ini dipublish terutama ditujukan pada diri sendiri sebagai seorang akhwat serta untuk saling mengingatkan para facebookers yang lain. Semoga kita bisa menjaga kemuliaan diri kita sebagai seorang akhwat ketika berada di dunia maya.

”Kejahatan itu bukan hanya sekadar berasal dari niat seseorang untuk berbuat jahat tapi karena ada kesempatan. Waspadalah.. Waspadalah..”

Semangat bermanfaat!

Jadikan dunia maya sebagai ladang amal kita

###

Penulis bernama LhinBlue, seorang staf di biro PPSDM (Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Muslim) SALAM UI, yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Kimia FMIPA UI

Mahasiswi Kimia FMIPA UI 2006

[www.eramuslim.com}

Ke link aslinya silahkan klik disini

Iklan

Posted in Telaah | 1 Comment »

Ilmu yang Membumi; Sebuah Observasi Keilmuan Masisir

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Desember 11, 2010

Oleh: Muhammad Rakhmat Alam
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Sudah setahun kedatangan ku di negara yang merupakan kiblat ilmu keislaman. Berbagai corak dan spectrum keilmuan telah kulihat dan ada yang ku selami. Beberapa kajian masisir telah ku singgahi, sekian dars talaqqi pun telah ku geluti, muhadharah local juga sering ku masuki dan semua itu menimbulkan sebuah pemikiran dalam kepalaku bahwa ada sesuatu dengan corak keilmuan masisir???

Sebelumnya ini hanya sebuah pemikiran ku bukan pemikiran anda atau siapa-siapa. Di awal-awal penelitian, aku sedikit terkejut dengan jumlah masisir yang mencapai 3.000 lebih tapi bisa dikatakan hanya berkisar seratus orang lebih bahkan kurang dari seratus orang yang mendatangi kuliah di kampus tiap harinya. Pada kemana ribuan umat masisir ketika jadwal kuliah di universitas islam tertua dan tekemuka di dunia ini??? Batin dan kepala ku seiya bertanya. Apakah sibuk organisasi, kerja, main, tidur aku tak tahu. Dan yang paling membuat ku terkejut adalah banyak masisir yang mendapat nilai tinggi ketika ujian walau yang rosib pun tak kalah banyaknya. Subhanallah, tak pernah kuliah tapi ujian najah.

Itu baru mendatangi kampus al-azhar, belum lagi mendatangi talaqqi-talaqqi di mesjid al-azhar dan di tempat lainnya. Kurang dari 50 orang masisir yang aktif ikut talaqqi. Padahal dosen di kampus adalah tokoh intelektual al-azhar yang telah melewati jenjang akademis sampai doctoral tidak ada satu pun dosen universitas al-azhar yang baru master, semua adalah doctor bahkan banyak yang professor dan penulis aktif. Begitu juga pengajar talaqqi adalah ulama-ulama terkemuka al-azhar yang tak dikeragui lagi kapasitas keilmuan mereka. Aku kembali bertanya, apa yang terjadi dalam dinamika keilmuan masisir??? Apakah pakar-pakar fikih, ushul, tafsir, aqidah dan hadits di Indonesia yang tamatan universitas al-azhar termasuk 100 orang yang aktif kuliah dan 50 orang yang aktif talaqqi??? Atau mereka dahulunya termasuk orang yang hanya belajar sendiri berkumpul dan membuat sebuah kelompok kajian sesama teman atau seniornya??? Kalau begitu betapa cerdasnya masisir ini dan betapa hebatnya masisir yang mampu belajar lewat buku literature arab sendirian atau sesama teman tanpa guru walau dengan alat yaitu bahasa arab yang pas-pasan.

Kajian masisir vs muhadharah kampus dan talaqqi al-azhar

Seakan-akan ada kiblat keilmuan lain yang ada di cairo, mesir selain universitas al-azhar dan talaqqi oleh para ulama al-azhar. Masisir ingin menandingi keorisinalan dan keagungan keilmuan di al-azhar. Seolah menghadiri kuliah dan talaqqi hanyalah mempersempit dan membuang waktu karena dapat belajar sendiri di rumah atau membuat kelompok kajian antar mereka dan dapat membuat akal lebih kritis dan cemerlang dari sekedar hadir muhadharah dan talaqqi yang hanya mendengarkan dan sedikit bertanya bahkan mematikan akal.

Apa alasan mereka yang jarang atau tidak kuliah dan talaqqi bersama ulama azhar???

Ada yang mengatakan karena jarak rumah dengan kampus dan tempat talaqqi begitu jauh sehingga menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang. Bahkan ada yang berkata dengan gamblang bahwa keilmuan di talaqqi dan di al-azhar tidak membuat orang cerdas, kuno dan hanya membuang-buang waktu. Na’udzubillah, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu. Sudahkah mereka menggeluti kuliah dan talaqqi azhar dengan serius dan berkesinambungan??? Dan kenapa mereka tidak kuliah di universitas selain al-azhar???

Banyak kealfaan masisir dalam memahami literature arab

Tak dapat di pungkiri, banyak masisir yang lemah kemampuannya dalam mehamami literature arab bahkan orang arab sekalipun. Masisir tidak bias melulu belajar sendiri, membaca literature arab sendiri tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Bahkan masisir yang sedang proses doctoral pun banyak yang bertanya kepada para doctor al-azhar dalam membuat disertasinya, begitu juga yang sedang mengambil program master, mereka baru terasa akan pentingnya hadir muhadharah, mereka juga akan baru sadar akan kekurangan mereka dalam memahami literature arab dan mereka juga baru tau akan kedigdayaan ulama dan intelek-intelek azhar yang sungguh memukau pikiran kita serta betapa kuat asas keilmuan mereka. Karena al-azhar mengajarkan suatu ilmu tidak dengan instan, tapi berjenjang dan bertangga. Semua keilmuan di al-azhar memiliki pondasi keilmuan yang kuat dan kokoh. Baru bergerak dan maju kearah-arah ilmu yang lebih spesifik dan lebih detail yang sangat menguras energy otak. Di universitas al-azhar penjurusan lebih spesifik dan spesialisasi baru ada ketika akan masasuki post graduate. Berbeda dengan universitas di Indonesia, di strata 1 sudah memiliki jurusan tersendiri. Yang ingin membuat seorang imuwan dengan cara instan. Begitu juga Dalam proses mengajar dan belajar mahasiswa lebih aktif dari dosen dan membuat suatu proses menuntut imu lebih instan.

Sarjana al-azhar dan sarjana dari universitas islam di Indonesia dan lainnya

Kita pun bisa melihat, lulusan doctoral al-azhar dengan lulusan doctoral universitas islam di Indonesia dalam cara berfikir mereka dan cara mereka menyikapi problematika dunia islam. Para doctor alumnus universitas Indonesia akan terlihat lebih instan dalam menjawab masalah yang ada, bahkan kadang bingung untuk menjawab sehingga berfatwa dengan cara serampangan. Berbeda dengan ulama dan alumnus al-azhar yang benar-benar mengikuti manhaj azhari, dalam menjawab persoalan dunia islam mereka lebih di terima secara ilmiah dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah juga. Sarjana al-azhar dan alumnus al-azhar banyak menjadi tokoh ulama internasional dan tokoh besar dalam dunia islam. Perkataan mereka menjadi rujukan, karya mereka menjadi bahan referensi bagi seluruh universitas islam dunia, bahkan musuh al-azhar sendiri pun meminjam dan memakai intelektual dari al-azhar.

Ilmu hasil kajian dan hasil kuliah serta talaqqi

Terlepas dari manakah yang paling urgen dari mengikuti kajian intensif dan kuliah juga talaqqi, semuanya merupakan sumber untuk mendapatkan ilmu dan bermanfaat. Tapi yang perlu di tekankan di sini adalah sejauh mana hasil kajian dan kuliah dan talaqqi membentuk malakah keilmuan masisir?? Apakah keilmuan mereka membumi atau mengawang di atas awan?? Sudahkah mereka mengikuti manhaj azhari?? Mampukah mereka menjadi penerus-penerus syeikh yusuf alq-ardhawy, wahbah zuhaily, ramadhan al-bouty, ‘ali jum’ah, sya’rawy, Muhammad rasyid ridha, Muhammad abduh, quraish shihab,Mustafa ya’qub, dan alumnus al-azhar lainnya yang mampu menjadi pakar di bidang ilmu yang digelutinya. Mampukah mereka memberikan kemajuan dalam dunia islam dan pemikiran islam tanpa melenceng dan bertindak serampangan???

Dan kalau boleh jujur, kebanyakan kajian yang diadakan masisir mempermasalahkan hal-hal yang cabang, bukan subtansial, sehingga keilmuan hasil kajian mengawang. Berbeda dengan aktif dan serius dengan kuliah dan talaqqi, keilmuan yang didapatkan disini sangat fundamental dan membumi. Sehingga untuk permasalahan cabang daru suatu ilmu dapat di cerna dengan matang tidak mengawang. Dan sungguh, mengikuti kajian saja pun juga membuang-buang waktu dan umur. Karena tujuan belajar adalah membentuk suatu pola pikir ilmiah yang benar dan tersusun secara rapi. Bagaimana pola pikir ilmiah tersusun dengan rapi dan benar jika masalah-masalah yang fundamental dan asas seorang masih bingung dan ngambang.

Jadi, sebaiknya sebelum mengikuti kajian intensif perkokoh dahulu dasar dari suatu ilmu. Jangan sibuk ke sesuatu yang furu’ tapi mulai dari ushul. Agar malakah keilmuan dapat terbentuk dengan rapi, benar dan matang. Setelah itu baru dikembangkan dan di prektekkan melewati kelompok kajian agar kajian tetap membumi dan tidak mengambang dan mengawang. Wallahu a’lam.

 

Posted in Telaah | 2 Comments »

KH. Hasyim Asy’ari dan Liberalisasi Pemikiran

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada April 22, 2010

Hidayatullah.com. Thursday, 22 April 2010 11:33

Kyai Hasyim Asy’ari dikenal pembela syariat Islam. Andai beliau masih hidup, pasti berada di garda depan menolak pemikiran Liberal

Oleh: Kholili Hasib*

SUSUNAN Pengurus PBNU telah diumumkan, namun apakah sudah steril dari orang-orang liberal? Tentunya, harapan itu besar bagi umat Islam Indonesia. Sudah saatnya arus liberalisasi agama yang diusung oleh sebagian intelektual muda NU belakangan ini ditanggapi serius dan tegas. Sebab, pemikiran ‘nyeleneh’ mereka sangat jauh dari ajaran-ajaran KH. Hasyim Asy’ari –pendiri NU –  yang dikenal tegas dan tidak kompromi terhadap tradisi-tradisi batil.

Ironinya, ketokohan Kyai Hasyim tidak hanya sudah ditinggalkan, akan tetapi malah berusaha ditarik-tarik dengan mengatakan, Kyai Hasyim adalah tokoh inklusif.

“KH. Hasyim adalah tokoh moderat, menghargai keberagamaan, dan terbuka,” begitu ungkap seorang kader muda NU, dalam acara bedah  bukunya  berjudul “Hadratussyaikh; Moderasi Keumatan dan Kebangsaan” pada 13 Maret 2010 di Jombang.

Penulisnya yang juga aktivis Islam Liberal, tampaknya ingin menarik-narik bahwa pemikiran Kyai Hasyim sesuai dengan pemikiran progresif anak-anak muda NU saat ini.

Progresif dalam pemikirannya, adalah yang tak jauh dari pemikiran liberal dan inklusif. Tentu, ini sebuah kesimpulan yang  cenderung gegabah. Kesimpulannya tersebut akan membawa dampak tidak sehat terhadap organisasi NU ke depan. Sebab, ketokohan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sangat jauh dari ide-ide inklusifisme (keterbukaan) mereka. Pada zamannya, harap dicatat, Kyai Hasyim adalah tokoh sangat concern membela syari’at Islam.

Dalam konteks dinamika pemikiran progresif anak-anak muda NU seperti sekarang, cukup menarik bila kita mengkomparasikan dengan pemikiran founding father Jam’iyah NU ini.  Ada jarak yang cukup lebar ternyata antara ide-ide Kyai Hasyim dengan wacana-wacana yang dikembangkan kader-kader muda NU yang liberal itu.

Ketokohan KH. Hasyim Asy’ari yang sangat disegani, membuat orang NU ingin diakui sebagai pengikut beliau. Akan tetapi, upaya pengakuan yang dilakukan anak-anak muda liberal NU tidak dilakukan dengan mengaca pada perjuangan dan ideologi Kyai Hasyim.

Sebaliknya, pemikiran Kyai Hasyim justru secara paksa disama-samakan dengan pemikiran iklusivisme mereka. Padahal Kyai Hasyim pada zamannya terkenal sebagai ulama’ yang tegas dan tidak kompromi dengan tradisi-tradisi yang tidak memiliki dasar.

Ketegasan Kyai Hasyim

Wajah pemikiran pendiri NU ini yang paling menonjol adalah dalam pendidikan Islam, sosial politik, dan akidah. Akan tetapi pemikiran terakhir beliau ini belum banyak dielaborasi. Padahal untuk bidang keyakinan yang prinsip, beliau dikenal mengartikulasikan basicfaithnya secara ketat, tegas, dan tidak kompromi.

Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi SAW. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi.

Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram.  Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.

Dalam aspek keyakinan, Kyai Hasyim juga telah wanti-wanti warga Nadliyyin agar menjaga basic-faith dengan kokoh. Pada Muktamar ke-XI pada 9 Juni 1936, Kyai Hasyim dalam pidatonya menyampaikan nasihat-nasihat penting.  Seakan sudah mengetahui akan ada invasi Barat di masa-masa mendatang, dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Arab, beliau  mengingatkan, “Wahai kaum muslimin, di tengah-tengah kalian ada orang-orang kafir yang telah merambah ke segala penjuru negeri, maka siapkan diri kalian yang mau bangkit untuk…dan peduli membimbing umat ke jalan petunjuk.”

Dalam pidato tersebut, warga NU diingatkan untuk bersatu merapatkan diri melakukan pembelaan, saat ajaran Islam dinodai. “Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan akidah-akidah sesat”, lontar Kyai Hasyim. Untuk menghadapi tantangan tersebut, menurut Kyai Hasyim, para ulama harus meninggalkan kefanatikan pada golongan, terutama fanatik pada masalah furu’iyah. “Janganlah perbedaan itu (perbedaan furu’) kalian jadikan sebab perpecahan, pertentangan, dan permusuhan,” tegasnya.

Tegas, tidak kenal kompromi dengan tradisi-tradis batil, serta bijaksana, inilah barangkali karakter yang bisa kita tangkap dari pidato beliau tersebut. Bahkan pidato tersebut disampaikan kembali dengan isi yang sama pada Muktamar ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap masa depan warga Nadliyyin dan umat Islam Indonesia umumnya, terutama masa depan agama mereka ke depannya – yang oleh beliau telah diprediksi mengalami tantangan yang berat.

Situasi aktual yang akan dihadapi kaum muslim ke depan sudah menjadi bahan renungan Kyai Hasyim. Dalam kitab Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Dalam kitab yang sama, mbah Hasyim (demikian sering dipanggil) menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan meluber ke dalam umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad, Rafidlah yang mencaci sahabat, kelompok Ibahiyyun – yaitu kelompok sempalan sufi mulhid yang menggugurkan kewajiban bagi orang yang mencapai maqam tertentu – , dan kelompok yang mengaku-ngaku pengikut sufi beraliran wihdatul wujud, hulul, dan sebagainya.

Menurut Kyai Hasyim, term wihdatul wujud dan hulul dipahami secara keliru oleh sebagian orang. Kalaupun term itu diamalkan oleh seorang tokoh sufi dan para wali, maka maksudnya bukan penyatuan Tuhan dan manusia (manunggaling kawula).

Seorang sufi yang mengatakan “Maa fi al-Jubbah Illa Allah”, maksudnya adalah bahwa sesuatu yang ada dalam jubbah atau benda-benda lainnya di alam ini tidak akan wujud, kecuali karena kekuasaan-Nya. Artinya, menurut Kyai Hasyim, jika istilah itu dimaknai manunggaling kawula, maka beliau secara tegas menghukumi kafir.

Karakter pemikiran yang diproduk Kyai Hasyim memang terkenal berbasis pada elemen-eleman fundamental. Dalam karya-karya kitabnya, ditemukan banyak pandangan beliau yang menjurus pada penguatan basis akidah. Dalam kitabnya Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah itu misalnya, Kyai kelahiran Jombang ini menulis banyak riwayat tentang kondisi pemikiran umat pada akhir zaman.

Oleh sebab itu, Kyai Hasyim mewanti-wanti agar tidak fanatik pada golongan, yang menyebabkan perpecahan dan hilangnya wibawa kaum muslim. Jika ditemukan amalan orang lain yang memiliki dalil-dalik mu’tabarah, akan tetapi berbeda dengan amalan syafi’iyyah, maka mereka tidak boleh diperlakukan keras menentangnya. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu.

NU Tapi Liberal

Sayangnya, model pemikiran-pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tersebut tidak  menjadi kaca yang baik. Bahkan ‘kaca’ pemikiran Kyai Hasyim berusaha diburamkan sedemikian rupa, terutama oleh anak-anak muda NU yang liberal.

Punggawa-punggawa Jaringan Islam Liberal (JIL) tak sedikit berlatar belakang NU. Akan tetapi, yang diperjuangkan bukan lagi ke-NU-an sebagaimana ajaran Kyai Hasyim, melainkan pluralisme, sekularisme, kesetaraan gender, dan civil society.

Beberapa intelektual muda NU yang hanyut dalam arus liberalisme agama harus ditanggapi serius. Pemikiran anak-anak muda itu cukup membahayakan. Tidak hanya bagi NU, tapi juga keberagamaan di Indonesia secara umum.

KH. Hasyim Muzadi ketika masih menjabat ketua PBNU telah merasa gerah dengan munculnya wacana liberalisasi agama yang melanda kalangan muda NU. Beliau telah menyadari bahwa liberalisme telah menjadi tantangan di NU.

Sebab, liberalisasi agama jelas menyalahi tradisi NU, apalagi melawan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari. ”Liberalisme ini mengancam akidah dan syariah secara bertahap,” ujar KH Hasyim Muzadi seperti dikutip http://www.nuonline.com pada 7 Februari 2009.

Kekhawatiran tersebut memang perlu menjadi bahan muhasabah di kalangan warga NU. Sebab, invasi anak-anak muda tersebut pelan-pelan akan menghujam ormas Islam terbesar tersebut. Kasus Ulil yang memberanikan diri mencalonkan diri sebagai ketua PBNU dalam muktamar kemarin adalah sebuah sinyal kuat, bagaimana tokoh liberal bisa masuk bursa calon ketua. Harusnya, ada ketegasan sikap dari elit-elit NU untuk mencegah.

Padahal, KH. Hasyim Asy’ari sangat menetang ide-ide pluralisme, dan memerintahkan untuk melawan terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an, dan menentang penggunaan ra’yu mendahului nash dalam berfatwa (lihat Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah). Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Hadratusyekh mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid’ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.

Memang mestinya, nadliyyin yang liberal tidak mendapat tempat di dalam NU. Sebab, perjuangan Kyai Hasyim pada zaman dahulu adalah menerapkan syariat Islam. Untuk itulah beliau, sepulang dari belajar di Makkah mendirikan jam’iyyah Nadlatul Ulama’ – sebagai wadah perjuangan melanggengkan tradisi-tradisi Islam berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ketegasannya semoga tidak sekadar diwacanakan secara verbal. Tentu ini tidaklah cukup dibanding dengan kuatnya arus liberalisme di tubuh ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Tindakan nyata dan tegas hukumnya  fardlu ‘ain bagi para ulama’ yang memiliki otoritas dalam tubuh organisasi.

Ormas-ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari gempuran virus liberalisme. NU dan Muhammadiyah bagi muslim Indonesia adalah dua kekuatan yang perlu terus di-backup. Jika dua kekuatan ini lemah, tradisi keislaman Indonesia pun bisa punah. Maka, andai Kyai Hasyim hidup saat ini, beliau pasti akan berada di garda depan menolak pemikiran Liberal.[www.hidayatullah.com]

*)Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor – Ponorogo

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Maret 27, 2010

Eramuslim, Rabu, 24/03/2010 11:14 WIB

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk “Kepada Saudariku Para Muslimah”;

Ditengah serangan Israel ke Libanon dan “perang melawan teror” yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.

Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan

Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.

Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !

Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !. (ln/iol)

Ke link aslinya silahkan klik disini

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Prof. Dr. M. Amien Rais: Pluralisme Kebablasan!

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Maret 27, 2010

“Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Tidak ada gunanya shalat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan”

Hidayatullah. com—Pluralisme agama masih menjadi sesuatu yang menarik diperdebatkan. Pluralisme, yang berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, lantas dipahami bahwa semua agama adalah sama. Pendapat ini kemudian ditolak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan kalangan Islam lain. Tapi apa yang salah dengan Pluralisme Agama? “Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus,” ujar Prof Dr Amien Rais.

Baca pikiran Pluralisme Agama oleh Amien Rais. Wawancara ini dikutip dari Majalah Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Edisi Maret 2010.

Apa pendapat Anda mengenai aliran pluralisme?

Akhir-akhir ini saya melihat istilah pluralisme yang sesungguhnya indah dan anggun justru telah ditafsirkan secara kebablasan. Sesungguhnya toleransi dan kemajemukan telah diajarkan secara baku dalam Al-Quran. Memang Al-Quran mengatakan hanya agama Islam yang diakui di sisi Allah, namun koeksistensi atau hidup berdampingan secara damai antar-umat beragama juga sangat jelas diajarkan melalui ayat, lakum diinukum waliyadin” (Bagiku agamaku dan bagimu agamamu). Dalam istilah yang lebih teknis, wishfull coexistent among religions, atau hidup berdamai antarumat beragama di muka bumi.

Adakah yang keliru dari aliran pluralisme?

Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati pluralisme. Karena tarikh Nabi sendiri itu juga penuh ajaran toleransi antarberagama. Malahan antar-umat beragama boleh melakukan kemitraan di dalam peperangan sekalipun. Banyak peristiwa di zaman Nabi ketika umat Nasrani bergabung dengan tentara Islam untuk menghalau musuh yang akan menyerang Madinah.

Jadi apa yang dibablaskan?

Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus itu menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada dasarnya mereka mengatakan agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap agama itu mencintai kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk memegang moral yang jelas dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang muslim sudah mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya shalat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya.

Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa “semua agama sama saja” diterima oleh kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi shalat, tidak perlu lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai dan terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini, akhirnya mereka bisa bergonta-ganti agama dengan mudah, seperti bergonta-ganti celana dalam atau kaos kaki.

Apakah kebablasan pluralisme karena faktor kesengajaan atau rekayasa?

Saya kira jelas sekali adanya think tank atau dapur-dapur pemikiran yang sangat tidak suka kepada agama Allah, kemudian membuat bualan yang kedengarannya enak di kuping: semua agama itu sama. Jika agama itu sama, lantas apa gunanya ada masjid, ada gereja, ada kelenteng, ada vihara, ada sinagog, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan think-tank ?

Saya yakin think tank itu ada di negara-negara maju yang punya dana berlebih, punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan ghazwul fikri (perang intelektual terhadap dunia Islam). Misalnya, kepada dunia Islam ditawarkan paham lâ diniyah sekularisme yang menganggap agama tidak penting, termasuk di dalamnya pluralisme, yang kelihatannya indah, tapi ujung-ujungnya adalah ingin menipiskan akidah Islam supaya kemudian kaum muslim tidak mempunyai fokus lagi. Bayangkan kalau intelektual generasi muda Islam sudah tipis imannya, selangkah lagi akan menjadi manusia sekuler, bahkan tidak mustahil mereka menjadi pembenci agamanya sendiri.

Sepertinya aliran pluralisme itu sudah masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, pendapat Anda?

Kalau sampai aliran pluralisme masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, ini musibah yang perlu diratapi. Oleh karena itu, saya menganjurkan sebelum mereka membaca buku-buku profesor dari Amerika dan Eropa, bacalah Al-Quran terlebih dahulu. Saya sendiri yang sudah tua begini, 66 tahun, sebelum saya membaca buku-buku Barat, baca Al-Quran dulu. Karena orang yang sudah baca Al-Quran, dia akan sampai pada kesimpulan bahwa berbagai ideologi yang ditawarkan oleh manusia seperti mainan anak-anak yang tidak berbobot. Jika meminjam istilah Sayyid Quthb, seorang yang duduk di bawah perlindungan Al-Quran ibarat sedang duduk di bukit yang tinggi, kemudian melihat anak-anak sedang bermain-main dengan mainannya. Orang yang sudah paham Al-Quran akan bisa merasakan bahwa ideologi yang sifatnya man-made, buatan manusia, itu hanya lucu-lucuan saja. Hanya menghibur diri sesaat, untuk memenuhi kehausan intelektual ala kadarnya. Setelah itu bingung lagi.

Kenapa paham pluralisme itu bisa masuk ke kalangan muda Muhammadiyah? Apa karena Muhammadiyah terlalu terbuka atau karena tidak adanya sistem kaderisasi?

Hal ini perlu dipikirkan oleh pimpinan Muhammadiyah. Saya melihat, banyak kalangan muda Muhammadiyah yang sudah eksodus. Kadang-kadang masuk ke gerakan fundamentalisme, tapi juga tidak sedikit yang masuk Islam Liberal. Islam yang sudah melacurkan prinsipnya dengan berbagai nilai-nilai luar Islam. Hanya karena latah. Karena ingin mendapatkan ridho manusia, bukan ridho Ilahi. Oleh karena itu, lewat majalah Tabligh, saya ingin mengimbau kepada anak-anak saya, calon-calon intelektual Muhammadiyah, baik putra maupun putri, agar menjadikan Al-Quran sebagai rujukan baku . Saya pernah tinggal di Mesir selama satu tahun. Saya pernah diberitahu oleh doktor Muhammad Bahi, seorang intelektual Ikhwan, ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau, beliau mengatakan, “Hei kamu anak muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari.” Waktu itu saya agak tersodok juga, tetapi setelah saya pikirkan, memang betul. Kalau Al-Quran sebagai wahyu ilahi yang betul-betul membawa kita kepada keselamatan dunia-akhirat, kita baca, kita hayati, kita implementasikan, kehidupan kita akan terang benderang. Tapi kalau pegangan kita pada Al-Quran itu setengah hati. Kemudian dikombinasikan dengan sekularisme, dengan pluralisme tanpa batas, dengan eksistensialisme, bahkan dengan hedonisme, maka kehidupan kita akan rusak. Sehingga betul seperti kata pendiri Muhammadiyah dalam sebuah ceramah beliau, “Ad-dâ’u musyârokatullâ hi fii jabarûtih”. Namanya penyakit sosial, politik, hukum, dan lain-lain, itu sejatinya bersumber kepada menyekutukan Allah dalam hal kekuasaannya. Obatnya bukan menambah penyakit, yakni dengan isme-isme yang kebablasan, tapi obatnya itu, “adwâ’uhâ tauhîddullâhi haqqa”. Obatnya adalah tauhid dengan sungguh-sungguh. Jadi, saya juga ingat dengan kata-kata Mohammad Iqbal: “The sign of a kafir is that he is lost in the horizons. The sign of a Mukmin is that the horizons are lost in him.” Saya pernah termenung beberapa hari setelah membaca pernyataan Mohammad Iqbal yang sangat tajam itu. Karena betapa seorang mukmin akan begitu jelas, begitu paham, begitu terang benderang memahami persoalan dunia. Sedangkan orang kafir, bingung dan tersesat.

Sepertinya Muhamadiyah mulai terseret arus pluralisme, contohnya pada saat peluncuran novel Si Anak Kampoeng. Penulisnya mengatakan, sebagian dari keuntungan penjualan akan digunakan untuk membentuk Gerakan Peduli Pluralisme, pandangan Anda?

Saya tidak akan mengomentari apa dan siapa. Cuma adik saya yang anggota PP Muhammadiyah, pernah memberikan sedikit kriteria atau ukuran yang sangat bagus. Dia bilang begini, “Kalau orang Muhammadiyah sudah tidak pernah bicara tauhid dan malah bicara hal-hal di luar tauhid, apalagi kesengsem dengan pluralisme, maka perlu melakukan koreksi diri.” Apakah itu tukang sapu di kantor Muhammadiyah, apakah tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah profesor botak, sama saja. Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau dikemanakan Muhammadiyah? Muhammadiyah ini bisa bertahan sampai satu abad, tetap kuat, tidak pikun, dan masih segar, karena tauhidnya. Implementasi tauhidnya di bidang sosial, pendidikan, hukum, politik, itu yang menjadikan Muhammadiyah perkasa dan tidak terbawa arus. [www.hidayatullah. com]

Ke link aslinya silahkan klik disini

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Kasih Sayang yang Tergadaikan

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 14, 2010

Bulan ini, bagi sebagian orang merupakan moment yang sangat bersejarah, tidak terkecuali bagi mereka yang mempunyai pasangan pemuja cinta syaithani, entah mengapa saya menjadi tergelitik untuk sedikit mengomentari perayaan menyesatkan ini, tidak terlepas dari keprihatinan melihat bagaimana fenomena yang terjadi di masyarakat menjadikan perayaan ini sebuah agenda rutin yang harus di gelar dan di masyarakatkan setiap tahunnya.

Satu dampak yang sangat fatal adalah ketika masyarakat awwam yang tidak tahu apa-apa ikut serta dalam pesta kaum tersesat ini, membuat mata mereka tertutup karena begitu glamour acara yang mereka kemas, sehingga muda-mudi begitu antusias menyambut datangnya hari valentine’s day ini. Tanggal 14 februari sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia, entah kasih sayang mana yang mereka maksudkan. Di sisi lain pelopornya tiada lain adalah seorang pendeta nashrani yang berkorban mati, sehingga kelak dengannya menjadikan hari kematiaanya mereka kenang sebagai hari kasih sayang.

Saya akan kutip latar belakang sejarah digelarnya acara paganiseme ini sehingga menjadi sebuah ideologi di kalangan masyarakat khususnya pemeluk Nashrani, saya copy paste dari Majalah Qiblati Edisi 6 Tahun 2 dengan tambahan dari berbagai sumber.

Sejarah Valentine’S Day
Hari Valentine berasal dari masa jahiliyah Romawi kuno. Pada tanggal 13-18 Februari mereka mengadakan ritual penyucian, yang diantara rangkaiannya adalah Perayaan Lupercalia. Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan laki-laki. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Konon, menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya. Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Namun dalam kaitannya dengan acara valentine’s day, banyak pula orang mengkaitkan dengan St. Valentine yang lain. St. Valentine ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Iapun dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai valentine’s day atau Hari Kasih Sayang.

Setelah melihat sekilas history yang menjadi asas di selenggarakannya perayaan ini, ada satu hal yang membuat kening saya mengerut. Ketika saya membaca buku “Nihayatul Alam”Asyratussa’ah assugra walqubra, yang di tulis Ulama Sau’di, beliau adalah guru besar aqidah dan perbandingan agama Universitas Raja Saud Riyad, DR. Muhammad Ibn Abdurrahman Al-Arifi, dari 131 tanda-tanda kiamat yang beliau utarakan secara lengkap sesuai dalil al-quran dan as-sunnah, bacaan saya terhenti pada tanda-tanda kiamat ke 18 dimana sa’ah (hari kiamat) itu tidak akan terjadi, sebelum nampak ummat akhir zaman mengikuti sunnah-sunnah ummat terdahulu. Entah mengapa sejenak fikiran saya langsung tertuju kepada perayaan valentine’ day, dimana bulan ini akan segera di gelar, sekilas saya melihat berita di berbagai media elektronik termasuk media Nasional yang secara terang-terangan menyerukan perayaan ini secara masal, mengajak segenap masyarakat, termasuk para remaja yang masih polos untuk merayakannya. Akhirnya mereka merasa terfasilitasi dan merasa nyaman dengan perayaan sesat ini, terkesan ada sebuah legitimasi khusus untuk masyarakat yang akan merayakannya. Memang kalau kita analisa seksama ada hidden agenda dibalik perayaan valentine’s day ini, sehingga menciptakan sebuah paradigma yang mengarah ke penjerumusan aqidah, yang berakibat resahnya sebagian orangtua dikarenakan anak-anak mereka yang keluar malam tanpa izin menggadeng pacarnya untuk pesta bersama. Na’udzubillahi min dzalik

Miris mendengarnya, bagaimana nasib ummat kedepan bila para remaja sebagai ujung tombak kebangkitan di hantam fitnah yang begitu besar tanpa ada yang meluruskan dengan arahan syar’i, sehingga ia sadar akan posisinya sebagai seorang muslim yang faham akan aqidah dan akhlak Rasulullah saw.

Keterasingan ummat akan aqidah yang lurus menjadikan mereka “dengan terpaksa” mengikuti kebiasaan ummat terdahulu. Seakan mereka terjangkit penyakit latah, gengsi bila tidak ikut-ikutan, atau dorongan pacarnya sehingga ia tergulai lemah karena ancaman yang membuatnya harus menuruti keinginannya. Entah motif apa yang mereka sandarkan, Ngak ngetrend, ngak gaul atau apalah itu namanya semuanya seakan melebur dengan alam dan masa, manusia dipaksa untuk patuh akan perubahan zaman, rela menggadaikan keimanan hanya dengan sebuah kasih sayang buta.  Padahal sudah jelas rambu-rambu islam yang telah di gariskan, tidak ada sedikitpun keraguan bahwa al-quran dan as-sunnah menjadi kontrol stabilitas keutuhan ummat, selama keduanya dijadikan sebagai landasan dan pondasi keimanan, maka tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al-Isra’ : 36).

Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia inginkan. Syahwat Allah ciptakan dengan tabiatnya yang selalu ingin puas, tak merasa cukup dengan apa yang sedang ia rasakan, begitulah nafsu dan akal, perlu pengarah yang kelak dapat menuntunya ke jalan yang telah di tetapkan. Tak bisa ia berjalan sendiri, karena kadang ada sesuatu yang tidak bisa di jangkau oleh intuisi manusia, disinilah fungsi agama sebagai pembimbing manusia menuju keshalihan individu yang kelak akan mengantarkannya kepada kesalehan jama’i

14 abad yang lalu baginda Rasulullah saw, mewasiatkan bahwa akan datang suatu masa dimana fitnah yang sangat besar akan menimpa kaum muslimin.  Yaitu fitnah taqlid orang-orang bodoh yang tidak berpengatahuan, mereka dengan bangganya menyerupai kebiasaan dan akhlaq Yahudi dan Nashrani atau selain dari mereka dari golongan orang-orang kafir. Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh shahabat Abi Sa’id Al-Khudry r.a. Bahwa Rasulullah saw bersabda;
“Kelak kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…”

Imam Qadi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tentang kalimat, “Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam liang biawak maka kalian akan mengikutinya…” bahwa hal ini menyiratkan kecendurangan mereka menyerupai dengan meniru dan mengikuti jejak kebiasaan mereka, sehingga dengan tidak sadar mereka terjerumus ke lembah kenistaan.

Hal itu semua sesuai dengan fakta yang sedang kita alami sekarang dimana proses akulturasi sedang melanda ummat islam, pemeluknya merasa enggan memperlihatkan identitasnya sebagai muslim, malah mereka seakan bangga membawa adat jahili di amalkan dalam ke seharian mereka. Padahal Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”

Mudah-mudahan dengan kesadaran dan pemahaman kita yang terus kita gali menambah keimanan dan rasa cinta kita kepada islam, dengan mengikuti sunnah yang telah di contohkan langsung oleh qudwah kita Baginda Besar Rasulullah saw. Dengan setia menjalankan dan mengamalkan ajarannya mudah-mudahan kita dijadikan ummatnya yang mendapatkan syafaatnya di yaumul qiyamah, amin. Walaupun rintangan menghadang terus berdatangan silih berganti, kita berdo’a semoga kita tetap diberikan keistiqmahan dalam memegang tali agama. insyaAllah.[]wallahu alam.

-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Dunia, Genggam oleh Tangan Kita

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Februari 12, 2010

Mengawali bahtera kehidupan ini perlu ada kesiapan dan perencanaan yang matang, hidup bukan hanya sekedar menumpang makan tapi ada sebuah tugas yang lebih mulia dibalik itu semua. Manusia diciptakan menjadi khalifah fil ardli, sudah menjadi tugas awal manusia harus mengurus dan memakmurkan bumi bukan manusia sebagai perusak dan penikmat bumi dengan mengeksplorasi kekayaan alam  tanpa memperhatikan kemanfaatan dan kemadharatannya.

Dengan berbagai konsekwensi yang kelak akan dihadapi, sebagai bahan pembelajaran dan menjadi tonggak awal meraih kemuliaan. Setiap manusia itu pasti akan diuji, segalanya; keimanan, jiwa raga. Itu merupakan ujian yang Allah berikan. Dan Allah pasti akan menguji hamba-hambanya dengan berbagai ujian dan cobaan; kegelisahan, ketakutan, kekurangan harta, jiwa. itu merupakan ujian dan cobaan. Dengan ujian seorang manusia akan dinaikan derajatnya sesuai dengan seberapa besar ia sabar dalam proses pengujian terseebut.

wasta’inu bishabri waashalah”

Dan mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
Sungguh semua perkara orang mukmin itu baik, sekiranya ia ditimpa musibah dan bencana ia bersabar dan bila ia diberi kenikmatan ia bersyukur. Bagai dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan semuanya merupakan kebaikan. Sabar sebagai kondisi terbaik yang apabila dilalui dengan istiqamah kelak Allah akan memberikan pahala tak terbatas. Dan pahala itu hanya diberikan untuk orang yang bersabar. Shalat sebagai washilah “alat” yang terbaik untuk menghadapi berbagai kondisi yang sedang dihadapi, bersahaja orang yang bertawakal dengan ikhtiar, sabar dan shalat. begitu indah melihat panorama orang mukmin dalam menghadapi getirnya hiruk pikuk dunia.

Rasulullah pernah bersabda,
“jadikan akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu”
Kenapa……terlalu naïf jika dunia dijadikan dihati. Jika saja dunia ini berharga niscaya orang musyrik oleh Allah tak akan diberi nikmat dunia sedikitpun, walaupun itu sebesar sayap nyamuk. dunia bila disimpan di hati kelak akan  menjadi pemuja dan pecinta dunia. Sakit hati yang akan dirasa, karena kita akan terbebani oleh urusan dunia.

Capek menjadi hamba dunia……..karena dunia akan meninggalkan kita. Sedangkan akhirat akan kekal bersama.  Dalam perjalanan hidup, seringkali kita melihat berbagai fenomena yang tidak sengaja kita perhatikan, tapi apakah kita sadar bahwa itu semua merupakan metode pengajaran Tuhan kepada hambanya…………?.tidak mungkin itu semua bergulir begitu saja tanpa arti dan makna yang terkandung didalamnya.
“wama khalaqta hadza bathila……subhanaka faqina ‘adzabannar..”.
wallahualam
-Ahmad Ridla Syahida-

Posted in Telaah | Leave a Comment »

Menyingkap Rahasia Sungai Nil

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Agustus 5, 2009

3137860888_a54b2f5360_oOleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati, MA.

Pendahuluan

‘Apabila tidak ada Nil, maka tidak ada Mesir’. Ungkapan ini, hemat penulis, tidak sepenuhnya salah. Ungkapan ini hendak menggambarkan betapa Mesir sangat bergantung dengan Nil. Hampir seluruh kehidupan Mesir, bersumber dari Sungai Nil. Ini juga barangkali, di antara factor mengapa ketika disebut Nil, maka yang terlintas adalah Mesir, tidak Negara-negara lainnya (padahal Negara-negara yang dilalui Nil mencapai sembilan Negara).

Keberadaan Nil, sebenarnya bukan semata dari segi sumber kehidupan masyarakat Mesir semata, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu. Sungai Nil merupakan di antara sungai ‘suci’ tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani.

Bagi Yahudi, Sungai Nil adalah sungai sangat bersejarah, karena Nabiyullah Musa as ketika masih bayi merah dihanyutkan oleh ibunya yang bernama Nyukabad ke sungai Nil. Bagi agama Islam dan Kristen pun demikian. Karena sosok sayyidina Musa as, merupakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam dua agama dimaksud sekalipun.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Telaah | 2 Comments »

Ketika Fatimah Menanggalkan Pakaian Kesombongan

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Juni 28, 2009

Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra dapat saja hidup dengan mudah dan harta yang berlimpah. Karena mereka adalah putri dan menantu Nabi Muhammad SAW. Namun hal itu tidak pernah mereka lakukan.

Ada sebuah kisah mengenai suatu hari dimana Rasulullah datang mengunjungi Fatimah, dan mencari cucu-cucunya. Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan,’Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.”

Rasulullah kemudian menyusulnya dan melihat kedua cucunya sedang memainkan sisa kurma. Rasul bertanya, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh kedua anakku ini pulang sebelum mereka kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yang kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, sampai aku mengumpulkan buah untuk Fatimah?”

Begitulah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib, pejuang Islam yang perkasa. Ia tak segan menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul cukup untuk ia dan keluarganya, ia pun kembali ke rumah.

Pernah satu hari, menurut cerita Imran bin Hushain, Fatimah muncul di depan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mendekatlah Fatimah.”

Setelah itu beliau berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.“

Imran bersaksi, “Darah tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.” Baca entri selengkapnya »

Posted in Telaah | 1 Comment »

Kisah Nabi Yusuf dan Siti Maryam di Abad Modern

Posted by Ahmad Ridla Syahida pada Mei 3, 2009

409696673_78fde0091f1“Kami ceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”.

(QS. 12:3)

Nabi Yusuf as dan siti Mariam adalah potret hamba Allah yang shaleh dan taat, dimana Al-qur’an sebagai wahyu, yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai mujizat sekaligus hujjah bagi dakwah risalah nubuwwah. sebagian kandungan Al-Quran menceritakakan kisah hamba Allah yang shaleh sebelum datang kenabian Nabi Muhammad saw, yang mana Allah sengaja menceritakannya agar kisah tersebut dapat diambil hikmah dan di jadikan ibrah bagi generasi pasca kenabian Nabi Muhammad saw.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.

(QS. 12:111)

Di dalam kisah Nabi Yusuf as ini, Allah swt memperlihatkan  balasan yang baik dari pada buah kesabaran. Kita bisa lihat bagaimana Allah menguji Nabi Ya’qub as dengan kehilangan putranya Yusuf as dan penglihatannya. Dengan itu Allah menguji ketabahan dan kesabaran Yusuf as dengan dipisahkan dari kedua orang tuanya, dibuang kedalam sumur dan di perdagangkan sebagai budak, kemudian Allah menguji keimanannya dengan godaan wanita cantik lagi bangsawan dan akhirnya di masukan kedalam penjara. Baca entri selengkapnya »

Posted in Hikmah, Telaah | 1 Comment »